INICIAR SESIÓNDimensi itu sunyi.Tidak ada suara api. Tidak ada suara tinju. Tidak ada suara tanah yang meleleh atau udara yang bergetar oleh panas. Hanya keheningan. Keheningan yang begitu total sehingga terdengar seperti sesuatu yang hidup.Bhanu berlutut di tanah hitam.Kedua lututnya menyentuh permukaan yang masih hangat oleh sisa-sisa api yang tadi menyala di seluruh tubuhnya. Tangannya mencengkeram tanah. Jari-jarinya masuk ke dalam celah-celah retakan. Dan di matanya, api yang selama ini menyala tanpa henti kini berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti lilin yang kehabisan sumbu."Tidak..."Satu kata. Keluar dari bibir Bhanu seperti uap yang menguap dari permukaan air panas. Pelan. Nyaris tidak terdengar. Tapi di keheningan dimensi itu, satu kata itu terdengar seperti teriakan."...nenekku tidak mungkin..."Bhanu mengangkat wajahnya. Menatap Resti. Menatap gulungan tua yang masih terangkat di tangan saudarinya. Menatap tulisan tangan yang sudah ia kenali sejak kecil. Tulisan yang sama dengan yang
Kukuh masih terbaring di tanah hitam.Darah mengalir dari pelipisnya. Napasnya tersengal. Dan di kepalanya, kata-kata Bhanu masih bergema. Berputar. Menusuk.Wiratama yang membunuh nenekku.Ayahmu yang menghancurkannya.Kukuh mencoba bangun. Lengannya gemetar. Kakinya tidak mau bekerja. Dan di dadanya, liontin kamboja berdenyut. Lemah. Tidak stabil. Seperti jantung yang kehilangan ritmenya."Kuh." Suara Resti dari belakang. Pelan. Bergetar. "Kuh, jangan dengarkan dia."Kukuh tidak menjawab. Tidak bisa. Karena untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di dimensi ini, ia tidak tahu harus percaya yang mana.Bhanu berdiri di atasnya. Menatap ke bawah. Api di tubuhnya masih menyala. Tapi matanya berbeda sekarang. Bukan lagi mata seseorang yang yakin. Mata seseorang yang sedang menunggu. Menunggu Kukuh membantah. Menunggu Kukuh membuktikan bahwa semua yang ia percaya adalah kebohongan.Tapi Kukuh tidak membantah.Karena Kukuh tidak tahu."Kau tidak bisa menjawab," ucap Bhanu. Suarany
Tinju Bhanu menghantam tulang rusuk Kukuh.Suara tulang berderak. Kukuh terlempar. Punggungnya menghantam tanah hitam. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tiga tulang rusuk retak. Mungkin patah. Sulit membedakan di tengah rasa sakit yang memenuhi seluruh tubuhnya.Tiga detik. Luka itu menutup. Tulang itu menyambung kembali. Tapi lebih lambat dari sebelumnya. Jauh lebih lambat. Energi Rajah Getih-nya sudah berkurang. Setiap regenerasi memakan sebagian dari dirinya. Dan ia sudah terlalu banyak beregenerasi.Bhanu tidak memberi waktu. Sudah bergerak. Sudah di atasnya. Tinju kedua menghantam wajah Kukuh. Ketiga. Keempat. Beruntun. Tanpa jeda. Setiap tinju dibungkus api. Setiap api membakar sedikit lagi dari kulit Kukuh.Kukuh menahan. Mengangkat lengannya. Menyerap sebanyak yang ia bisa. Tapi api Bhanu terlalu cepat. Terlalu banyak. Regenerasinya tidak bisa mengimbangi."KAU PIKIR KAU BISA MENANG?!"Bhanu berteriak. Bukan karena kesakitan. Bukan karena frustrasi. Karena sesuatu yang sudah
Tinju pertama menghantam dada Kukuh.Bukan tinju biasa. Tinju yang dibungkus api. Merah tua. Berdenyut. Panasnya menembus kemeja. Menembus kulit. Menembus tulang rusuk. Kukuh terlempar tiga meter. Punggungnya menghantam tanah hitam dimensi itu. Tanah di bawah punggungnya mendesis. Meleleh.Kukuh bangun. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Luka bakar di dadanya berdenyut. Merah. Dalam. Dagingnya mendesis.Tiga detik kemudian, luka itu menutup.Bukan perlahan. Cepat. Sangat cepat. Ukiran Rajah Getih di seluruh tubuhnya berpendar. Merah tua. Dalam. Dan daging yang terbakar itu tumbuh kembali. Kulit yang hangus itu mengelupas, digantikan oleh kulit baru. Dalam tiga detik, dada Kukuh kembali utuh.Regenerasi."Satu," ucap Bhanu. Suaranya datar. Menghitung. "Kau punya berapa nyawa, Kukuh?"Kukuh tidak menjawab. Mengepalkan tangannya. Dan menyerang.Tinju Kukuh menghantam rahang Bhanu. Keras. Telak. Suara tulang berderak terdengar di seluruh dimensi. Bhanu terdorong satu langkah. Darah menga
"Kuh, jangan."Suara Ratih terdengar dari belakang. Pelan. Bergetar. Tapi tidak berteriak. Tidak memohon. Hanya satu kata yang diucapkan dengan seluruh berat yang bisa ditanggung oleh satu kata.Kukuh tidak menoleh."Mas," suara Manager Pratiwi menyusul. Serak. Lelah. Tapi tetap stabil. "Mas tidak harus melakukannya sendiri."Kukuh tetap tidak menoleh."Kukuh." Kyai Agus. Suaranya berat. Penuh peringatan. "Bhanu sudah menembus dindingku. Rantai Bima tidak bisa menahannya. Pelet Ratih tidak mempan. Kalau kau maju sendiri.....""Aku tahu, Kyai."Kukuh melangkah. Satu langkah. Ke depan. Meninggalkan formasi. Meninggalkan dinding besi yang sudah setengah meleleh. Meninggalkan rantai emas yang sudah patah. Meninggalkan kabut pelet yang sudah menguap.Langkah kedua."Kuh!" Dokter Adhi berteriak dari belakang. "Rajah Geni-nya seratus persen! Api itu akan membakarmu dari dalam!"Kukuh tidak berhenti.Langkah ketiga."KAKAK!" Resti berteriak. Bukan pada Kukuh. Pada Bhanu. Suaranya pecah. Untuk
"Kyai, berapa lama lagi dinding itu bisa bertahan?""Tiga menit. Mungkin empat.""Kita tidak punya empat menit.""Kalau begitu kita buat empat menit."Kyai Agus Sapto Joyo mengertakkan giginya. Tongkat besi di tangannya bergetar. Urat di lengannya menonjol. Ukiran Rajah Wesi di kulitnya berpendar lebih terang, menahan gelombang api Bhanu yang terus menghantam dinding besi cair di depan mereka.Tapi dinding itu retak.Satu retakan. Dua retakan. Tiga. Merambat seperti jaring laba-laba di permukaan baja. Dan dari celah retakan itu, api merah tua merembes masuk. Menetes. Membakar tanah hitam di bawah kaki mereka."KYAI!" teriak Bima dari sisi kanan. "Dindingmu bocor!""Aku tahu!" Kyai Agus menggeser tongkatnya. Menambal retakan dengan energi baru. Tapi setiap kali ia menambal satu retakan, dua retakan baru muncul di tempat lain. "Api ini berbeda! Ini bukan api biasa! Ini api yang sama dengan.....""Dengan yang membunuh nenekku," potong Resti dari belakang. Suaranya datar. Tapi tangannya g
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber







