Share

Bab 11 Sarapan yang Panas

Penulis: Irbapiko
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-09 14:02:27

Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.

Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal.

"Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.

Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih.

"Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.

Tak lama, Bu Diana muncul
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 14 Makan Siang Berbumbu Intrik

    Dion menghentikan mobilnya di halaman rumah mewah Bu Diana dengan deru mesin yang terdengar seperti luapan emosinya. Napasnya masih sedikit memburu setelah konfrontasi panas dengan Satria di apartemen Wawa tadi. Di genggamannya, map berisi sertifikat rumah dan bukti-bukti baru terasa seperti senjata yang baru saja ia rebut dari medan perang.Begitu melangkah masuk, aroma rendang dan udang balado—menu favoritnya—sudah menyambut indra penciumannya. Namun, alih-alih merasa tenang, bulu kuduk Dion sedikit meremang melihat dua sosok wanita yang sudah duduk manis di meja makan. Bu Diana tampil elegan dengan terusan sutra yang menonjolkan aura matangnya, sementara Santi sudah berganti pakaian dengan blus tipis yang terlihat sangat santai—mungkin terlalu santai."Dion, akhirnya sampai juga. Gimana? Sudah beres urusan 'sampah' itu?" sapa Bu Diana dengan senyum manis yang penuh selidik.Dion menarik kursi, duduk tepat di tengah-tengah kedua wanita itu. "Sudah, Bu. Wawa sudah tanda tangan. Satri

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 13 Panas di Apartemen

    Dion menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam, membuat mesin sedan mewahnya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat. Napasnya masih terasa berat, bukan hanya karena sisa gairah yang sempat tersulut di kamar Bu Diana tadi, tapi karena amarah yang kini mulai mengambil alih.Ponselnya yang diletakkan di dashboard terus bergetar. Sebuah pesan dari Santi masuk.Santi: "Jangan gegabah, Yon. Wawa lagi emosi banget. Satria juga di sana. Kalau perlu bantuan 'cadangan', telepon aku aja ya, ganteng."Dion mendecih pelan. "Bantuan cadangan dengkulmu, San," gumamnya kesal. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang.Pikirannya melayang pada sertifikat rumah yang tadi sempat disinggung Maya melalui telepon. Rumah itu adalah hasil keringatnya selama tiga tahun lembur bagai kuda, dan sekarang Wawa ingin menggadaikannya demi pria yang bahkan tidak punya harga diri untuk keluar dari bayang-bayang masa lalu?Begitu sampai di area parkir apartemen, Dion tidak menunggu lama. Ia keluar dari mobil

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 12 Musuh dalam Selimut

    Pagi itu, suasana di kantor pusat raksasa properti milik keluarga Bu Diana terasa lebih dingin dari biasanya. Dion melangkah tegap melewati lobi, mencoba mengabaikan sisa-sisa aroma parfum mawar Bu Diana yang masih terasa menempel di ujung kemejanya setelah kejadian di kamar tadi pagi.Baru saja ia menduduki kursi kebesarannya, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Bram, sahabat sekaligus tangan kanannya, masuk dengan wajah tegang."Yon, kita punya masalah gede," ujar Bram tanpa basa-basi. Ia melemparkan sebuah map tipis ke atas meja jati milik Dion.Dion mengernyit, tangannya meraih map tersebut. "Masalah apa lagi? Urusan cerai Wawa belum cukup bikin kepala gue mau pecah?"."Ini bukan soal ranjang, ini soal dapur perusahaan," Bram duduk di depan Dion, suaranya merendah. "Gue dapet info dari orang dalem, Satria nggak cuma diem di balik jeruji besi. Dia mulai gerakin pion-pionnya. Ada aliran dana gelap yang masuk ke beberapa pemegang saham minoritas kita. Tujuannya cuma satu: mosi tidak

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 11 Sarapan yang Panas

    Suasana ruang makan di rumah mewah Bu Diana pagi itu terasa begitu kental dengan ketegangan yang kontras dengan aroma sedap nasi goreng gila dan emping renyah di atas meja. Dion, yang baru saja keluar dari kamar Bu Diana dengan napas yang masih sedikit berburu setelah sesi "pijat" yang menguras emosi, mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, ia tahu, di rumah ini tidak ada yang benar-benar normal.Santi sudah duduk manis di sana, menyesap kopi hitamnya dengan mata yang tidak lepas dari anak tangga. Begitu melihat Dion turun, ia menyeringai nakal."Lama banget mandinya, Yon? Apa dipijit dulu sama Ibu biar seger?" sindir Santi telak, suaranya renyah namun tajam.Dion menarik kursi, mencoba mengabaikan tatapan Santi. "Punggung Ibu kaku, San. Salah bantal katanya," jawab Dion pendek, tangannya meraih teko air putih."Halah, salah bantal atau kangen sentuhan tangan kamu?" Santi tertawa kecil, tawa provokatif yang membuat Dion nyaris tersedak air yang diminumnya.Tak lama, Bu Diana muncul

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 10 Singa Betina dalam Satu Kandang

    "Beda sama Ibu, Yon," bisik Bu Diana dengan suara yang serak namun dalam. Ia meletakkan telapak tangannya di atas paha Dion, lalu meremasnya pelan. "Ibu tahu apa yang pria seperti kamu butuhkan. Kamu itu pria kuat, Yon. Tapi Ibu lihat kamu kesepian. Wawa sudah keterlaluan menghancurkan harga diri kamu, dan Ibu nggak sanggup kalau harus lihat kamu menderita sendirian di rumah ini."Dion menatap mata mertuanya. Ada ambisi yang berkobar di sana, bercampur dengan gairah wanita matang yang sudah lama tidak tersentuh. "Bu, ini nggak benar. Aku ini menantu Ibu—maksudku, mantan menantu Ibu. Hubungan kita seharusnya punya batasan."Bu Diana tertawa kecil, suara yang terdengar sangat provokatif di tengah keheningan malam. "Aturan itu cuma buat orang yang hidupnya sudah bahagia dan sempurna, Dion. Faktanya, kita berdua ini sama-sama terluka. Kamu dikhianati istri, dan Ibu sudah kesepian bertahun-tahun sejak Papa Wawa meninggal. Apa salahnya kalau kita saling menyembuhkan? Apa itu dosa?"Wanita i

  • Ranjangku Jebol Gara-Gara Kalian!   Bab 9 Jamuan Makan Berduri

    Suasana ruang makan rumah mewah Bu Diana malam itu terasa begitu mencekam, meski aroma martabak telur dan rendang yang hangat memenuhi ruangan. Dion duduk di kursi tengah, terjepit di antara dua energi yang saling beradu. Sejak kejadian di kamar mandi tamu tadi, jantung Dion belum sepenuhnya kembali ke ritme normal."Dion, kok rendangnya cuma diaduk-aduk gitu? Ibu sengaja lho pesankan yang bumbunya kental, kesukaan kamu," suara Bu Diana memecah keheningan. Ia menatap Dion dengan kelembutan yang terasa begitu manipulatif.Dion mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Eh, iya Bu. Maaf, masih agak kepikiran urusan kantor tadi.""Kepikiran kantor atau... kejadian di rumah ini yang bikin kamu gagal fokus, Yon?" celetuk Santi sambil menyuap potongan martabak dengan gaya santai. Ia sudah berganti pakaian dengan slip dress tipis yang lagi-lagi sangat provokatif, seolah tidak terjadi apa-apa di kamar mandi beberapa menit lalu.Bu Diana menghentikan gerakan sendoknya. Ia melirik putrinya de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status