Debu-debu di gudang tua itu beterbangan terkena sorot lampu helikopter yang menembus celah atap. Evan berdiri dengan kaki kokoh, senjatanya tetap terkunci pada jantung Victor. Namun, bukannya mengangkat tangan atau memohon ampun, Victor justru terkekeh. Ia menyugar rambutnya yang berantakan, menatap Evan dengan tatapan mengejek yang tajam."Lihat siapa yang datang jadi pahlawan," ujar Victor sambil melirik Selena yang masih tersedu-sedu di sampingnya, berusaha menutupi tubuhnya dengan robekan kain. "Kenapa kau repot-repot ke sini, Evan? Untuk menyelamatkan wanita yang sudah membuangmu?""Diam kau, Victor," desis Evan. "Kau sudah kalah. Letakkan senjatamu dan menjauh dari dia."Victor justru tertawa semakin keras, suaranya menggema di dinding seng gudang. "Kau masih mencintainya, ya? Kau rela menerjang peluru demi wanita yang dulu merayumu hanya untuk mencuri aset Nathaniel dan lari ke pelukanku?"Evan tidak bergeming, tapi rahangnya mengeras hingga otot l
Read more