Retakan itu berhenti. Bukan karena tertahan. Bukan karena kalah. Namun— karena sesuatu di dalamnya berubah. Sunyi yang tercipta kali ini berbeda. Bukan sunyi karena tekanan. Namun sunyi karena… jeda. Seolah kehampaan itu sendiri— sedang mempertimbangkan sesuatu. Aruna berdiri di depannya. Tidak ada cahaya. Tidak ada bayangan. Hanya dirinya. Namun justru itu— yang membuatnya berbeda. Pelangi di belakangnya hampir tidak bisa bergerak. Tubuhnya masih terasa ringan. Seolah sebagian dari dirinya tadi— hampir hilang. “Aruna…” Ia berbisik lemah. Namun Aruna tidak menoleh. Tatapannya tetap ke depan. Ke dalam retakan itu. Yang kini tidak lagi bergerak. Namun juga— belum pergi. Sosok besar di samping mereka juga diam. Untuk pertama kalinya— ia tidak mencoba menyerang. Tidak mencoba menganalisis. Karena tidak ada yang bisa diproses. “Variabel tidak terdefinisi…” Ia berkata pelan. Namun kali ini— tidak ada ketegasan. Hanya…
Read more