Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul
Read more