LOGIN“Apa yang Anda lakukan disini?” Marielle menghampiri Cassian yang masih termangu di depan rumahnya.Bibirnya tersenyum tipis saat melihat wanita itu datang.“Aku ingin melihatmu,” ujarnya lirih.Keduanya saling menatap. Marielle hanya bisa menatap Cassian diam. Perlahan tangan besar Raja mulai meraih tangannya lalu menggenggamnya erat.“Apa kau tidak apa-apa? Aku dengar dari Claude kamu diserang seseorang.”Marielle sedikit tersentak. Wajahnya menegang mendengar ucapan sang Raja. “Claude memberitahu Anda soal penyerangan pada saya?” Suara Marielle terdengar lirih namun cukup tajam di tengah dinginnya malam Valerante.Cassian hanya mengangguk pelan dengan tatapan yang teduh. Angin pelan meniup rambut peraknya saat ia berdiri di depan Cassian. Sedangkan Cassian hanya diam menatapnya.Sudah lama mereka tak sedekat ini. Sejak terakhir kali ia melihat Raja berdiri mematung seolah tak tahu harus berbuat apa saat ia meninggalkan istana.Marielle terlihat berbeda sekarang. Gaunnya sederhana.
“Yang Mulia Raja telah memasuki wilayah Valerante!” Suara pengawal menggema di gerbang utama kota saat iring-iringan Raja dan Ratu mulai memasuki pusat wilayah kekuasaan Grand Duke Aldric.Para penduduk segera menepi. Beberapa membungkuk hormat. Yang lain sibuk berbisik pelan saat melihat lambang kerajaan Minerva berkibar di atas kereta hitam besar milik Raja.Suasana kota langsung berubah tegang. Sudah lama sekali Raja tidak datang langsung ke Valerante. Dan kali ini kedatangannya terasa terlalu mendadak.Di depan mansion Grand Duke, para pelayan langsung berlarian panik mempersiapkan penyambutan. Sedangkan di aula utama, Aldric berdiri tenang dengan pakaian bangsawan lengkap dengan warna gelap kesukaannya.Namun di balik ekspresi santainya, matanya jelas terlihat dingin.“Dia datang lebih cepat dari perkiraanku,” gumamnya pelan.Jackson yang berdiri di samping langsung menunduk. “Apakah Anda ingin mengubah rencana?”Aldric tersenyum kecil. “Tidak.”Tatapannya mengarah ke luar jendel
“Percepat kudanya. Kita harus tiba sebelum malam.” Suara Cassian terdengar dingin dari dalam kereta kerajaan. “Baik, Yang Mulia!” jawab kusir cepat dari depan. Detik berikutnya, suara cambuk menggema dan roda kereta bergerak lebih cepat membelah jalan utama ibukota menuju Valerante. Hari ini Rombongan Raja meninggalkan istana bersama Ratu dengan dalih Ratu ingin mengunjungi kampung halamannya. Angin pagi menerpa tirai hitam berhias lambang kerajaan Minerva. Di belakang kereta utama, puluhan ksatria berkuda mengikuti dengan formasi rapi. Beberapa membawa panji kerajaan, membuat rakyat yang dilewati langsung menepi dan membungkuk hormat. Namun suasana rombongan kerajaan kali ini terasa berbeda. Apalagi dimana Raja dan Ratu yang menaiki kereta kuda yang sama. Keduanya saling menghindari pandangan satu sama lain. Raja masih memikirkan wanita yang baru saja ia usir dari istana, sedangkan Ratu masih memikirkan bagaimana caranya agar wanita itu tetap berada di luar istana. Sampai seka
“Aku harus segera pergi ke Valerante secepatnya.”Kalimat dari Cassian itu membuat ruangan kerja langsung sunyi. Rowan yang berdiri di depan meja hanya bisa terdiam tegang.“Yang Mulia… apakah Anda yakin?” tanyanya hati-hati.Cassian masih meremas surat dari Claude lalu meletakkannya kembali di atas meja.“Grand Duke sudah melangkah terlalu jauh.” Nada suaranya datar.Namun justru itu yang membuat Rowan semakin bingung. Namun dia hanya diam karena saat ini Raja sedang sangat marah.Cassian berjalan menuju jendela besar ruangannya. Di luar, hujan tipis mulai turun membasahi halaman istana Minerva.“Aku sudah membiarkan Marielle pergi.” Tatapannya lurus ke luar.“Tapi sekarang Aldric malah mencoba menyakitinya lagi.” Rahang Cassian mengeras.Ia masih teringat insiden saat festival berburu, dimana Marielle diserang saat tengah berburu. Dia menyesal tidak langsung menghukum Grand Duke saat itu juga.“Aku harus menyelamatkan Marielle,” ujarnya lirih namun terdengar jelas.Rowan menegang, d
“Grand Duke, ada seorang ksatria yang mengamuk di depan!” Jackson tiba-tiba masuk ruangan dengan terburu-buru.Aldric dan Marielle terdiam. Mendadak Marielle berlari keluar, wajahnya terlihat panik.“Serahkan Lady Marielle sekarang juga!” Suara Claude menggema keras di halaman depan kediaman Aldric.Beberapa penjaga langsung mencabut pedang. Sedangkan Claude berdiri di depan gerbang besar dengan nafas memburu setelah menunggang kuda yang dipinjamnya dari rekannya.“Cepat turunkan senjatamu!” bentak salah satu penjaga gerbang kediaman Grand Duke.Claude justru maju satu langkah.“Aku tidak datang untuk bertarung.” Tatapannya tajam ke arah mansion besar di belakang mereka.“Aku hanya ingin memastikan Lady Marielle tetap aman,” lanjutnya.Para penjaga langsung saling pandang. Merasa ada salah paham diantara mereka.“Tapi Lady itu datang sendiri. Kami tidak menculik siapapun,” ujarnya tenang untuk menenangkan suasana.Claude mengepalkan tangan. “Tetap saja aku harus memastikan dia aman.”
“Grand Duke sudah menunggu Anda di ruang tamu, mari saya antar.” Jackson mempersilahkan Marielle masuk terlebih dulu.Meski Jackson tampak biasa saja di luar, namun dalam hatinya sangat terkejut. Sudah lama sekali ia tidak melihat wanita itu datang ke tempat ini atas kemauannya sendiri.Marielle berjalan memasuki mansion besar itu tanpa rasa takut sedikitpun. Ingatannya samar-samar teringat bagaimana dia menjalani hari-hari berat saat Aldric mengajarinya untuk menggunakan tubuh dan paras cantiknya untuk menggoda Raja.Pelayan-pelayan yang melihatnya langsung berbisik pelan. Tak ada yang menyangka mantan selir Raja akan datang sendiri ke tempat ini.Jackson membawa Marielle menuju ruang tamu dimana Aldric sudah menunggu.Tok! Tok!“Grand Duke. Lady Marielle datang menemui Anda.”Di dalam ruangan, Aldric yang sedang membaca dokumen langsung mengangkat kepala cepat.“Persilahkan dia masuk!”Pintu sudah terbuka. Dan Marielle terlihat berdiri tegak dengan jubah hitam yang dipakainya. Empat







