LOGINDimas masih sulit mempercayai apa yang ada di tangannya. Setumpuk uang seratus ribuan rupiah berjejer rapi, terikat bersama slip pembayaran berwarna putih.
Ia menarik napas panjang, membuka lipatan uang itu satu per satu, memastikan semuanya asli. Slip pembayaran menunjukkan bahwa dari total pendapatan Rp30.000.000, ia membayar Rp6.000.000 untuk pajak dan potongan lainnya. “Pajak memang kejam,” gumamnya pelan, “tapi setidaknya pendapatanku kali ini lumayan besar.” Senyum kecil muncul di wajah Dimas. Ia mengangkat setumpuk uang itu, menghirup bau khas kertas baru yang masih segar. Rasanya aneh bahkan setelah semua yang terjadi, ia masih harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa uang itu nyata, bahwa sistem itu benar-benar memberinya imbalan sebesar ini. Sekarang… harus diapakan uang ini? pikirnya. Investasi? Bantu keluarga di Yogya? Atau beli buku buat semester depan? Hm, kenapa tidak ketiganya saja? Setelah berpikir sejenak, Dimas memutuskan: Rp5.000.000 untuk keluarganya, Rp5.000.000 lagi untuk membeli buku dan perlengkapan kuliah, dan sisanya, Rp14.000.000, akan ia investasikan perlahan. “Nanti kalau ada rezeki lebih, baru beli baju,” ujarnya pelan sambil tersenyum sendiri. “Sistem ini memang luar biasa, tapi aku nggak boleh cuma puas di sini. Pengetahuan jauh lebih penting.” Dimas kemudian berdiri, meregangkan lehernya, menyelipkan uang itu di bawah bantal, lalu keluar kamar dan mengunci pintu. “Permisi, Mas, ruang makannya di mana, ya?” tanya Dimas kepada seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari lapangan basket, kausnya masih basah oleh keringat. Mahasiswa itu menoleh, sambil mengunyah permen karet. “Kamu anak baru, ya?” tanyanya, sedikit heran. “Iya,” jawab Dimas sopan. “Saya baru pindahan, belum tahu tempat-tempatnya.” “Oh, kalau gitu kamu turun aja ke lantai bawah. Lagi ada orientasi mahasiswa baru. Biasanya, setelah acara itu, langsung makan siang bareng di aula.” “Terima kasih, Mas,” jawab Dimas ramah. Ia tersenyum lalu berjalan menuruni tangga asrama. Rambut Dimas hitam legam, matanya coklat tua wajahnya biasa saja, tidak terlalu mencolok. Ia mengenakan jeans biru dan kaus hitam sederhana baju yang dibelikan ibunya sebelum ia berangkat ke Depok. “Lihat ke sini, ini salah satu gedung bersejarah di Universitas Indonesia…” Dimas mendengar suara seorang dosen yang sedang memandu kelompok mahasiswa baru. Ia pun bergabung diam-diam ke barisan paling belakang. Beberapa mahasiswa tampak memegang buku panduan ekonomi dan keuangan. Dimas mengikutinya dengan tenang, memperhatikan sekitar. “Eh, kamu juga ambil jurusan ekonomi, ya?” tanya seorang mahasiswa di sebelahnya, suaranya santai. “Iya, betul. Saya nggak telat, kan?” jawab Dimas sambil tersenyum canggung. “Enggak kok. Cuma dosennya aja yang kebanyakan cerita. Rasanya kayak denger radio yang nggak bisa dimatiin,” kelakar mahasiswa itu sambil terkekeh. Dimas ikut tertawa kecil. Hari pertamanya di kampus ternyata tak seburuk yang ia bayangkan. “Aku lapar, kamu tinggal di lantai berapa?” tanya Dimas sambil berjalan pelan. Ia hanya ingin memulai percakapan ringan. “Lantai tiga, kamar nomor tiga puluh empat. Kamu sendiri?” jawab mahasiswa itu sambil tersenyum ramah. “Lantai dua, kamar tujuh,” kata Dimas. Mereka lalu berjalan bersama mengikuti rombongan orientasi mahasiswa baru dari belakang. Setengah jam kemudian. “Eh, jadi siapa namamu? Aku Raka, Raka Wibowo,” kata anak itu yang sejak tadi tak berhenti mengoceh sepanjang kegiatan. Dimas tersenyum kecil. “Aku Dimas. Dimas Martin. Jadi… dosennya bakal ngajak kita makan nggak, ya?” “Kayaknya sih iya, aku juga udah lapar banget,” kata Raka sambil mengelus perutnya. “Ayo, kelihatannya udah mau selesai.” Raka menepuk lengan Dimas, mengajaknya menuju aula makan bersama. Dimas hanya menghela napas dan mengikuti dari belakang. Ruang makan mahasiswa UI itu luas dan terang, dengan deretan meja panjang dan aroma makanan yang menggugah selera. Ada banyak pilihan lauk: ayam goreng, sayur asem, tahu tempe, bahkan buah potong segar. Semuanya gratis untuk mahasiswa baru hari itu. Dimas dan Raka mengambil nampan, lalu memilih makanan mereka masing-masing. Raka tampak kurang puas dengan pilihan yang ada. “Aduh, aku harus nyuruh ayah kirim uang lagi nih,” keluhnya sambil menatap nasinya. “Biar bisa makan di kafe luar kampus, makanannya lebih enak.” Dimas hanya tersenyum tipis. Ia menikmati makanannya tanpa banyak komentar. Nasi, sayur, dan ayam goreng kampus itu terasa sederhana tapi hangat cukup baginya. Setelah makan siang, kegiatan bebas dimulai. Sebagian mahasiswa pergi ke unit kegiatan mahasiswa, sebagian lagi nongkrong di kafe sekitar kampus. Dimas memilih kembali ke kamarnya. Ia mengambil kartu identitas mahasiswa, slip pembayaran yang didapat dari “sistem,” dan uang tunai Rp24.000.000. Setelah memastikan semua dokumen lengkap, ia berangkat keluar asrama, menyusuri jalan Margonda yang ramai menuju bank terdekat di Depok. Tujuannya: membuka rekening baru. Ia memilih Bank Mandiri, karena ada cabangnya di dalam kampus UI juga. Di perjalanan, ia memperhatikan suasana sekitar mahasiswa lalu-lalang, beberapa sibuk dengan ponsel dan earphone, ada yang duduk santai di taman sambil membaca buku. Dimas tidak iri. Ia justru merasa bersemangat. Aku sedang menyiapkan masa depan, pikirnya. Ia bisa saja membeli barang-barang mahal dengan uang itu, tapi ia menahan diri. Kekayaan tanpa arah hanya sementara. Yang penting sekarang adalah stabilitas dan pengetahuan. Begitu sampai di bank, proses pembukaan rekening berjalan cepat karena ada layanan khusus untuk mahasiswa UI. Ia langsung menyetorkan Rp14.000.000 ke rekening barunya, dan mengirim Rp5.000.000 ke rekening ayahnya di Yogyakarta sebagai bentuk bakti. Sisanya, Rp5.000.000, ia simpan tunai untuk keperluan pribadi. Petugas bank memberitahu bahwa kartu ATM dan buku tabungan bisa diambil dua hari lagi. Setelah semua urusan selesai, Dimas meninggalkan bank dengan perasaan lega. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke toko buku dekat fakultas ekonomi. Ia membeli enam buku kuliah dan beberapa perlengkapan tambahan pulpen, catatan, dan stabilo warna-warni. Sesampainya di asrama, Dimas langsung menata semua barang di mejanya, menyiapkan jadwal belajar, lalu makan malam di kantin kampus. Malam itu, ia tidur dengan pikiran tenang. Keesokan paginya. Pukul lima subuh. Udara Depok masih sejuk dan segar. Dimas mengenakan kaus olahraga dan celana training, lalu keluar kamar untuk jogging di sekitar danau UI. Saat baru memulai langkah pertama, tiba-tiba suara notifikasi terdengar di kepalanya: [Ding!! Misi: Jogging selama sepuluh menit. Hadiah minimum: Rp5.000.000.] Senyum perlahan muncul di wajah Dimas. “Jadi sistemnya masih aktif, ya…” gumamnya pelan. Ia menatap langit pagi yang mulai terang.Dimas menyantap makanannya sambil menonton pertandingan di televisi. Meski dalam hatinya ada keinginan untuk membalas dendam, pandangannya sempat teralihkan ke kaca bening di sampingnya yang memantulkan bayangan dirinya. Lihat aku ini… masih saja berpikir soal balas dendam, padahal keadaanku begini. Konyol sekali, pikirnya dalam hati. Meski matanya tertuju ke layar TV, pikirannya justru sibuk memperhatikan seorang gadis yang duduk di beberapa meja di depannya. Gadis itu tampak berusia sekitar dua puluh tahun, mengenakan pakaian kasual longgar yang sedikit terbuka di bagian dada, menggoda beberapa pemuda berpenampilan urakan di sekitar situ. Kalau aku nekat menggoda dia sekarang, bisa-bisa harus berhadapan dengan lima atau enam preman di parkiran nanti. Mobil baruku bisa jadi korban, belum lagi kesehatanku sendiri. Bukan pilihan cerdas, batinnya menimbang. Dimas sudah cukup banyak belajar dari kegagalannya. Ia
"Tolong tunjukkan padaku," kata Dimas sambil menunjukkan ketertarikannya pada mobil itu. "Baiklah kalau begitu,Mas, ikuti saya." Pak Budi tersenyum membawa Dimas dan pelatihnya ke dalam dealer. "Mobil-mobil ini umumnya sedikit mahal ketika Anda membelinya baru, tapi saya punya mobil yang hampir baru dan setengah harganya," kata Pak Budi dengan gembira, lalu membawa Dimas dan Pelatih ke sisi dealer tempat setiap mobil tertutup. Yang ini di sini adalah BMW E46 M3. Ini memiliki trim kayu penuh dan memiliki sistem suara kualitas tertinggi. Biasanya dengan kondisi seperti itu, saya akan menjualnya seharga 360-370 juta, tetapi untuk Pelatih Henry, saya hanya akan memberikannya kepada Anda seharga 310 juta." Pak Budi mengatakan ini sambil membuka penutup mobil berwarna abu-abu. Dimas langsung terpesona dengan mobilnya, tampak baru dan fantastis. Dia yakin jika dia mendapatkannya pada tiga ratus sepuluh juta sekarang, dia bisa menj
Dimas berjalan santai menuju ruang kuliah. Begitu ia duduk di bangkunya, tiba-tiba sebuah pop-up transparan berwarna biru muda muncul di depan matanya. [Ding!! Misi: Ajukan satu pertanyaan kepada dosen. Hadiah minimum: Rp10.000.000] Dimas tersenyum kecil melihat tampilan sistem itu dan mulai menantikan perkuliahan hari ini. Beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan ia melangkah keluar dari gedung kampus, dua pop-up baru muncul di depannya. Yang pertama membuatnya tersenyum lebar, tapi yang kedua hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. [Misi Selesai. Peringkat: SS. Total pertanyaan diajukan: 31. Hadiah: Rp120.000.000] [Ding!! Misi baru: Hadiri pertandingan Tinju. Hadiah minimum: Rp500.000] “Pertandingan tinju?” gumamnya. Ia tertawa kecil. “Nggak mungkin aku datang ke tempat itu. Tapi dengan Rp120 juta ini, total uangku sekarang sekitar Rp336 juta… Lumayan buat beli mobil baru sama ganti ponsel.” Sambil berjalan menuju asrama mahasiswa, Dimas masih memikirkan uangny
“Pak, perusahaan yang Anda coba investasikan ini masih tergolong baru. Pagi ini saja, harga saham mereka turun sekitar Rp160.000 per lot. Sebagai analis senior, saya sarankan Anda jangan dulu menaruh uang di perusahaan e-commerce seperti ini,” ucap wanita muda di balik meja pelayanan sekuritas itu dengan nada ramah namun hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin pemuda di depannya kehilangan uang dalam jumlah besar karena keputusan terburu-buru. Dimas hanya tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Tolong tetap proses saja investasinya. Saya yakin perusahaan ini punya masa depan.” Perusahaan yang dimaksud adalah Tokopedia, salah satu raksasa teknologi dalam negeri yang tengah berkembang pesat di pasar digital. Dimas yakin, dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini akan jadi tulang punggung perdagangan daring di Indonesia. Setelah urusan selesai, petugas itu menyerahkan salinan cetak transaksinya. Dimas menerimanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kantor sekurit
Sebagai pengelola akun, Dimas tahu sedikit banyak cara kerja dunia periklanan. Mungkin pengetahuannya belum seberapa, tapi setidaknya ia paham dasar-dasarnya dan tidak akan berinvestasi buta.Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi.[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000.]Dimas menatap layar itu, lalu tertawa kecil.“Belajar aja dikasih duit. Mantap banget sistem ini,” ujarnya. Ia melempar handuknya ke kursi dan langsung membuka buku kuliahnya.Hari itu ia memang banyak belajar di kelas komunikasi visual, jadi semangatnya sedang tinggi.[Misi Selesai. Grade: A. Durasi belajar: 3 jam 35 menit. Hadiah: Rp30.000.000.]“Gila! Kalau tahu gini, tadi aku belajar empat jam sekalian,” seru Dimas sambil tertawa puas.Setelah beberapa kali menjalankan misi dari sistem itu, Dimas mulai memahami polanya semakin besar usaha dan waktu yang ia keluarkan, semakin besar pula hadiah yang ia terima.Ia menatap pergelangan tangannya yang kosong.“Kayaknya aku harus beli jam tang
Pelatih mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang pemuda seperti Dimas. Ia sempat terkejut, lalu tertawa keras sambil melanjutkan makannya. Setelah beberapa detik, ia tenang kembali dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat.“Baiklah, seperti yang saya katakan tadi, adik ipar saya itu manajer tim voli profesional, tim Depok Thunder,” kata pelatih dengan semangat, matanya berbinar sambil menepuk meja kayu. Aroma daging sate maranggi yang baru dibakar memenuhi udara.Dimas hanya mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu paham apa maksud pelatihnya.“Gini deh, biar gampang,” lanjut sang pelatih, “kalau kamu mau ikut seleksi tim itu, dan kamu lolos, kamu bisa dapat kontrak awal sekitar lima ratus juta rupiah. Itu baru tanda tangan, belum gaji per musimnya, bisa tujuh puluh sampai delapan puluh juta.”Dimas terdiam, matanya melebar. Lima ratus juta? Ia bahkan belum pernah ikut turnamen besar, apalagi main di liga profesional. Tapi jumlah uang itu… cuk