Share

Makan Malam Istana

Penulis: nababy
last update Tanggal publikasi: 2026-04-01 22:15:52

Marielle tertegun, tangannya menggenggam gaunnya erat. Seandainya dia tau keadaan Enzo sekarang, pasti akan membuatnya jauh lebih tenang.

“Apa kau khawatir Lady? Jangan lupakan tempatmu sebenarnya berada.” Aldric tersenyum licik kemudian pergi meninggalkannya.

Genggaman tangannya makin kencang, hingga membuatnya sedikit gemetar.

“Aku bersumpah akan membuatmu menyesal karena telah meremehkanku,” batinnya geram.

“Marielle,” panggil seseorang tak jauh.

Wanita itu segera melihat pada sumber suara.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Api Di Malam Bersalju

    “Segera dilaksanakan, Yang Mulia. Rumah itu akan rata dengan tanah sebelum fajar menyingsing,” jawab Caesar pelan, lalu berbalik dan menghilang dalam kegelapan lorong kastil, meninggalkan Aldric seorang diri dengan rencana gelap yang mengunci takdir Marielle selamanya di Valtore.Aldric masih berdiri melihat pintu yang sudah kembali tertutup rapat. Kali ini Aldric benar-benar tak akan melepaskan wanita yang pernah ia singkirkan itu.​Dinginnya badai salju malam itu tidak mampu meredam langkah kaki Caesar yang bergerak tanpa suara. Berbeda dengan prajurit resmi kastil yang mengenakan pelindung perak berkilau, Caesar menyelimuti tubuhnya dengan jubah hitam legam yang menyatu sempurna dengan pekatnya malam. Sebagai bayangan sekaligus algojo pribadi Grand Duke Aldric, ia terbiasa bergerak di atas garis batas aturan. Tanpa membawa obor atau lentera, ia membelah hutan lebat di tepi benteng, menuju satu titik kecil yang menjadi satu-satunya tempat tujuan Marielle untuk pulang begitu proyek

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Terselubung Grand Duke

    “Sekarang, katakan padaku... apa hukuman yang pantas untuk wanita keras kepala yang suka keluyuran di tengah badai es seorang diri?”​Aldric tidak menunggu jawaban. Dengan gerakan yang tegas namun terkontrol, pria itu langsung membungkuk dan membopong tubuh Marielle dalam gendongannya. Marielle sempat terkesiap dan melingkarkan tangannya ke leher Aldric secara refleks, matanya membelalak kaget.​“Hei! Apa yang Anda lakukan? Turunkan saya, Grand Duke!” protes Marielle, berusaha memberontak di tengah terpaan angin badai.​“Diam dan simpan tenagamu, Marielle. Kau sudah cukup membuatku hampir kehilangan akal malam ini,” sahut Aldric dingin, suaranya mengandung nada frustasi yang teramat dalam.​Marielle terdiam, merasakan dekapan erat dan kehangatan tubuh Aldric yang melindunginya dari amukan badai salju. Di balik ketegasan pria itu, Marielle tidak menyadari badai emosi yang tengah berkecamuk di kepala Aldric beberapa menit lalu.Langkah Aldric tegas menyusuri jalan untuk kembali masuk da

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Badai Salju Pertama

    ​“Lepaskan kaki Anda, Grand Duke...” desis Marielle tajam melalui celah giginya yang terkatup kaku, berusaha keras menjaga raut wajahnya tetap tenang di hadapan para pelayan yang lalu-lalang.“Selesaikan makan malammu dulu, Pimpinan Strategi,” bisik Aldric santai, tetap mengunci lutut Marielle di bawah meja hingga wanita itu hampir kehilangan kesabarannya.​Marielle menggertakkan giginya rapat-rapat. Tak sudi berlama-lama menjadi tontonan terselubung para pelayan, ia langsung menyambar serbet linen di pangkuannya, melemparkannya begitu saja ke atas piring, lalu berdiri dengan gerakan penuh wibawa.​“Saya sudah kenyang, Grand Duke. Silahkan nikmati sisa makanan Anda seorang diri,” ketus Marielle dingin.​Tanpa menunggu balasan, ia berdiri dan melangkah cepat keluar dari ruang makan utama. Punggungnya ditegakkan setegak mungkin, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kacau akibat gesekan fisik yang baru saja terjadi.​Setibanya di kamar, udara hangat di dalam ruangan justru terasa m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam Yang Menyebalkan

    “Diana, tolong sampaikan pesanku pada Grand Duke aku ingin makan malam di ruang makan utama. Aku tidak bisa terus-terusan makan malam bersama dia di kamar,” ujar Marielle kaku. Pandangannya masih melihat ke arah lembaran-lembaran kertas yang tengah kerjakan.​Diana mengangguk patuh. “Baik, Lady Marielle. Saya akan menyampaikannya pada Grand Duke.”​Wanita muda itu langsung pergi untuk menyampaikan pesan dari Marielle. Sedangkan Marielle memejamkan mata sejenak, menghela nafas panjang. Keputusannya berpindah ke ruang makan utama bukan tanpa alasan. Setelah peristiwa memalukan semalam dan godaan nakal Aldric tadi pagi, ia butuh ruang netral. Di ruang makan utama yang luas, formal, dan dikelilingi belasan pelayan serta pengawal, Aldric tidak akan bisa bertindak lancang atau melayangkan kata-kata manis yang memancing emosinya.“Aku harus menghadapinya. Sebentar lagi proyek perbaikan Valerante selesai, dan aku akan langsung pulang ke pondokku,” gumamnya.Marielle langsung mengerjakan tugas

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kancing Yang Tertinggal

    ​“Keluar dari kamar saya sekarang, Grand Duke... sebelum saya melempar botol tinta ini tepat di wajah tampan Anda yang menyebalkan itu!”​Kekehan rendah yang amat terhibur bergetar dari dada bidang Aldric. Bukannya gentar atau melangkah mundur, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu langkah lagi, menatap botol tinta kaca yang digenggam Marielle dengan binar mata hitam yang penuh pendar cemoohan manis.​“Lempar saja, Pimpinan Strategi,” bisik Aldric lembut, suaranya mengalun rendah dan begitu provokatif di antara keheningan kamar. “Noda tinta di wajahku mungkin bisa dihapus dalam hitungan detik. Tapi ingatan tentang bagaimana tubuhmu gemetar dan bagaimana kau mendesah memohon padaku semalam... tidak akan pernah bisa dihapus dari otakku.” Aldric menyeringai penuh kemenangan.​Wajah Marielle seketika makin membara. Nafasnya memburu kencang, jarinya mengencang pada botol kaca hingga buku-buku jarinya memutih.​Sebelum Marielle sempat benar-benar melayangkan botol tinta berat itu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Keributan Di Pagi Hari

    ​“Ugh...” erang Marielle pelan saat kelopak matanya yang seberat timah perlahan terkuak.​Marielle memegang kepalanya yang terasa memutar. Rasa hangat membakar di dadanya semalam telah berganti menjadi rasa haus menyengat.​Namun saat Marielle hendak memiringkan tubuhnya, dadanya mendadak tercekat.​Gumpalan selimut bulu tebal menutupi tubuhnya hingga ke dada. Saat jemarinya meraba bagian atas dadanya, Marielle menyadari dua kancing atas kemeja putihnya sudah terbuka, memperlihatkan garis leher dan kulit hangatnya yang terbuka di balik selimut. Kepanikan kecil seketika menyergap dadanya.​Marielle menarik selimut itu rapat-rapat, dadanya naik-turun memburu kencang. ​Dalam sekejap, potongan memori malam tadi mendadak berputar kembali di benaknya bagaikan pecahan kaca yang menusuk tajam.​Kekalahannya di papan catur, caranya meminum habis anggur merah itu dalam sekali teguk, rasa melayang yang memabukkan hingga momen saat tubuh kekar Aldric mengurungnya di atas kasur ini. Sensasi bibir

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permulaan Takdir

    “Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hasrat Terpendam

    “Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status