Home / Romansa / Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian! / Bab 18 Gairah di Karaoke

Share

Bab 18 Gairah di Karaoke

Author: Irbapiko
last update Last Updated: 2026-01-12 08:00:41

Sesampainya di kantor, Dion tampak kehilangan gairah hidupnya. Ia duduk di kursi CEO-nya yang empuk, namun matanya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Bram, yang sudah mengenalnya sejak masa kuliah, masuk tanpa mengetuk pintu sambil membawa aroma rokok yang khas.

"Muka lo kusut banget, Yon. Kayak kain pel nggak diperes seminggu," celetuk Bram sambil menjatuhkan diri di kursi depan meja Dion. "Habis dihajar Wawa kemarin, sekarang ditambah drama Maya? Lo butuh 'udara segar'.".

"Gue capek, Bram. Rasanya semua orang mau narik gue ke arah yang beda-beda," keluh Dion sambil menyandarkan punggungnya.

"Makanya, sore ini cabut cepet yuk. Kita ke tempat biasa, karaoke tempat gue biasa 'buang sampah' pikiran. Gue udah janji mau ketemu Laras, LC langganan gue yang paling ngerti cara bikin rileks," Bram mengedipkan mata.

Dion awalnya menolak. "Gue lagi nggak mood, Bram. Kepala gue mau pecah mikirin Wawa sa

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 20 Jeratan yang Mengencang

    Di sebuah apartemen kelas menengah di pinggiran Jakarta, suasana terasa pengap oleh asap rokok dan ketegangan yang nyaris meledak. Satria duduk di sofa dengan kemeja yang sudah kusut, sementara Wawa mondar-mandir di depannya sambil terus menatap layar ponsel dengan cemas."Sat, ini nggak mungkin! Masa kartu kreditku decline semua?" suara Wawa meninggi, nada bicaranya mulai melengking panik. "Tadi aku mau bayar belanjaan di supermarket bawah, malu-maluin banget di depan kasir!"Satria mengembuskan asap rokoknya kasar. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak gelisah. "Bukan cuma kartu kamu, Wa. Rekening bank yang kita pakai buat deposit ke agen di Surabaya juga diblokir. Katanya ada instruksi dari kantor pusat karena ada indikasi transaksi mencurigakan.""Pasti Dion!" Wawa menghentakkan kakinya ke lantai parket. "Dia bener-bener mau main kotor! Dia kan tahu itu satu-satunya peganganku sekarang setelah aku diusir dari rumah!"Satria mendengus sini

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 19 Janji di Ujung Malam

    Jarum jam di dasbor mobil menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dion memacu kendaraannya membelah sisa kemacetan Jakarta dengan pikiran yang berkecamuk. Aroma alkohol tipis dan parfum menyengat milik Lisa—LC yang tadi begitu agresif menempel padanya—masih tertinggal di kerah kemejanya. Ia sempat mengusap lehernya kasar, mencoba membuang sisa-sisa sensasi tangan Lisa yang tadi nyaris menyelinap masuk ke dalam celananya."Gila si Bram," gumam Dion sambil menggelengkan kepala. Ucapan Bram di karaoke tadi terus terngiang. Tentang pernikahan yang hanya menjadi beban dan hubungan transaksional yang jauh lebih jujur. Di satu sisi, Dion merasa logika itu masuk akal bagi pria yang baru saja dihancurkan oleh pengkhianatan, namun di sisi lain, ia tahu dirinya tidak bisa sekadar menjadi Bram.Ia punya harga diri yang berbeda. Dan malam ini, harga diri itu akan diuji oleh janji pukul sebelas kepada sang mantan ibu mertua.Begitu mobilnya memasuk

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 18 Gairah di Karaoke

    Sesampainya di kantor, Dion tampak kehilangan gairah hidupnya. Ia duduk di kursi CEO-nya yang empuk, namun matanya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kemacetan Jakarta. Bram, yang sudah mengenalnya sejak masa kuliah, masuk tanpa mengetuk pintu sambil membawa aroma rokok yang khas."Muka lo kusut banget, Yon. Kayak kain pel nggak diperes seminggu," celetuk Bram sambil menjatuhkan diri di kursi depan meja Dion. "Habis dihajar Wawa kemarin, sekarang ditambah drama Maya? Lo butuh 'udara segar'."."Gue capek, Bram. Rasanya semua orang mau narik gue ke arah yang beda-beda," keluh Dion sambil menyandarkan punggungnya."Makanya, sore ini cabut cepet yuk. Kita ke tempat biasa, karaoke tempat gue biasa 'buang sampah' pikiran. Gue udah janji mau ketemu Laras, LC langganan gue yang paling ngerti cara bikin rileks," Bram mengedipkan mata.Dion awalnya menolak. "Gue lagi nggak mood, Bram. Kepala gue mau pecah mikirin Wawa sa

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 17 Labirin Luka di Lantai Atas

    Keheningan di dalam apartemen Maya yang baru saja pecah oleh desah lega dan tangis haru, seketika berubah menjadi kaku yang mematikan. Bunyi kunci pintu yang diputar dengan kasar itu seolah-olah adalah lonceng kematian bagi ketenangan yang baru saja Dion bangun untuk Maya.Dion dengan sigap berdiri, mengancingkan kemejanya yang sempat berantakan dengan gerakan tenang namun waspada. Maya, di sisi lain, tampak gemetar hebat. Ia buru-buru merapikan dasternya, wajahnya yang tadi merona merah kini pucat pasi seperti kertas."Maya! Kamu di mana? Kok pintu nggak dikunci?!" suara Robi menggelegar dari arah lorong depan.Langkah sepatu pantofel Robi yang berat terdengar mendekat. Maya menatap Dion dengan tatapan memohon, matanya seolah berkata, 'Tolong, jangan sampai ada darah'. Dion hanya memberikan anggukan kecil, berdiri tegak di tengah ruang tamu, menunggu badai itu datang.Begitu Robi muncul di ambang ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya yang merah, mungkin karena alkohol atau kuran

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 16 Luka yang Mencari Pelabuhan

    Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden kamar tamu di rumah Bu Diana terasa begitu menyengat, seolah memaksa Dion untuk menghadapi realita yang makin kacau. Pikirannya masih dipenuhi sisa-sia aroma parfum yang berbeda dari semalam; antara manisnya vanila milik Santi di ruang kedap suara dan aroma floral elegan milik Bu Diana di ranjang king size-nya. Dion membasuh wajahnya kasar di wastafel.Saat ia hendak memakai jam tangan Rolex-nya, ponselnya bergetar panjang. Bukan dari Santi atau Bu Diana, melainkan dari Maya.Maya: "Yon, aku tahu kamu lagi suntuk banget setelah kejadian di apartemen Wawa kemarin. Kalau kamu butuh tempat yang bener-bener tenang buat sekadar napas tanpa ada gangguan siapa pun, kamu bisa ke apartemenku siang ini. Aku masak sup ayam buat bayiku, dan ada porsi lebih buat kamu. Robi lagi dinas luar kota."Dion menatap pesan itu cukup lama. Maya adalah sahabat Wawa, namun ia adalah satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar alat pemuas

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 15 Permainan di Balik Tirai Malam

    Dion pun melirik jam tangannya, lalu menatap Bu Diana yang masih menyesap tehnya dengan tatapan posesif."Bu," panggil Dion pelan, memecah kesunyian taman. "Soal tawaran Ibu untuk nemenin Ibu malam ini... Dion nggak bermaksud menolak. Tapi Dion ada janji yang nggak bisa dibatalkan dengan Santi di toko pusat."Gelas teh Bu Diana berdenting cukup keras saat menyentuh tatakannya. Matanya yang tajam langsung menatap Dion dengan kilatan cemburu yang tak bisa disembunyikan. "Santi lagi? Kenapa sih kamu lebih mentingin urusan toko kecil itu daripada istirahat di sini sama Ibu? Kamu tahu kan, Ibu sudah siapkan semuanya?"Dion menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. "Santi bantu Dion banyak hari ini, Bu. Dia yang buka akses data Satria sampai kita bisa gerak cepat ke apartemen Wawa. Dia menagih laporan itu beres malam ini. Dion nggak mau punya utang budi yang lama-lama sama dia."Bu Diana bersedekap, dadanya naik turun menahan kesal. "Halah, laporan atau cuma alasan dia saja biar bisa ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status