Malam turun perlahan di Desa Sumber Arum. Angin berdesir melewati pepohonan jati, membawa aroma tanah basah yang baru saja diguyur hujan sore. Di pendopo tua tempat mereka dulu pertama kali berkumpul saat KKN, lampu minyak kembali dinyalakan. Cahayanya bergetar lembut, seolah ikut bernapas bersama kenangan yang tersisa.Aruna berdiri paling depan. Wajahnya tidak lagi menyimpan ketakutan seperti dulu. Di matanya kini ada sesuatu yang lebih dalam—ketenangan yang lahir dari badai panjang yang berhasil dilewati.Pelangi duduk bersandar pada tiang kayu, memeluk lututnya. Embun menatap langit-langit pendopo yang sudah diperbaiki. Bulan duduk diam, tangannya menggenggam tasbih kecil pemberian Bu Seno. Bima berdiri tegap di samping Hileon dan Alvaro, sementara Bagas memeriksa sekeliling dengan waspada, meski hatinya tahu malam ini berbeda.Pak Seno dan Bu Seno datang membawa termos teh hangat.“Sudah waktunya,” ujar Pak Seno pelan.Aruna mengangguk.Sudah waktunya bukan untuk melawan. Bukan u
Terakhir Diperbarui : 2026-02-25 Baca selengkapnya