แชร์

Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

ผู้เขียน: Irbapiko
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10 08:46:01

Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.

Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai.

"Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.

Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 17 Labirin Luka di Lantai Atas

    Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 16 Luka yang Mencari Pelabuhan

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 15 Permainan di Balik Tirai Malam

    Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

    Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 13 Panas di Apartemen

    Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 12 Musuh dalam Selimut

    Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status