LOGINSejak beberapa hari terakhir, Akbar menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia abaikan : matanya terlalu sering mencari satu sosok.
Adelia. Gadis berhijab itu tidak pernah berusaha mencuri perhatian. Tidak ikut keramaian kantin, tidak ikut bergosip bersama karyawan lain.Saat jam makan siang tiba, ia selalu berjalan tenang ke arah teras belakang, tempat yang biasanya hanya dipakai karyawan lama untuk sekadar menghirup udara. Adelia selPasca kejadian di hotel itu, pikiran Nizam tak pernah benar-benar tenang. Ia duduk sendirian di teras rumah nenek Inara, memandangi halaman depan yang teduh. Angin siang itu berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga tua yang sudah puluhan tahun berdiri di sana. Suasana tenang itu kontras dengan isi kepalanya yang riuh. Ia mengingat kembali kejadian di ruang rapat hotel. Minuman yang terasa aneh. Tubuhnya yang tiba-tiba panas dan kehilangan kendali. Sosok perempuan asing yang mencoba memanfaatkan situasi. Calon investor. Nizam menghela napas panjang. “Apa sebenarnya yang ada di benaknya?” gumamnya pelan. Selama berbisnis di Jakarta dan Bali, ia belum pernah mengalami jebakan serendah itu. Kompetisi keras? Sudah biasa. Permainan harga? Wajar. Tapi menjebak secara personal hingga mencoreng nama baik? Itu di luar nalarnya. Ia meremas jemarinya sendiri. Tidak. Ia tidak ingin hidu
Jakarta kembali bergerak dalam ritme cepatnya. Di lantai tertinggi gedung pusat Niaga Perkasa, Akbar sudah kembali duduk di balik meja kerjanya. Wajahnya terlihat lebih matang dibanding beberapa bulan lalu. Ada ketegasan baru di sana dan juga keyakinan. Hari ini ia berencana meninjau pabrik induk pasca kerusakan mesin utama yang sempat melumpuhkan sebagian produksi. Revitalisasi fasilitas pelengkap menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya. Sebelum berangkat, ia masuk ke ruang kerja Pak Gunawan. “Pa, Akbar berangkat ke pabrik sekarang.” Pak Gunawan mengangguk. “Papa serahkan rencana revitalisasi itu ke kamu, Bar. Papa mau lihat cara kamu memimpin langsung di lapangan.” Akbar tersenyum mantap. “InsyaAllah pa, Akbar akan jalankan sebaik mungkin.” Ia keluar dari ruangan dengan langkah pasti. Sebelum memasuki lift, ia membuka
Inara berdiri tegak di ambang pintu kamar 1001.Tatapannya menelusuri wanita yang berdiri di hadapannya dari ujung kepala sampai kaki. Gaun ketat berwarna merah menyala membalut tubuhnya. Riasannya tebal, parfumnya menyengat. Senyumnya terlalu percaya diri.Inara langsung bisa menebak wanita seperti apa yang sedang berdiri di depannya.“Siapa kamu?” ulang Inara, nada suaranya dingin namun tajam.Wanita itu mengangkat dagu. “Saya yang harusnya bertanya. Kamu siapa dan sedang apa di kamar ini bersama Pak Nizam?”Inara tertawa kecil. Bukan karena lucu tapi karena kesal.“Untuk apa kamu bertanya seperti itu?” balasnya tegas. “Apa yang kalian lakukan pada Pak Nizam, hah?”Wanita itu terkekeh, terdengar dibuat-buat.“Hey, wanita… eh siapapun kamu,” ujarnya sinis, “aku ini kekasihnya Pak Nizam.”Inara memejamkan mata sesaat, menahan amarah yang mulai mendidih.“Kalian pikir aku orang bodoh?” suaranya meninggi. “Kalian pasti punya niat buruk. Kalian ingin menjebaknya!”Tatapan Inara berubah t
Hening itu terasa panjang bagi Nizam. Ia bisa mendengar detak jam dinding di ruang keluarga rumah tua keluarga Wijaya. Juga detak jantungnya sendiri yang terasa lebih keras dari biasanya. “Nak Nizam…” suara Nenek akhirnya terdengar. “Iya, Nek…” jawabnya hati-hati. “Menikah itu bukan perkara gampang. Apa kamu sudah benar-benar mengenal Nana?” Nizam menelan ludah. “Dia cucu kesayangan Nenek,” lanjut wanita sepuh itu. “Nenek sangat menyayanginya. Sejak kecil Nenek memanjakannya. Apa kamu akan tahan dengan sikap manjanya?” Papa Wijaya melirik ibunya sekilas. Meski kalimat itu terdengar seperti ujian, ada nada protektif yang wajar di dalamnya. Ia tahu betul putrinya memang sering bersikap sesuka hati walau tak pernah melampaui batas. “Nenek tidak pernah melarang apa pun yang ia lakukan selama itu baik,” sambung Nenek. “Dan Nenek tidak mau mendengar hal buruk tentang cuc
Pintu ruang rawat itu menutup pelan di belakang Saka.Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena luka di kepala dan lengannya yang masih berdenyut, tetapi juga karena sesuatu yang mengganjal di dadanya.Ia tak pernah membayangkan pertemuan itu akan terasa seperti tadi. Wajah pucat Mira. Tangis yang berusaha ia tahan. Kalimat lirihnya tentang musibah. Saka berhenti sejenak di lorong rumah sakit. Bau antiseptik kembali menusuk indra penciumannya. Ia memejamkan mata beberapa detik. Kejadian itu berputar lagi di kepalanya. Mobilnya melaju cukup cepat sore itu. Ia ingat jelas jalan yang sedikit lengang, pikirannya sibuk memikirkan urusan pekerjaan. Lalu dari jalur lain, sebuah mobil melesat kencang ke arahnya. Refleks. Setir dibanting. Rem diinjak, namun jarak terlalu dekat. Benturan keras. Suara kaca pecah. Tubuhnya terhuyung ke depan, sabuk pengam
Aroma antiseptik memenuhi lorong rumah sakit yang dingin. Lampu-lampu putih menyala terang, memantulkan bayangan langkah-langkah yang hilir mudik sejak sore tadi. Mira masih berada di ruang pemulihan pasca operasi. Tubuhnya terbaring lemah, tertutup selimut tipis, wajahnya pucat karena pengaruh anestesi yang belum sepenuhnya hilang. Di luar kamar perawatan, Akbar duduk di kursi pengunjung. Kedua tangannya saling bertaut, sikunya bertumpu pada lutut. Tatapannya kosong, sesekali menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat. Operasi itu berlangsung lebih lama dari yang ia perkirakan. Bayangan mobil ringsek dan tubuh Mira yang terjepit kembali terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tak lama berselang, sepasang suami-istri paruh baya menghampiri. Pak Assegaf, Ayah dan Bunda Adelia. “Bagaimana, Nak Akbar? Mira sudah sadar?” tanya sang ayah dengan wajah penuh kekh
Suasana meja pertemuan kembali mencair setelah kalimat tegas Nizam menggantung di udara. “Dia calon istriku.” Beberapa detik sunyi sempat tercipta, sebelum akhirnya tawa dan candaan pecah bersahut-sahutan.Inara yang sempat membelalak kini berusaha mengendal
Di Semarang, suasana rumah tua milik keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta. Angin sore berembus pelan melewati halaman luas dengan pohon-pohon rindang yang sudah puluhan tahun berdiri kokoh. Nizam baru saja menutup telepon dari Akbar. Kabar tentang
Jakarta masih sibuk seperti biasa, tetapi hari itu terasa jauh lebih berat bagi Akbar. Setelah memastikan sendiri kondisi para korban, ia berdiri cukup lama di lorong rumah sakit sebelum akhirnya memberanikan diri menghubungi Adelia.Tangannya sempat gemetar ketika mencari nama Lia di da
Jakarta terasa lebih padat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Akbar saja yang sedang tidak tenang sejak pagi. Gedung megah Niaga Perkasa berdiri kokoh di pusat bisnis ibu kota, dengan kaca-kaca tinggi yang memantulkan cahaya matahari siang. Di lantai paling atas, ruang CEO tampak lebih







