Map

Share

Bab 5

Author: Zhar
last update publish date: 2026-01-02 14:50:19

“Ya, saya ingin ikut berpartisipasi,” kata Dimas, sambil mengangguk kepada mahasiswa panitia di depannya.

“Baik, kamu mau jadi spiker atau tosser?” tanya seorang panitia laki-laki berkacamata tebal yang tampak seperti mahasiswa teknik. Ia berbicara dengan nada lelah, mungkin sudah seharian mengatur peserta.

“Tosser. Saya ingin mencoba posisi itu,” jawab Dimas mantap. Dalam pikirannya, sistem akan memberinya bonus lima puluh juta rupiah jika berhasil ikut minimal satu sesi percobaan.

“Baik, silakan ke lapangan sebelah, ke area ujian teknik servis. Lihat garis kuning itu? Itu batasnya.” Panitia itu mengeluarkan pena, lalu menatap Dimas.

“Nama lengkap?”

“Dimas Martin.”

“Fakultas dan angkatan?”

“Ekonomi dan Bisnis, tahun pertama.”

Panitia itu mengangguk, menulis cepat di formulir pendaftaran, lalu mempersilakan Dimas melangkah ke sisi lapangan.

Dimas berjalan perlahan melewati barisan mahasiswa lain yang sudah menunggu giliran. Suara bola voli yang dipukul keras terdengar nyaring dari arah lapangan utama.

Plak! Plok!

Getaran ritmis itu memantul ke seluruh aula olahraga. Beberapa mahasiswa perempuan duduk di tribun sambil bersorak, sementara para peserta yang lain berbaris dengan sabar menunggu giliran.

“Eh, itu Ricky! Kapten tim voli UI!” bisik seseorang di belakang Dimas.

“Aku dengar dia sempat juara nasional antar kampus tahun lalu.”

“Dia emang jago banget. Tadi aja smash-nya bikin lawan bengong.”

Dimas hanya menatap lurus ke depan, tanpa minat. Ia tidak terlalu peduli pada sosok populer seperti itu. Ia datang bukan untuk mencari perhatian, melainkan demi satu hal sederhana menyelesaikan misi dari sistemnya dan mendapatkan uang.

Ia memperhatikan sekeliling. Setiap peserta hanya diberi satu kali kesempatan servis. Kalau gagal, mereka harus menunggu seleksi tahun depan.

Dimas menarik napas panjang. Ia tidak benar-benar tertarik dengan voli pikirannya malah terbayang kamar kos yang sejuk, tumpukan buku, dan nasi goreng kantin yang belum sempat ia beli siang tadi.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya giliran Dimas tiba. Ia menerima bola dari panitia. Seorang pelatih bertubuh besar berdiri tak jauh dari net, memperhatikan setiap gerakan peserta dengan mata tajam.

“Siap?” tanya pelatih itu singkat.

Dimas mengangguk. Ia menggenggam bola, menatap ke arah lapangan kosong di seberang net, lalu menarik napas perlahan.

Dengan satu gerakan cepat, ia melempar bola ke udara dan mengayunkan tangannya.

Plak!

Bola meluncur deras, menukik tajam melewati net, dan mendarat tepat di garis belakang lapangan.

Beberapa mahasiswa di pinggir lapangan bersorak kecil. Pelatih yang tadi hanya diam kini menaikkan alis, tampak terkejut.

Dimas menurunkan tangannya dan tersenyum tipis. Ia sudah berniat pergi begitu saja, tapi sebelum sempat melangkah, pelatih itu menghampirinya dan memegang lengannya dengan kuat.

“Nak,” katanya sambil menatap Dimas tajam, “kau bilang tahun pertama, ya? Sejak kapan pemain baru bisa servis sekencang itu?”

“Anu Pak?” Dimas sedikit bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

“Anak muda, mau ke mana?” tanya pelatih bertubuh besar itu sambil tersenyum lebar. Keringat menetes di pelipisnya, tapi ekspresinya justru penuh semangat.

“Ke asrama, Pak…” jawab Dimas ragu. Ia tidak tahu harus berkata apa, apalagi pelatih itu tampak terlalu antusias untuk melepasnya pergi.

“Coba sekali lagi,” ujar pelatih itu tegas. Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak.

Dimas terdiam sejenak, lalu mengangguk. Dalam pikirannya, mungkin saja sistem akan memberinya hadiah lebih besar kalau ia menambah percobaan. Lagi pula, melakukan servis barusan terasa cukup menyenangkan.

Pelatih memberikan bola baru padanya, lalu melangkah ke sisi lapangan sambil menyalakan alat kecil mirip remote. Dimas baru sadar alat itu adalah pengukur kecepatan servis.

Sorakan dari tribun tidak berkurang, meski barusan “Ricky”, kapten tim, gagal menerima servisnya. Para penonton justru makin heboh, sebagian gadis tampak bersemangat meneriakkan nama Ricky sambil melirik ke arah Dimas dengan tatapan kurang bersahabat.

Dimas hanya tersenyum kecil. Ia tidak peduli. Fokusnya bukan pada gengsi atau popularitas, melainkan pada misi yang sedang ia jalankan.

“Pak, memangnya perlu diulang lagi?” tanya seorang mahasiswa tampan yang berdiri di pinggir lapangan. Dari seragamnya, tampak jelas ia anggota inti tim voli UI.

“Perlu sekali,” jawab pelatih itu sambil menunjuk ke arah Dimas. “Lihat cara dia berdiri memegang bola? Anak ini bahkan kelihatannya belum pernah ikut latihan teknik dasar.”

Mahasiswa bernama Mike itu mengangguk setengah heran. “Gerakannya memang aneh, Pak. Dia nggak pakai tenaga kaki, nggak ada rotasi pinggul, tapi kok bolanya bisa secepat itu?”

Pelatih tersenyum misterius. “Kau tahu seberapa cepat servisnya tadi?”

Mike menggeleng. “Belum sempat lihat, Pak. Saya fokus ke bola yang mental.”

“115 kilometer per jam,” ucap pelatih sambil terkekeh kecil. “Tanpa teknik sama sekali. Kau sadar, itu sudah sekelas pemain nasional?”

Mike melongo, menatap Dimas dengan tatapan baru bukan lagi meremehkan, tapi penuh rasa ingin tahu.

“Anak muda,” kata pelatih itu lagi, kini suaranya sedikit lebih berat. “Sekarang, coba satu kali lagi. Lempar semua tenagamu. Jangan tahan apa pun.”

Dimas mengangguk pelan. Ia menarik napas, lalu menatap net di depannya. “Baik, Pak. Tapi setelah ini, boleh saya satu kali lagi? Biar saya puas.”

Pelatih tertawa. “Silakan. Asal kamu kasih yang terbaik.”

Dimas menempatkan diri di belakang garis servis. Kali ini seluruh aula menjadi hening. Ricky, yang tadi gagal menerima bola, tampak lebih fokus matanya menatap Dimas dengan penuh kewaspadaan.

Dimas memantulkan bola sekali, dua kali. Tangannya terangkat tinggi.

Wushh! Plak!

Bola meluncur kencang, menembus udara seperti kilat, dan mendarat tajam di sisi lapangan lawan. Ricky bahkan tak sempat bergerak.

Pelatih menatap layar alat pengukur di tangannya, lalu menelan ludah. Angkanya berkedip-kedip jelas.

“...126 kilometer per jam,” gumamnya tak percaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 171

    Dimas mencatat secepat mungkin, tangannya hampir tidak berhenti bergerak. Namun di tengah penjelasan, Lana mengangkat tangan. “Pak, tapi bukankah penerapan model NAIRU bisa jadi kurang relevan kalau kita memperhitungkan pola inflasi hibrida yang muncul setelah 2022?” tanyanya. Profesor Ernest tersenyum tipis. “Pertanyaan yang sangat bagus. Itulah detail yang sering dilewatkan mahasiswa,” katanya. “Model itu memang bisa gagal kecuali kalau ekspektasi inflasi disesuaikan secara dinamis. Sangat sedikit teori yang bisa menjelaskan hal itu dengan tepat. Karena itu, Saudari Lana, minggu depan kamu yang presentasi.” Lana berkedip sebentar, lalu mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya mengerti.” Dimas menatapnya dari bangkunya. Dia… mengintimidasi. Pintar. Luar biasa. Saat kelas berakhir, buku catatan Dimas sudah seperti medan perang penuh coretan, rumus, panah,

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 170

    Matahari sudah mulai condong ketika Johan melakukan panggilan keduanya hari itu. Saat itu sore menjelang petang, dan sinar matahari yang hangat perlahan melembut, membentuk garis-garis keemasan di langit Dakarta. Dimas, yang masih santai di kamar hotelnya, tanpa sadar memindah-mindah saluran TV ketika ponselnya kembali bergetar. Melihat nama Johan muncul di layar, dia langsung mengangkat telepon. “Pak Johan? Ada apa? Semua aman?” “Iya, Pak Dimas,” jawab Johan dengan nada jauh lebih santai dari sebelumnya. “Saya cuma mau kasih kabar lanjutan. Tim back office kami sudah menyelesaikan proses verifikasi. Semua dana dari deposit Anda sudah bersih.” Dimas langsung duduk tegak. “Jadi semuanya sudah beres?” “Iya, Pak. Setelah perhitungan akhir, saldo Anda sekarang berada di Rp1.016.600.000.000. Kredit sebelumnya juga sudah lunas sepenuhnya. Secara resmi, Anda sudah bebas dari utang.” Dim

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 169

    Dimas perlahan berdiri, brosur itu masih berada di tangannya. Ia berjalan mendekati jendela tinggi suite di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan, memandangi cakrawala Jakarta yang mulai berkilau oleh lampu-lampu malam. Kota itu padat dan sibuk, sementara di benaknya Depok terbayang lebih hijau dan tenang. Istana itu terasa seperti sesuatu dari dunia lain. “Aku ingin melihatnya,” katanya akhirnya. Henry mengangkat wajahnya. “Yakin? Perlu pengaturan khusus. Properti seperti itu tidak dibuka untuk semua orang.” Dimas menoleh. Suaranya tenang namun tegas. “Kalau begitu, beri tahu mereka aku bukan semua orang.” Henry tersenyum kecil. Ia pernah melihat tatapan itu sebelumnya tatapan kepastian. “Baik,” katanya sambil menyalakan ponselnya. “Aku atur.” Dimas merapikan kembali brosur-brosur rumah di Depok yang lebih sederhana dan realistis. Namun brosur istana itu tetap b

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 168

    Dimas kembali ke The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan menjelang sore. Cahaya matahari Jakarta yang mulai redup memantul di kaca gedung-gedung tinggi kawasan Kuningan. Perjalanan pulang terasa hening. Bahkan Jay dan Ray, yang biasanya ramai bercanda atau berdebat soal musik, ikut diam setelah kunjungan ke panti asuhan tadi pagi. Ada sesuatu dari momen itu yang mengubah suasana hati mereka. Begitu masuk ke suite-nya, Dimas meletakkan jaket dan sepatu di dekat pintu. Ia menarik napas panjang, meregangkan badan, lalu duduk di sofa. Televisi tidak dinyalakan, ponsel pun dibiarkan begitu saja. Ketenangan dari gereja kecil tadi masih terasa di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, ia benar-benar membiarkan dirinya beristirahat. Beberapa jam kemudian, bel pintu berbunyi. Masih mengenakan celana training, Dimas berjalan membuka pintu. Di sana sudah berdiri Henry coach volly-nya memegang beberapa map dan d

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 167

    Pagi tiba dengan ketenangan khas hari Minggu di Dakarta pelan, hangat, dan terasa lebih lapang dari biasanya. Dimas terbangun tanpa alarm, tanpa jadwal rapat, tanpa notifikasi yang mendesak. Cahaya matahari keemasan menembus tirai tipis suite hotelnya di pusat kota, memantul lembut di lantai kayu dan dinding berwarna krem. Matanya terbuka tepat pukul 07.12. Hening seperti ini jarang ia rasakan. Ia meregangkan tubuh, menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur. Rutinitasnya selalu presisi: menyikat gigi, membilas wajah dengan air dingin sampai benar-benar segar, lalu mengenakan hoodie navy gelap, celana training hitam ramping, dan sepatu olahraga putih bersih. Pukul 07.30, ia sudah berada di gym hotel. Hanya ada satu pria paruh baya di sana, berjalan santai di treadmill sambil menonton berita pagi tanpa suara. Dimas mengangguk sopan, lalu mulai pemanasannya. Ia fokus pada keseimbangan dan postur deadlift, rotasi inti, shoulder press. Cermin besar di depannya memantulkan s

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 166

    [Ding!! Misi: Nikmati Waktu Anda di Hotel. Hadiah: Rp10.000.000] "Sial… bahkan sistem tahu aku lagi stres," gumamnya. Setelah meninggalkan kantor, Dimas bersandar di kursi kulit Mercedes, mata terpejam, menarik napas panjang. Jay dan Ray tak perlu bertanya tujuan hotel. "Pak, mau lewat rute lebih panjang? Lebih santai," tanya Jay dari kursi depan. "Nggak, langsung hotel aja," jawab Dimas lelah. "Aku mau makan, mandi air panas, lalu tidur pulas." Mobil melaju membelah lalu lintas sore Depok. Udara dingin mulai terasa, langit keperakan menggantung di atas kota. Dimas tetap memejamkan mata sepanjang perjalanan, tubuhnya akhirnya rileks dari tekanan pekerjaan. Saat mobil berhenti di parkiran bawah tanah hotel, dia hampir tertidur. Ray membuka pintu, dan Dimas keluar sambil meregangkan bahu dan leher sebelum berjalan menuju lift pribadi yang langsung menuju suite-nya. Suite itu sunyi, rapi seperti baru disentuh. Staf hotel sudah membersihkan semuanya, mengganti linen, dan meninggalk

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 67

    Helikopter yang membawa Dimas dan kepala keamanan mendarat di heliport umum, yang kemudian dibayar Dimas sebesar Rp 5.000.000 dengan kartu untuk menggunakan layanannya. Begitu mendarat, Dimas melihat taksi sudah siap mengantar ke mana saja. Kepala keamanan ikut masuk ke dalam bersama Dimas dan men

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 66

    Dimas, yang duduk di dalam mobil, juga merasa bingung. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap situasi ini. Di satu sisi, ia penasaran dan bersemangat ingin melihat orang-orang yang datang jauh-jauh hanya untuk melihat dirinya. Tapi di sisi lain, ia harus mengikuti arahan pihak keamanan.

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 61

    "Maaf, Dimas, aku menahanmu di sini. Di dalam, mereka sudah benar-benar menunggumu, jadi masuklah dan tunjukkan keajaibanmu." Henry menepuk dada Dimas dengan lembut, lalu membuka pintu untuknya. Dimas melihat ke dalam. Itu adalah lorong sempit yang mengarah ke ruang konferensi pers

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 60

    Dimas berjalan bersama Pak Surya, sang Ketua Tim Nasional Junior. Saat mereka menyusuri koridor VIP, ia melihat papan besar bertuliskan: “DILARANG MEMBAWA KAMERA / MEREKAM.” Ia mengangguk kecil pantas saja dari tadi tidak ada yang memotret. Acara tertutup seperti ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status