Asap dari panggangan masih bergerak tipis ke udara malam. Gelas-gelas mulai berkurang isinya. Wajah-wajah yang tadi tampan santai dan penuh tawa, kini mulai berubah sedikit serius.Terutama Satria.Pria itu meletakkan gelasnya di meja. Tatapannya berpindah dari Roman ke Julian, lalu ke Arga dan Vian.“Ada satu hal yang mau gue minta,” ucapnya dengan nada suara cukup tenang tapi membuat suasana berubah. Semua yang di situ mengenal Satria. Nada suara seperti itu berarti bukan lagi membahas soal Sheza, bayi, anak-anak atau kehidupan rumah tangganya.Arga ikut meletakkan gelasnya lalu menegakkan punggungnya. “Kita semua nyimak, Sat,” ucapnya.Satria diam beberapa detik. Lalu berkata pelan, “Gue mau kita nginget lagi semuanya.”Julian mengernyit.Lalu Satria kembali menyambung, “Kita harus inget semua yang terjadi sejak Prabu pergi.”Tiba-tiba angin malam bergerak melewati halaman belakang. Angin itu hangat membelai wajah mereka. Semua terlihat menghela napas pelan. Karena nama yang baru
Baca selengkapnya