Share

Bab 4

Author: Zhar
last update Last Updated: 2026-01-02 14:50:00

Dimas kemudian bergegas ke depan asrama dan mulai jogging di sekitar kampus Universitas Indonesia selama 2 jam berturut-turut. Dia berkeringat deras, tapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Sambil berjalan kembali ke kamar di wisma mahasiswa, meskipun lelah, Dimas merasa segar dan penuh energi.

Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu dengan rapat, lalu duduk di atas kasur tipisnya. Dari pikirannya, dia membuka sistem itu. Dimas selalu waspada, percaya bahwa dinding asrama pun bisa "berbisik", jadi dia tak pernah ceroboh.

Sebuah panel berwarna cyan muncul di depan matanya, yang hingga kini masih terasa ajaib dan tak nyata. Dimas yakin ini tak akan hilang begitu saja, tapi dia tak ingin hidupnya bergantung sepenuhnya pada sistem misterius ini yang datang secara tiba-tiba, bisa saja lenyap dengan cara yang sama.

[Misi Selesai. Grade: S, jogging selama 2 jam dan 10 menit. Hadiah: Rp50.000.000]

Lima puluh juta rupiah? Apa aku lagi bermimpi?

Dimas hanya menatap tumpukan uang yang mengambang di udara, dibungkus rapi dengan kertas bertuliskan informasi pajak. Meskipun sudah dipotong pajak, dia tetap terkejut uang sebanyak itu melayang di depan mata adalah pengalaman lain.

Dimas meraih uang itu, dan seperti sebelumnya, uang itu menjadi nyata. Kali ini, penuh dengan pecahan seratus ribu rupiah yang baru.

Dengan ini, Ayah tak perlu pinjam uang dari rentenir itu lagi. Tapi bagaimana aku jelaskan ke rumah? Bank mungkin tidak banyak tanya kalau aku tunjukkan slip pajak ini, tapi Ayah dan Ibu pasti curiga kalau lihat tumpukan uang begini.

Sambil memikirkan itu, Dimas tak buang waktu. Dia mandi air dingin di kamar mandi bersama, lalu ganti baju biasa karena seragam barunya sudah kotor dan harus dicuci di laundry kampus.

Dimas menyimpan uang itu di lemari baju, di bawah tumpukan pakaian dalam, karena terlalu risih dibawa kemana-mana. Dia kan mahasiswa baru di UI, bawa uang segini bisa jadi sasaran.

Dimas kemudian kemas tasnya beberapa catatan kuliah dan buku teks untuk semester ini lalu kunci pintu dan berangkat ke ruang makan di lantai dasar. Saat turun tangga di lantai dua, dari jendela dia lihat kerumunan mahasiswa di sudut gedung bawah. Dimas berhenti dan mengintip.

"Ada ribut-ribut antara anak angkatan tahun pertama sama tahun kedua, gara-gara cewek," kata seorang cowok seusia Dimas yang berdiri di sampingnya.

"Yah, masih kekanak-kanakan banget," balas Dimas sambil tersenyum menggelengkan kepala, melihat tingkah polah masa muda.

"Ceweknya emang cakep sih. Kamu angkatan baru ya?" Cowok itu balas tersenyum dan ulurkan tangan.

"Dimas Martin." Dimas tak enggan menjabat tangan. Kalau dulu, dia mungkin ragu berteman, tapi sekarang dia ingin sopan dan ramah siapa tahu, teman sekecil apa pun bisa berguna nanti, seperti pegawai kantin yang punya koneksi.

"Adit Rahman," cowok itu perkenalkan diri dengan senyum lebar. Mereka berdua tak lama ngobrol, langsung ke ruang makan. Habis makan nasi goreng kampus bareng, mereka lanjut ke kelas.

"Jadi kamu juga jurusan Ekonomi? Ayo duduk bareng yuk." Adit ramah banget sama Dimas, tertarik sama cara Dimas cerita tentang kehidupan.

Kelas mulai tepat jam 9 pagi. Kuliah pertama buat Dimas membosankan karena bab ini sudah dia pelajari mandiri. Tak ada yang baru. Dia lihat sekeliling, banyak mahasiswa lain juga ngantuk dan bosan.

Mahasiswa UI emang beda, mereka sudah kuasai bab ini seperti aku. Pantas aja banyak yang jadi elit nanti.

Dimas kira dosennya bakal langsung cabut habis kuliah, tapi sang dosen botak itu malah hapus papan tulis dan bilang,

"Baiklah, yang sudah pelajari bab ini pasti bosan. Gimana kalau kita tes cepat buat lihat kemampuan? Yang sudah paham, tinggal; yang baru, boleh keluar." Dosen itu tersenyum.

Dimas yang ingin koreksi kalau ada salah konsep dari belajar sendiri, tinggal bareng sepuluh mahasiswa lain. Diri lamanya tak pernah bayangin ada orang sebanyak ini yang advance.

Dimas ikut tes itu, dan mengejutkan, dia dapat nilai terbaik kedua. Adit yang dia kira biasa aja, malah juara satu.

"Bro, lu jenius!" kata Adit sambil ketawa. Dimas cuma geleng-geleng kepala, lalu dekati dosen buat tanya kesalahannya.

Dimas sekarang lebih teliti belajar dari error, karena hidup kasih kesempatan kedua keputusan harus tepat sasaran.

Habis kuliah pagi, Dimas punya waktu luang buat keliling kampus lihat kegiatan klub. Dia ogah ikut yang ribet, mau balik kamar belajar aja meski sistem tak kasih hadiah.

Saat Dimas taruh tas di kamar dan mau ganti kaos oblong biar nyaman, tiba-tiba bunyi notifikasi di kepalanya.

[Ding!! Misi: Datangi klub voli dan lakukan smash satu kali. Hadiah Minimum: Rp50.000.000]

Waduh, minimal Lima puluh juta? Kalau satu-dua juta sih aku skip, tapi segini?

Dimas kunci kamar rapat-rapat ada uang lima puluh juta di lemari lalu berangkat ke GOR UI, lapangan voli resmi kampus.

Dimas tak terlalu tinggi, tapi cukup atletis buat olahraga apa pun. Tingginya 178 cm, rata-rata di UI.

Butuh sepuluh menit jalan kaki ke sana, dan GOR penuh sesak karena banyak mahasiswa baru yang mau coba masuk tim voli.

"Kamu mau ikut seleksi klub voli?" tanya seorang cowok berkacamata yang keliatan capek tapi tetap ramah sambil catat nama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 12

    Dimas menyantap makanannya sambil menonton pertandingan di televisi. Meski dalam hatinya ada keinginan untuk membalas dendam, pandangannya sempat teralihkan ke kaca bening di sampingnya yang memantulkan bayangan dirinya. Lihat aku ini… masih saja berpikir soal balas dendam, padahal keadaanku begini. Konyol sekali, pikirnya dalam hati. Meski matanya tertuju ke layar TV, pikirannya justru sibuk memperhatikan seorang gadis yang duduk di beberapa meja di depannya. Gadis itu tampak berusia sekitar dua puluh tahun, mengenakan pakaian kasual longgar yang sedikit terbuka di bagian dada, menggoda beberapa pemuda berpenampilan urakan di sekitar situ. Kalau aku nekat menggoda dia sekarang, bisa-bisa harus berhadapan dengan lima atau enam preman di parkiran nanti. Mobil baruku bisa jadi korban, belum lagi kesehatanku sendiri. Bukan pilihan cerdas, batinnya menimbang. Dimas sudah cukup banyak belajar dari kegagalannya. Ia

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 11

    "Tolong tunjukkan padaku," kata Dimas sambil menunjukkan ketertarikannya pada mobil itu. "Baiklah kalau begitu,Mas, ikuti saya." Pak Budi tersenyum membawa Dimas dan pelatihnya ke dalam dealer. "Mobil-mobil ini umumnya sedikit mahal ketika Anda membelinya baru, tapi saya punya mobil yang hampir baru dan setengah harganya," kata Pak Budi dengan gembira, lalu membawa Dimas dan Pelatih ke sisi dealer tempat setiap mobil tertutup. Yang ini di sini adalah BMW E46 M3. Ini memiliki trim kayu penuh dan memiliki sistem suara kualitas tertinggi. Biasanya dengan kondisi seperti itu, saya akan menjualnya seharga 360-370 juta, tetapi untuk Pelatih Henry, saya hanya akan memberikannya kepada Anda seharga 310 juta." Pak Budi mengatakan ini sambil membuka penutup mobil berwarna abu-abu. Dimas langsung terpesona dengan mobilnya, tampak baru dan fantastis. Dia yakin jika dia mendapatkannya pada tiga ratus sepuluh juta sekarang, dia bisa menj

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 10

    Dimas berjalan santai menuju ruang kuliah. Begitu ia duduk di bangkunya, tiba-tiba sebuah pop-up transparan berwarna biru muda muncul di depan matanya. [Ding!! Misi: Ajukan satu pertanyaan kepada dosen. Hadiah minimum: Rp10.000.000] Dimas tersenyum kecil melihat tampilan sistem itu dan mulai menantikan perkuliahan hari ini. Beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan ia melangkah keluar dari gedung kampus, dua pop-up baru muncul di depannya. Yang pertama membuatnya tersenyum lebar, tapi yang kedua hampir membuat jantungnya berhenti berdetak. [Misi Selesai. Peringkat: SS. Total pertanyaan diajukan: 31. Hadiah: Rp120.000.000] [Ding!! Misi baru: Hadiri pertandingan Tinju. Hadiah minimum: Rp500.000] “Pertandingan tinju?” gumamnya. Ia tertawa kecil. “Nggak mungkin aku datang ke tempat itu. Tapi dengan Rp120 juta ini, total uangku sekarang sekitar Rp336 juta… Lumayan buat beli mobil baru sama ganti ponsel.” Sambil berjalan menuju asrama mahasiswa, Dimas masih memikirkan uangny

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 9

    “Pak, perusahaan yang Anda coba investasikan ini masih tergolong baru. Pagi ini saja, harga saham mereka turun sekitar Rp160.000 per lot. Sebagai analis senior, saya sarankan Anda jangan dulu menaruh uang di perusahaan e-commerce seperti ini,” ucap wanita muda di balik meja pelayanan sekuritas itu dengan nada ramah namun hati-hati. Ia benar-benar tidak ingin pemuda di depannya kehilangan uang dalam jumlah besar karena keputusan terburu-buru. Dimas hanya tersenyum tenang. “Tidak apa-apa, Bu. Tolong tetap proses saja investasinya. Saya yakin perusahaan ini punya masa depan.” Perusahaan yang dimaksud adalah Tokopedia, salah satu raksasa teknologi dalam negeri yang tengah berkembang pesat di pasar digital. Dimas yakin, dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan ini akan jadi tulang punggung perdagangan daring di Indonesia. Setelah urusan selesai, petugas itu menyerahkan salinan cetak transaksinya. Dimas menerimanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan kantor sekurit

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 8

    Sebagai pengelola akun, Dimas tahu sedikit banyak cara kerja dunia periklanan. Mungkin pengetahuannya belum seberapa, tapi setidaknya ia paham dasar-dasarnya dan tidak akan berinvestasi buta.Tiba-tiba, suara notifikasi berbunyi.[Ding!! Misi: Belajar selama satu jam. Hadiah minimum: Rp10.000.000.]Dimas menatap layar itu, lalu tertawa kecil.“Belajar aja dikasih duit. Mantap banget sistem ini,” ujarnya. Ia melempar handuknya ke kursi dan langsung membuka buku kuliahnya.Hari itu ia memang banyak belajar di kelas komunikasi visual, jadi semangatnya sedang tinggi.[Misi Selesai. Grade: A. Durasi belajar: 3 jam 35 menit. Hadiah: Rp30.000.000.]“Gila! Kalau tahu gini, tadi aku belajar empat jam sekalian,” seru Dimas sambil tertawa puas.Setelah beberapa kali menjalankan misi dari sistem itu, Dimas mulai memahami polanya semakin besar usaha dan waktu yang ia keluarkan, semakin besar pula hadiah yang ia terima.Ia menatap pergelangan tangannya yang kosong.“Kayaknya aku harus beli jam tang

  • Dompet Tak Terbatas   Bab 7

    Pelatih mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang pemuda seperti Dimas. Ia sempat terkejut, lalu tertawa keras sambil melanjutkan makannya. Setelah beberapa detik, ia tenang kembali dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat.“Baiklah, seperti yang saya katakan tadi, adik ipar saya itu manajer tim voli profesional, tim Depok Thunder,” kata pelatih dengan semangat, matanya berbinar sambil menepuk meja kayu. Aroma daging sate maranggi yang baru dibakar memenuhi udara.Dimas hanya mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu paham apa maksud pelatihnya.“Gini deh, biar gampang,” lanjut sang pelatih, “kalau kamu mau ikut seleksi tim itu, dan kamu lolos, kamu bisa dapat kontrak awal sekitar lima ratus juta rupiah. Itu baru tanda tangan, belum gaji per musimnya, bisa tujuh puluh sampai delapan puluh juta.”Dimas terdiam, matanya melebar. Lima ratus juta? Ia bahkan belum pernah ikut turnamen besar, apalagi main di liga profesional. Tapi jumlah uang itu… cuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status