Dingin. Bukan sekadar dinginnya udara malam, melainkan sensasi ganjil yang merayap naik dari pangkal tulang belakang Kukuh. Angin di dalam ruangan temaram itu seolah berhenti mengalir, menyisakan hawa kematian yang luar biasa pekat, menekan lurus, dan membebani punggungnya bak batu nisan.Kukuh menahan napas saat jari-jari Mbah Jo Menggok menyentuh kulit tengkuknya. Rasanya seperti ditempelkan pada balok es yang baru saja diangkat dari dasar sumur tua. Ada sesuatu yang basah, lengket, dan menjijikkan yang disapukan ke kulitnya. Aroma sangit arang yang terbakar bercampur bau anyir seperti liur bangkai yang dibiarkan membusuk seketika menginvasi rongga hidung, membuat perut Kukuh bergejolak hebat.Cairan hitam itu bukan sekadar noda. Begitu dioleskan, Kukuh merasakan ada sesuatu yang "hidup" di dalamnya. Sesuatu yang sangat kotor, purba, dan sarat akan niat jahat, yang memaksa masuk merobek pori-pori kulitnya. Energi itu merayap layaknya ribuan kelabang kecil tak kasatmata, berusaha men
Last Updated : 2026-04-28 Read more