Sesuai tekad tak ingin menyakiti hati orang lain, Acha benar-benae menjaga jarak dari Elvano di hari-hari berjalan berikutnya. Interaksi keduanya di kantor hanya berkisar pada urusan profesional, rapat, dokumen, dan tanggung jawab yang melekat pada posisinya sebegai sekretaris.Setidaknya, Acha sudah berusaha. Ia menenggelamkan dirinya dalam kesibukan, membiarkan hari-harinya seperti dikejar deadline agar tak ada ruang memikirkan perasaannya. Meski, jujur saja, itu bukan perkara mudah.Sampai akhirnya, hari yang selama dua pekan terakhir sangat menguras energi, tenaga, dan pikirannya itu tiba, bahkan hampir tak sempat memberinya kesempata untuk bernapas sedikit lebih lega. “Sudah siap?” tanya Elvano pada Acha, ketika mereka berada di lobi kantor pagi itu.Acha, Elvano, juga Raka bersiap untuk menghadiri acara yang diadakan kementerian yang berfokus pada pelayanan publik itu.Acha mengangguk mantap.
Read more