Share

Bab 41

Penulis: Anisnca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-29 22:59:28

Suara Reis menggantung di udara, dingin dan berat, membuat seluruh lorong terjerembap dalam keheningan yang menekan. Seolah setiap napas yang diambil menjadi terlalu keras, terlalu berani. Dinding-dinding batu yang menjulang tampak semakin kelabu, dan cahaya lampu kristal terasa redup di bawah ketegangan yang tak kasatmata.

Helena melangkah setengah tapak ke depan, senyum tipis masih terpatri di bibirnya, meski rahangnya tampak mengeras.

“Yang Mulia,” ucapnya dengan nada yang terdengar lembut n
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 121

    “Baik, Yang Mulia Ratu.”Gwen membungkuk dalam, lalu melangkah keluar dengan hati-hati, menutup pintu tanpa suara.Ruangan itu kembali sunyi.Lorenne tidak bergerak dari tempatnya. Jemarinya masih bertumpu di atas meja, namun pikirannya sudah jauh melayang ke masa lalu ke sebuah wilayah yang jarang disebut di istana, seolah namanya sendiri adalah rahasia.Kutcher.Orang-orang mengira Duchy Kutcher telah melemah. Bahwa ia hanya tinggal nama di antara peta kekaisaran. Bahwa keluarga itu mengurung diri sampai perlahan dilupakan.Tapi yang tidak diketahui siapa pun di istana ini adalah Duke Kutcher masih memiliki seorang pewaris. Seorang yang tidak pernah diumumkan dan seorang yang sengaja disembunyikan dari sorotan dunia.Keluarga itu memang selalu tertutup. Bahkan saat ayah dan ibunya masih hidup, Lorenne jarang mengetahui keadaan sebenarnya di sana. Surat-surat datang dengan bahasa diplomatis yang terlalu rapi, terlalu aman. Kunjungan selalu dibatasi. Dan setiap percakapan terasa seper

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 120

    Pagi itu Lorenne terbangun dengan perasaan ganjil.Bukan sekadar lelah.Tubuhnya terasa berat, seolah semalaman ia tidak beristirahat sama sekali. Saat ia mencoba bergerak, nyeri tajam menjalar dari punggung bawah hingga ke pinggul. Bahkan tulang ekornya terasa sakit ketika ia sedikit saja mengubah posisi.Ia memejamkan mata kembali, menarik napas perlahan.Ini berbeda.Biasanya, saat siklus bulanannya datang, ia hanya merasakan kram ringan dan sedikit lemas. Ia tetap bisa berdiri, menghadiri rapat, bahkan menunggang kuda jika perlu. Namun pagi ini, sekadar duduk pun terasa seperti usaha besar.Ketika akhirnya ia bangun dengan bantuan Ana, wajahnya tampak lebih pucat dari kemarin.Ana tidak banyak bertanya. Ia sudah terlalu lama melayani Lorenne untuk tahu kapan harus diam. Air hangat disiapkan, pakaian diganti dengan yang lebih longgar, obat diletakkan di atas meja kecil dekat jendela.Sementara itu, para dayang telah berkumpul seperti biasa.Termasuk Roseanne.Lorenne tidak ingin me

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 119

    Tidak ada respons.Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamar Ratu. Para pelayan yang melihat pemandangan itu membeku belum pernah mereka melihat Kaisar setegang ini.Pintu kamar dibuka paksa dan ia membaringkan Lorenne di tempat tidur dengan hati-hati, seolah ia terbuat dari kaca.“Panggil dokter wanita dan pastikan tidak ada yang menyebarkan satu kata pun tentang ini,” katanya dingin kepada para pelayan yang gemetar.“Jika ada yang berani bergosip aku akan tahu.”Semua langsung menunduk dalam dan bergegas. Reis kembali ke sisi tempat tidur. Tangannya menyentuh pipi Lorenne yang dingin. Kemarahan dan ketakutan bercampur di dadanya. Ia seharusnya memaksanya beristirahat sejak pagi. Ia seharusnya tidak membiarkannya berdiri terlalu lama di aula.Kamar Istana Ratu dipenuhi aroma obat herbal yang menenangkan.Dokter wanita istana datang dengan cepat, rambutnya sudah memutih namun gerakannya masih cekatan. Para pelayan membantu membuka tirai agar cahaya masuk secukupnya, sementara Reis

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 118

    Ana tampak ragu. “Tapi biasanya Anda—”“Aku tidak selemah itu,” potong Lorenne pelan, meski suaranya tidak keras. “Lagipula, hari ini ada beberapa hal yang perlu kuurus.”Ia berdiri, merapikan lengan bajunya.Namun saat ia melangkah, rasa tidak nyaman di perutnya kembali muncul nyeri samar yang membuatnya berhenti sejenak, meski hanya sepersekian detik.Ana jelas menyadarinya.“Yang Mulia…”Lorenne tersenyum kecil, berusaha menenangkan pelayannya. “Jangan membuat wajah seperti itu. Aku benar-benar tidak apa-apa.”Meski begitu, jauh di dalam hatinya, ia tahu tubuhnya mulai menuntut perhatian. Dan entah mengapa, pagi itu terasa sedikit lebih rapuh dari biasanya. Di luar kamar, istana sudah ramai dengan aktivitas. Tak seorang pun tahu bahwa di balik ketenangan wajah sang Ratu, ada lelah yang belum sepenuhnya hilang dan sesuatu yang mungkin akan segera berubah.Aula pertemuan siang itu dipenuhi suara laporan dan gesekan gulungan peta.Lorenne berdiri di ujung meja panjang, jari-jarinya me

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 117

    Nada suaranya terdengar datar. Terlalu datar untuk sekadar pertanyaan biasa.Reis tidak langsung menjawab. Ia justru memutar gelas anggurnya perlahan, cairan merah di dalamnya berputar mengikuti gerakan tangannya. Setelah beberapa detik, ia meletakkan gelas itu dengan sengaja pelan, nyaris berlebihan lalu menyandarkan tubuhnya dengan santai.“Oh?”Senyyum tipis terbit di sudut bibirnya. Senyum yang Lorenne kenal betul senyum yang selalu muncul setiap kali ia mencium kegelisahan sekecil apa pun darinya.“Apakah istriku sekarang sudah terbiasa tidur bersamaku?”Pertanyaan itu meluncur ringan, seolah tidak memiliki bobot. Namun udara di antara mereka terasa berubah.Lorenne membeku sepersekian detik.Dulu, mungkin wajahnya akan langsung memerah. Dulu, ia mungkin akan mengalihkan pandangan atau mencari alasan untuk pergi. Tapi sekarang tidak. Ia sudah terlalu sering menghadapi nada menggoda itu, terlalu sering berada dalam jarak sedekat ini.Tatapannya justru menajam.“Anda terlalu percay

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 116

    Pintu ruang pertemuan tertutup pelan setelah sosok Lorenne menghilang di ujung lorong.Suara langkah para pejabat satu per satu menjauh, menyisakan keheningan yang terasa berat di dalam ruangan itu.Helena masih berdiri di tempatnya.Tangannya belum juga melepaskan gulungan laporan di atas meja. Kertasnya sudah sedikit kusut karena terlalu lama diremas tanpa sadar.Ia tidak langsung berbicara.Namun udara di sekitarnya berubah.Ward, yang berdiri tak jauh darinya, menunduk lebih dalam. Ia sudah cukup lama mendampingi Helena untuk mengenali tanda-tanda itu ketika amarah tidak lagi berupa ledakan, melainkan mengendap pelan seperti bara.“Dia benar-benar melakukannya,” gumam Helena akhirnya.“Yang Mulia…” Ward mencoba, tetapi kalimatnya menggantung.Helena tertawa kecil. Bukan tawa yang ringan.“Di hadapan semua orang,” lanjutnya, “dia berbicara seolah aku membiarkan lumbung kosong. Seolah aku tidak tahu apa yang kulakukan selama ini.”Beberapa pejabat yang masih berada di ruangan itu sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status