Menatap berkas KUA yang bertuliskan nama lengkapnya dan Satria membuat perasaan asing yang tidak nyaman menggerogotinya. Sheza merasa ditarik ke sebuah lorong yang ia belum paham betul ke mana arah dan tujuannya. Ia malu. Bukan pada siapa-siapa melainkan pada Satria. Malu karena ia berdiri di sebelah pria itu bukan sebagai perempuan yang dipilih, tapi sebagai perempuan yang diselamatkan. Malu karena semua ini terjadi terlalu cepat, terlalu rapi, terlalu masuk akal sementara hatinya sendiri masih porak-poranda. Ada satu pikiran yang sejak tadi ia tekan, tapi kini mencuat tanpa bisa ditahan. Seharusnya pria seperti Satria menikmati hidupnya. Bebas. Tenang. Atau menikahi perempuan yang benar-benar pria itu cintai. Bukan mengikatkan diri pada seorang janda satu anak, penuh masalah, dan segudang luka yang bahkan belum selesai dipahami. Sheza melemparkan tatapannya keluar kaca mobil. Ia takut. Takut suatu hari nanti, ketika semua gugatan selesai, ketika hutang-hutang Prabu sudah ditutu
Last Updated : 2026-01-08 Read more