“Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar.” “Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke Pak Satria ….” Sheza mengangkat tangannya untuk mencegah. “Jangan, Mbak. Nggak semuanya harus dilapor ke Pak Satria. Bapak juga sibuk, kan? Nggak apa-apa. Nanti aku yang kasih tau sendiri, ya.” Sheza mengulas senyum. “Baik, Bu,” kata Tuti. “Mbak Tuti mau ngapain?” tanya Sheza, menjelang siang itu dia masih punya waktu beramah-tamah dengan Tuti sembari menunggu taksinya datang. Tuti menyadari arah pandangan Sheza yang tertuju pada kertas di tangannya. Ia mengangkatnya. “Oh, ini …. Ini jadwal tukang bersih-bersih yang datang ke rumah, Bu. Bersih-bersih rumah, laundry, tukang taman, tukang kolam, semuanya datang di waktu Bapak nggak ada di rumah.”
Read more