Pagi itu kota terasa lebih panas dari biasanya. Aruna keluar dari asramanya, menatap jalanan yang sibuk dengan kendaraan dan orang-orang yang bergerak cepat. Ia membawa tas kecil, laptop, dan buku catatan tebal yang selalu menemaninya.“Sepertinya kota ini tidak pernah tidur,” gumamnya sambil melangkah ke kampus.Langkahnya mantap, tapi jantungnya berdebar. Hari ini adalah hari pertama Aruna menghadapi simulasi kasus lapangan besar, yang menentukan penempatan magang lanjutan. Mahasiswa lain tampak percaya diri, beberapa bahkan tersenyum meremehkan, karena mereka berasal dari kota dan sudah terbiasa dengan tekanan seperti ini.Aruna menarik napas panjang, mengingat kata-kata Embun: “Keberanian terbesar bukan menghadapi gelap, tapi melangkah ke cahaya yang belum kau kenal.”Di ruang kelas, profesor menatap seluruh mahasiswa. “Hari ini kalian akan menghadapi simulasi kasus nyata,” kata profesor itu, seorang pria paruh baya dengan mata tajam. “Setiap tim harus menyelesaikan kasus hukum so
Zuletzt aktualisiert : 2026-02-17 Mehr lesen