Pagi itu, suasana di kantor Yayasan Kusuma Bangsa terasa sangat berbeda dari atmosfer dingin menara kaca D-Next. Aroma kopi tubruk yang diseduh di dapur kecil yayasan beradu dengan wangi kertas-kertas baru dan detergen dari baju-baju santunan yang sedang dipacking. Dion, yang hari ini memilih tampil santai dengan kemeja flanel dan celana jins, duduk di sofa ruang tamu yayasan sembari mengamati Maya yang sedang sibuk berdiskusi dengan bendahara."Jadi, kalau kita pakai vendor yang ini, anggarannya bisa kita alihkan buat beli alat peraga edukasi lebih banyak?" tanya Maya serius sembari menunjuk angka di tabletnya."Betul, Bu Maya. Tapi kualitas bahannya agak sedikit di bawah standar yang kita mau untuk jangka panjang," jawab si bendahara.Dion tersenyum kecil. Ia suka melihat sisi ini dari Maya—tegas, teliti, namun tetap penuh empati. Tak lama, Maya menoleh ke arahnya dan tersenyum simpul."Kenapa senyum-senyum gitu, Yon? Aku nampak aneh ya kalau lagi
Last Updated : 2026-02-08 Read more