Share

Bab 3

Author: Zhar
last update Last Updated: 2026-01-02 14:49:37

Dimas masih sulit mempercayai apa yang ada di tangannya. Setumpuk uang seratus ribuan rupiah berjejer rapi, terikat bersama slip pembayaran berwarna putih.

Ia menarik napas panjang, membuka lipatan uang itu satu per satu, memastikan semuanya asli. Slip pembayaran menunjukkan bahwa dari total pendapatan Rp30.000.000, ia membayar Rp6.000.000 untuk pajak dan potongan lainnya.

“Pajak memang kejam,” gumamnya pelan, “tapi setidaknya pendapatanku kali ini lumayan besar.”

Senyum kecil muncul di wajah Dimas. Ia mengangkat setumpuk uang itu, menghirup bau khas kertas baru yang masih segar. Rasanya aneh bahkan setelah semua yang terjadi, ia masih harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa uang itu nyata, bahwa sistem itu benar-benar memberinya imbalan sebesar ini.

Sekarang… harus diapakan uang ini? pikirnya. Investasi? Bantu keluarga di Yogya? Atau beli buku buat semester depan? Hm, kenapa tidak ketiganya saja?

Setelah berpikir sejenak, Dimas memutuskan: Rp5.000.000 untuk keluarganya, Rp5.000.000 lagi untuk membeli buku dan perlengkapan kuliah, dan sisanya, Rp14.000.000, akan ia investasikan perlahan.

“Nanti kalau ada rezeki lebih, baru beli baju,” ujarnya pelan sambil tersenyum sendiri. “Sistem ini memang luar biasa, tapi aku nggak boleh cuma puas di sini. Pengetahuan jauh lebih penting.”

Dimas kemudian berdiri, meregangkan lehernya, menyelipkan uang itu di bawah bantal, lalu keluar kamar dan mengunci pintu.

“Permisi, Mas, ruang makannya di mana, ya?” tanya Dimas kepada seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari lapangan basket, kausnya masih basah oleh keringat.

Mahasiswa itu menoleh, sambil mengunyah permen karet. “Kamu anak baru, ya?” tanyanya, sedikit heran.

“Iya,” jawab Dimas sopan. “Saya baru pindahan, belum tahu tempat-tempatnya.”

“Oh, kalau gitu kamu turun aja ke lantai bawah. Lagi ada orientasi mahasiswa baru. Biasanya, setelah acara itu, langsung makan siang bareng di aula.”

“Terima kasih, Mas,” jawab Dimas ramah. Ia tersenyum lalu berjalan menuruni tangga asrama.

Rambut Dimas hitam legam, matanya coklat tua wajahnya biasa saja, tidak terlalu mencolok. Ia mengenakan jeans biru dan kaus hitam sederhana baju yang dibelikan ibunya sebelum ia berangkat ke Depok.

 

“Lihat ke sini, ini salah satu gedung bersejarah di Universitas Indonesia…”

Dimas mendengar suara seorang dosen yang sedang memandu kelompok mahasiswa baru. Ia pun bergabung diam-diam ke barisan paling belakang.

Beberapa mahasiswa tampak memegang buku panduan ekonomi dan keuangan. Dimas mengikutinya dengan tenang, memperhatikan sekitar.

“Eh, kamu juga ambil jurusan ekonomi, ya?” tanya seorang mahasiswa di sebelahnya, suaranya santai.

“Iya, betul. Saya nggak telat, kan?” jawab Dimas sambil tersenyum canggung.

“Enggak kok. Cuma dosennya aja yang kebanyakan cerita. Rasanya kayak denger radio yang nggak bisa dimatiin,” kelakar mahasiswa itu sambil terkekeh.

Dimas ikut tertawa kecil. Hari pertamanya di kampus ternyata tak seburuk yang ia bayangkan.

“Aku lapar, kamu tinggal di lantai berapa?” tanya Dimas sambil berjalan pelan. Ia hanya ingin memulai percakapan ringan.

“Lantai tiga, kamar nomor tiga puluh empat. Kamu sendiri?” jawab mahasiswa itu sambil tersenyum ramah.

“Lantai dua, kamar tujuh,” kata Dimas. Mereka lalu berjalan bersama mengikuti rombongan orientasi mahasiswa baru dari belakang.

Setengah jam kemudian.

“Eh, jadi siapa namamu? Aku Raka, Raka Wibowo,” kata anak itu yang sejak tadi tak berhenti mengoceh sepanjang kegiatan.

Dimas tersenyum kecil. “Aku Dimas. Dimas Martin. Jadi… dosennya bakal ngajak kita makan nggak, ya?”

“Kayaknya sih iya, aku juga udah lapar banget,” kata Raka sambil mengelus perutnya. “Ayo, kelihatannya udah mau selesai.”

Raka menepuk lengan Dimas, mengajaknya menuju aula makan bersama. Dimas hanya menghela napas dan mengikuti dari belakang.

Ruang makan mahasiswa UI itu luas dan terang, dengan deretan meja panjang dan aroma makanan yang menggugah selera. Ada banyak pilihan lauk: ayam goreng, sayur asem, tahu tempe, bahkan buah potong segar. Semuanya gratis untuk mahasiswa baru hari itu.

Dimas dan Raka mengambil nampan, lalu memilih makanan mereka masing-masing. Raka tampak kurang puas dengan pilihan yang ada.

“Aduh, aku harus nyuruh ayah kirim uang lagi nih,” keluhnya sambil menatap nasinya. “Biar bisa makan di kafe luar kampus, makanannya lebih enak.”

Dimas hanya tersenyum tipis. Ia menikmati makanannya tanpa banyak komentar. Nasi, sayur, dan ayam goreng kampus itu terasa sederhana tapi hangat cukup baginya.

Setelah makan siang, kegiatan bebas dimulai. Sebagian mahasiswa pergi ke unit kegiatan mahasiswa, sebagian lagi nongkrong di kafe sekitar kampus.

Dimas memilih kembali ke kamarnya. Ia mengambil kartu identitas mahasiswa, slip pembayaran yang didapat dari “sistem,” dan uang tunai Rp24.000.000.

Setelah memastikan semua dokumen lengkap, ia berangkat keluar asrama, menyusuri jalan Margonda yang ramai menuju bank terdekat di Depok. Tujuannya: membuka rekening baru.

Ia memilih Bank Mandiri, karena ada cabangnya di dalam kampus UI juga. Di perjalanan, ia memperhatikan suasana sekitar mahasiswa lalu-lalang, beberapa sibuk dengan ponsel dan earphone, ada yang duduk santai di taman sambil membaca buku.

Dimas tidak iri. Ia justru merasa bersemangat. Aku sedang menyiapkan masa depan, pikirnya.

Ia bisa saja membeli barang-barang mahal dengan uang itu, tapi ia menahan diri. Kekayaan tanpa arah hanya sementara. Yang penting sekarang adalah stabilitas dan pengetahuan.

Begitu sampai di bank, proses pembukaan rekening berjalan cepat karena ada layanan khusus untuk mahasiswa UI. Ia langsung menyetorkan Rp14.000.000 ke rekening barunya, dan mengirim Rp5.000.000 ke rekening ayahnya di Yogyakarta sebagai bentuk bakti. Sisanya, Rp5.000.000, ia simpan tunai untuk keperluan pribadi.

Petugas bank memberitahu bahwa kartu ATM dan buku tabungan bisa diambil dua hari lagi. Setelah semua urusan selesai, Dimas meninggalkan bank dengan perasaan lega.

Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke toko buku dekat fakultas ekonomi. Ia membeli enam buku kuliah dan beberapa perlengkapan tambahan pulpen, catatan, dan stabilo warna-warni.

Sesampainya di asrama, Dimas langsung menata semua barang di mejanya, menyiapkan jadwal belajar, lalu makan malam di kantin kampus. Malam itu, ia tidur dengan pikiran tenang.

Keesokan paginya.

Pukul lima subuh. Udara Depok masih sejuk dan segar. Dimas mengenakan kaus olahraga dan celana training, lalu keluar kamar untuk jogging di sekitar danau UI.

Saat baru memulai langkah pertama, tiba-tiba suara notifikasi terdengar di kepalanya:

[Ding!! Misi: Jogging selama sepuluh menit. Hadiah minimum: Rp5.000.000.]

Senyum perlahan muncul di wajah Dimas. “Jadi sistemnya masih aktif, ya…” gumamnya pelan. Ia menatap langit pagi yang mulai terang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 79

    “Apa maksudmu?” tanya Dimas, masih belum yakin dengan rencana apa yang sedang disiapkan Henry untuknya. “Maksudku, aku mau nunjukin langsung. Ikut aku,” kata Henry, lalu berjalan lebih dulu. Dimas mengikuti dari belakang. Ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan apakah dua pengawal itu ikut, dan benar saja, mereka masih terlihat berjalan agak jauh di belakang. “Mereka itu tipe pendiam. Aku habiskan hampir seharian bareng mereka, dan sejauh ini yang bisa kukatakan cuma satu mereka orangnya santai dan nggak ribet,” ujar Henry sambil tertawa, seolah heran karena si kembar itu hampir tidak pernah bicara. “Ya nggak masalah sih kalau mereka jago bela diri, itu aja,” kata Dimas. Dalam kehidupan sebelumnya, dia sudah terlalu sering melihat selebritas dihajar massa. Dia sama sekali nggak mau mengalami hal yang sama. “Bela diri? Emangnya kamu lagi syuting film Jackie Chan?” Henry menjawab dengan nada datar sambil

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 78

    “Itu baik banget dari anak Bapak mau bantu,” kata Dimas sambil mengelap keringatnya. “Gimana kalau kita makan malam bareng? Pilih restoran mana saja,” lanjutnya sambil mengambil handuk baru dari tangan Arif. Saat itu juga, panel transparan muncul di hadapannya. [Misi Selesai Peringkat: S Servis tercatat: 499 kali Hadiah: Rp100.000.000] Dimas membeku. Astaga... Wajahnya langsung berubah masam. Dia kesal bukan karena uangnya, tapi karena sadar satu hal. “Kurang satu…” gumamnya pelan. Kalau saja dia menghitung dari awal, satu servis lagi sudah cukup untuk tembus 500. Arif tertawa kecil melihat ekspresi Dimas. “Sebenarnya saya juga mau sekali makan bareng,” kata Arif jujur, “tapi istri saya sudah nunggu di rumah. Lagipula, kamu juga harus tidur cepat.” Ia menepuk bahu Dimas. “Beso

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 77

    “Baiklah, saya belum tahu apa-apa soal kamu,” kata Coach Bisma sambil menyilangkan tangan. “Saya cuma tahu satu hal servismu barusan jauh lebih keras dari yang saya duga. Sekarang, ambil bolanya dan ulangi lagi.” Bisma mengambil bola voli yang baru saja digunakan Dimas. Ia memutarnya pelan di telapak tangan, menekannya sebentar untuk memastikan tekanan udaranya pas, lalu mengangguk puas. Setelah itu, bola dikembalikan ke Dimas, dan Bisma memberi isyarat agar dia mengikutinya ke dalam lapangan. “Barang-barang kamu taruh di mana? Dompet sama HP?” tanya Bisma sambil berjalan menuju sisi lapangan. “Saya titipkan ke Manajer Arif. Dia lagi di belakang, ngurus administrasi,” jawab Dimas jujur. Sejujurnya, dia sendiri masih bingung harus ke mana dan apa yang harus dilakukan. Untung saja Arif manajer staf tim tiba-tiba muncul dan langsung membantunya. Arif bahkan membawa Dimas ke ruang ganti resmi pemain, lalu menyimpan dompet dan p

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 76

    Dimas sebenarnya senang mendengar bahwa ia dipersilakan duduk bersama kapten di kokpit. Namun ia cukup bijak untuk tahu batasan. Ia tidak ingin terlihat memanfaatkan perlakuan khusus, jadi ia memilih tetap duduk tenang di dalam kabin. Sekitar lima menit kemudian, semuanya siap. Dimas sudah duduk di kursi pertama yang ditunjukkan kepadanya. Beberapa staf wanita melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum, namun ia hanya membalas dengan anggukan sopan, lalu kembali duduk diam. Kursi itu, jika di pesawat komersial, setara dengan kelas bisnis. Ruang kakinya lega, sangat nyaman untuk tubuhnya yang tinggi. Dimas menyandarkan punggung dan berharap penerbangan singkat ini berjalan mulus. Seorang pramugari yang sangat cantik mendekat. Ia mengenakan seragam kasual tim penerbangan dan berdiri cukup dekat dengan Dimas terlalu dekat menurutnya. “Pak, saya bantu pasangkan sabuk pengamannya ya, sebentar lagi kita lepas landas,” katanya

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 75

    Dimas keluar dari lift bersama manajer. Sebuah taksi sudah menunggu di depan. Manajer berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk Dimas. Sopir taksi terlihat profesional dan serius dengan pekerjaannya. Dimas duduk di dalam, lalu mengangguk ke arah manajer dan berkata, “Aku rasa aku tidak akan menggunakan layanan gratis. Itu bukan gayaku. Aku akan membayar jasanya, jadi sampaikan terima kasihku pada ketua, dan kembalikan cek uang tunainya. Kalau nanti butuh cek lagi, bilang saja padaku.” Manajer tersenyum, mengangguk, lalu berjalan ke arah sopir dan berkata, “Antar dia ke Bandara Soekarno-Hatta. Jangan berhenti sebelum sampai. Jangan berhenti untuk siapa pun.” Setelah itu, dia mengetuk pintu taksi dua kali dan pergi dengan senyum di wajahnya. Sopir mengangguk, lalu turun untuk mengunci semua pintu taksi mobil ini masih manual. Setelah itu, ia memutar jendela di sisi Dimas dan menyalakan AC.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 74

    Dimas membawa Anin yang masih tidak sadarkan diri ke kamar kecil. Setelah membersihkannya dengan sisa kesadarannya, ia membaringkan Anin di tempat tidur. Ranjang itu terlalu besar jika hanya dipakai berdua. Dimas mengecek jam hampir tengah malam. Ia menghela napas. Tubuhnya lelah, tapi hatinya terasa ringan. Ia memilih duduk di kursi goyang di ruang tamu, lalu menuangkan segelas anggur Vosne-Romanée Premier Cru yang tadi sempat mereka buka namun belum habis. Sambil menyesap pelan, pandangannya menatap kota di bawah sana. Meski berasal dari masa depan, ia merasa hidup seperti ini justru lebih baik. Di kehidupan sebelumnya, ia selalu cemas soal makan dan hidup terlalu egois, sampai lupa bahwa keluarganya juga membutuhkannya. Hidup memang lucu. Kalau semuanya memang berakhir seperti ini, aku bahkan tak tahu akan sampai di mana. Sambil bergumam begitu, Dimas memutar gelas anggurnya, menenggaknya dalam satu tegukan, lalu kembali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status