Pintu ruang rapat menutup di belakang mereka. Bunyi pelan itu terdengar ringan, tetapi cukup untuk memutus ketegangan yang tertinggal di dalam ruangan.Dimas berjalan lebih dulu menyusuri lorong. Langkahnya mantap, bahunya tegak, seolah-olah rapat tadi hanyalah kewajiban rutin semata.Begitu memasuki kantor sementaranya, dia melonggarkan dasinya, lalu melemparkannya ke atas sofa. Jasnya menyusul, disampirkan begitu saja di sandaran kursi. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.Alvin berdiri beberapa langkah di belakangnya, jelas masih mencerna semua yang baru saja terjadi."Sejujurnya, Pak, aku nggak nyangka," ujar Alvin akhirnya.Dimas menoleh sedikit. "Soal Bara?""Ya, atau soal pria itu," sahut Alvin. "Aku kira Osman itu cuma kaki tangan biasa. Tapi ternyata dia bekerja langsung untuk salah satu komisaris. Benar-benar di luar dugaanku."Dimas berjalan mendekati jendela. Hujan gerimis masih turun membasahi Jekod, meninggalkan garis-garis air tipis di permukaan kaca
Mehr lesen