Fitria berkata sambil tersenyum lebar, "Nggak ada apa-apa. Sungguh, Kak Dimas. Aku mendukungmu, apa pun keputusan yang kamu ambil."Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menyandarkan wajahnya pada kedua tangan dan tatapannya terkunci pada Fitria. "Benarkah? Karena entah kenapa, aku nggak bisa percaya kata-katamu begitu saja."Fitria cemberut. "Tapi, aku memang mendukungmu.""Sudahlah, cepat bilang kenapa kamu datang ke sini," kata Dimas dengan nada datar.Fitria terdiam beberapa detik, lalu akhirnya berkata, "Ini soal putra Kakak, Jevan Kumala."Nama itu menghantam Dimas seperti batu. Tubuhnya menjadi kaku dan rasa terkejut melintas di tatapannya saat mendengar adiknya mengucapkan nama itu. "Kamu ... mendengarnya dari Ibu?"Fitria menjawab sambil menganggukkan kepala, "Ya. Ibu ceritakan soal pertemuan mereka. Dan dia tentu saja masih salahkan Kakak, terutama Anisa karena selama ini sudah sembunyikan Jevan."Dimas menghela napas pelan dan berat. Dia melepaskan kacamatanya, lalu me
اقرأ المزيد