LOGINAcha memikirkan jalan keluar terlalu lama, sampai-sampai Raka harus mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
Ia tersentak. Ternyata sejak tadi ia melamun.Begitu benar-benar sadar, Acha menggeleng kecil. Belum sempat membuka mulut, pertanyaan Raka sudah lebih dulu menodongnya.“Kamu melihat Tiara sedang apa?”Jantung Acha langsung berdegub tidak karuan. Jujur, ia menyesal setengah mati sudah salah bicara. Alhasil, hampir saja ia mengatakan sesuatu yangElvano menarik napas panjang, sebelum ponsel itu dimasukkan kembali ke saku jas tanpa membalas pesan itu lagi, seolah jika terus meladeni sang kakak, obrolan itu tidak akan pernah menemukan ujungnya. Mobil terus melaju menembus lalu lintas malam. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang cukup panjang, sebelum Elvano tiba-tiba membuka suara. “Rencana outing tim yang waktu itu sempat tertunda.” Acha menoleh sedikit ke arahnya. “Menurutmu lebih baik dijadwalkan ulang kapan?” Pertanyaan itu membuat kening Acha terangkat. Ia ingat, kemarin memang Elvano sempat mengatakan akan membawa tim yang terlibat langsung dalam memenangkan tender di kementerian liburan. Hanya saja, ditunda karena Acha lagi pulang kampung. Seharusnya, minggu ini rencana itu sudah terealisasi, tetapi pada akhirnya ditunda lagi karena
Elvano menarik napas panjang, sebelum ponsel itu dimasukkan kembali ke saku jas tanpa membalas pesan itu lagi, seolah jika terus meladeni sang kakak, obrolan itu tidak akan pernah menemukan ujungnya. Mobil terus melaju menembus lalu lintas malam. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang cukup panjang, sebelum Elvano tiba-tiba membuka suara. “Rencana outing tim yang waktu itu sempat tertunda.” Acha menoleh sedikit ke arahnya. “Menurutmu lebih baik dijadwalkan ulang kapan?” Pertanyaan itu membuat kening Acha terangkat. Ia ingat, kemarin memang Elvano sempat mengatakan akan membawa tim yang terlibat langsung dalam memenangkan tender di kementerian liburan. Hanya saja, ditunda karena Acha lagi pulang kampung. Seharusnya, minggu ini rencana itu sudah terealisasi, tetap
Elvano hanya diam tanpa ekspresi ketika melihat foto dirinya dan Acha yang tengah berjalan di mall. Arah pengambilan fotonya jelas diambil dari belakang.Jarinya sempat berhenti beberapa detik di layar.Namun, alih-alih membalas, ia justru mengunci ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku jas, seolah pesan itu tidak cukup penting untuk ditanggapi sekarang.Tatapannya kembali tertumbuk pada layar tablet di tangannya. Di sampingnya, Acha tetap setia memeluk boneka kelincinya dengan pandangan mengarah ke luar jendela mobil.Lampu-lampu jalan berkelebat cepat di kaca, sesekali menyapu wajahnya.Setelah beberapa saat, pikirannya justru kembali pada pemandangan di basement yang sejak tadi mengendap di kepala, seperti enggan pergi. Ia bahkan sempat menahan napas saat bayangan itu kembali muncul di kepalanya. Bukan hanya karena baginya pemandangan itu cukup vulgar untuk dilihat di tempat parkir yang terang benderang, tetapi
Acha dan Elvano masih menatap kaku boneka yang baru saja keluar dari mesin di sebelah mereka.Sementara pasangan muda-mudi itu sudah berlalu menuruni eskalator. Acha masih sempat melongo, nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.Itu serius? Cuma karena dicium pipi … langsung dapat?Ia melirik mesin capit di depannya dengan tatapan curiga. Dari tadi ia sudah berjuang cukup keras untuk mendapatkan boneka itu, sementara pengunjung di sebelah mereka barusan bisa mendapatkan dengan begitu mudahnya.“Ini mesin pilih kasih,” gumamnya pelan.Elvano meliriknya sekilas. “Mesin tidak punya perasaan,” timpalnya.“Tapi, tadi jelas beda perlakuannya ke kita dan mereka, Pak.”Elvano tidak menanggapi.Acha menghela napas kesal sambil mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah. Kita pulang saja, Pak.”Ia hendak menjauh dari mesin itu. Namun, tiba-tiba Elvano berkata singkat. “Tunggu.”Acha sontak menoleh. Saat itu Elvano sudah memasukkan koin lagi.Ia menggerakkan tuas mesin dengan wajah dat
Acha sedikit tersentak mendengar ucapan pria itu.Maksudnya apa tiba-tiba mau memasangkan cincin di jari manisnya?Aneh sekali. Ia bahkan tidak mengenal pria itu.Acha lalu menunjuk dirinya sendiri, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Sa-saya?” “Iya, Mbak.” Pria itu mengangguk cepat. “Ukuran jari Mbak kayaknya mirip dengan kekasih saya.”Acha langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Oh. Cincin buat sang kekasih ternyata.Baru saja beberapa detik lalu, Acha salah paham. Ia bahkan sempat mengira pria ini memiliki kelainan ketika dia tiba-tiba menariknya dan hendak memasangkan cincin di jari manisnya begitu saja.Ah, usaha pria ini sungguh luar biasa sekali. Andai saja ia juga punya kekasih yang seperti itu.“Jadi, apakah boleh bantu coba cincin ini sebentar, Mbak?” lanjut pria itu dengan tatapan seten
Tiara. Astaga, berani sekali melakukan hal seperti itu di tempat seperti ini. Sebagai publik figur, Tiara seharusnya lebih berhati-hati. Bagaimana kalau ada media yang kebetulan melihatnya barusan? Sudah pasti berita seperti itu akan langsung jadi isu panas. Tepat setelah mobil itu akhirnya melaju keluar dari area basement, Acha perlahan menoleh. Saat itulah ia menyadari tatapan dingin Elvano tertuju ke arah yang sama. Yang berarti, dia juga melihat istrinya mesra dengan pria lain? Namun, mengapa ia begitu tenang. Padahal, siapa pun yang melihat Tiara dan pria tadi pasti bisa menyimpulkan kalau mereka sedang dekat, lebih dari sekadar rekan kerja. “Pa-Pak Elvano,” panggilnya pelan. “Bapak baik-baik saja?” Acha berpikir, diamnya Elvano mungkin karena sedang berusaha mencerna kenyataan itu. Bisa saja dadanya sedang sangat sesak, meski sekarang reaksinya tak banyak. Pria itu menoleh. Alisnya sedikit terangkat. “Pertanyaanmu seperti saya baru saja kena masalah.” Loh? Bukankah y







