Acha menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri meski rasa kikuknya belum sepenuhnya reda. Salahnya sendiri, terlalu terburu-buru ingin keluar, tanpa memastikan dulu apakah sudah tak ada lagi pekerjaan untuknya. Seperti dikejar induk ayam yang baru saja menetaskan bayi-bayinya. Sekarang, ia malah berdiri canggung di sini, sekaligus malu sendiri. “Ah, maaf, Pak,” ucapnya pelan, setengah gugup. “Saya sedikit tidak fokus.” “Hm.” Elvano beralih duduk di kursinya. Matanya kini tertuju pada layar laptop yang telah menyala di atas meja. “Kita akan ikut tender pengadaan seragam berskala nasional,” jelasnya tenang. “Diselenggarakan oleh salah satu kementerian.” Acha dengan cepat kembali bersikap profesional. “Kapan itu, Pak?” “Dua minggu ke depan.” “Waktunya cukup mepet,” guman Acha sambil mengangguk. “Benar.” Elvano menyilangkan jari, nada bicaranya datar, namun tegas. “Kalau kita menang, ini kontrak lumayan besar. Dampaknya juga cukup signifikan untuk perusahaan.”
Terakhir Diperbarui : 2026-02-20 Baca selengkapnya