“Elira, tunggu!” teriak Aldric sambil berlari menyusul gadis kecil berambut keemasan yang melangkah cepat di depannya. Elira berhenti dengan wajah kesal, tangannya bertolak pinggang. “Kau lambat sekali, Aldric! Kalau begini terus, kau tidak akan pernah bisa menangkap kelinci, tahu!” Elira mendengus kesal. “Aku tidak ingin menangkap kelinci,” jawab Aldric, sedikit terengah. “Aku hanya ingin ikut denganmu.” Elira mendengus sekali lagi. “Kalau begitu jangan mengeluh.” Meski kata-katanya terdengar tajam, Elira tetap menunggu. Aldric tahu jika wanita itu tidak akan meninggalkannya. Dia kembali berlari untuk menyusul Elira yang sudah ada di depan. Sejak kecil, Elira adalah cahaya yang sulit disentuh. Ia cerah, berani, dan selalu melangkah lebih cepat dari siapapun. Sementara Aldric, selalu berada beberapa langkah di belakangnya, mengikuti tanpa pernah benar-benar bisa menyamai. Namun, bagi Aldric, itu sudah cukup. Suatu hari di bawah terik matahari yang panas, keduanya duduk di
Last Updated : 2026-04-06 Read more