Tidak ada jawaban. Hanya tatapan. Tatapan yang penuh amarah, kekecewaan, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat dadaku terasa sesak. “Bangun,” desisnya. Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala, namun kekuatannya lebih tajam dari mata pisau mana pun. Aku merasa merinding hingga ke tulang belakang, menyadari bahwa kehadirannya di sini bukanlah untuk memberikan pelukan hangat. “Bu… aku baru saja dari rumah sakit. Aku benar-benar tidak enak badan...” “AKU BILANG BANGUN, NADINE! JANGAN BERANI-BERANI KAU MEMBANTAHKU!” Suaranya meledak, mengguncang seluruh ruangan. Sebelum aku sempat bereaksi, selimutku sudah ditarik kasar hingga jatuh ke lantai. Tangannya mencengkeram bahuku, kuku-kukunya menekan kulitku dengan kasar. Aku meringis. “Sakit, Bu…” lirihku, air mata mulai menggenang dipelupuk mata, "...lepaskan aku." “Sakit?” ia tertawa, tapi tidak ada kehangatan di sana. “Kau bilang ini sakit?” Dorongannya membuat tubuhku terhuyung ke
Read more