“Kamu bertemu Tiara?” ulang Elvano. Pelan, namun penuh penekanan.Tatapan pria itu tertuju penuh pada Acha, seakan butuh jawaban jujur. Menyadari perubahan pada raut yang biasanya nyaris tanpa ekspresi itu membuat dada Acha menegang, jelas tidak nyaman.“I-iya, Pak,” jawabnya hati-hati, berusaha terdengar biasa saja. “Kami makan malam sebentar.”“Tiara mengatakan sesuatu?” Elvano tak meninggikan suara, tetapi sorot matanya tampak menyelidik.Acha buru-buru menggeleng. Ia tahu, Tiara sempat bercerita tentang rumah tangga mereka, namun mengatakannya pada Elvano sekarang hanya akan memperkeruh suasana. Ah, Acha merasa dirinya seperti berada di posisi yang serba salah.“Kami hanya makan malam biasa,” katanya, memilih kembali menatap layar laptop.Elvano tidak langsung menanggapi. Jemarinya mengetuk ringan permukaan meja, sekali, dua kali, hingga Acha merasa gelisah. Seolah yang sedang dipikirkan pria itu sekarang bukan lagi hanya angka-angka pada laporan.Detik demi detik hening itu tera
Last Updated : 2026-02-14 Read more