Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 26. Seiris Masa Lalu

Share

Bab 26. Seiris Masa Lalu

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-10 23:35:57

Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya.

Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja. Ia hanya sedang memperhitungkan beberapa hal.

Bukan soal angka atau besar-kecil yang akan dihasilkan Sheza. Yang dihitungnya tak lain soal waktu, ritme, dan seorang anak laki-laki yang sebentar lag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
kok sebel ya lihat orang tua prabu ga peduli sama sekali
goodnovel comment avatar
Yayu Hastiyani
Aku mikirnya ini prabu banyak pengeluaran untuk keluarganya, mana kuliah adiknya lagi.
goodnovel comment avatar
myue89
Ortunya Prabu harta ga ada, tapi gengsi aja gede. Dihhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 161. Bergerak Sendirian

    Sejak Alina dipindahkan ke rumah Julian, Satria belum pernah sekali pun menemuinya.Wanita itu lebih banyak diam. Hanya keluar kamar saat istri Julian datang ke paviliun, mengetuk pelan, lalu mengajaknya makan. Itu pun tidak lama.Tidak sampai satu jam, Alina sudah kembali masuk, menutup dirinya lagi di dalam ruang yang terasa terlalu sempit untuk menyimpan semua yang ia rasakan.Keterangan dari Alina … hampir tidak ada.Setiap kali Arga mencoba mendekat, wanita itu hanya menggeleng. Tangannya gemetar, matanya basah. Berkali-kali ia meminta maaf tanpa arah yang jelas. Lalu menangis lagi.Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan,tapi selalu berhenti tepat sebelum keluar. Seolah-olah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan,atau … terlalu berbahaya untuk dilepaskan.Yang jelas, Alina tidak lagi sekadar takut. Ia terlihat … menyesal.Dan penyesalan itu datang terlambat.Hal baru yang diketahui Arga, lalu langsung ia sampaikan pada Satria pagi itu, membuat suasana semakin buruk. Pon

  • KAMAR KEDUA   Bab 160. Ingat Sedikit Lagi

    Masih dari kejadian beberapa hari lalu.Malam setelah mendapatkan kiriman rekaman CCTV, Satria menenggelamkan dirinya di balik ruang kerja.Dengan lampu yang hanya menyala satu, ia duduk menatap layar laptop. Rekaman CCTV itu sudah ia putar berulang kali. Bukan dua atau tiga. Lebih dari itu. Sampai suara napasnya sendiri terdengar asing di telinganya.Sampai kopi yang dibuatkan Sheza tadi sudah surut, matanya masih mengamati tiap orang yang melintas di lorong apartemen Alina.Satu per satu aktivitas lewat seperti biasa di layar CCTV. Seorang penghuni yang paling dekat dengan kamera cctv masuk ke unitnya, tapping kartu. Lalu seorang kurir berdiri sebentar di depan pintudua orang berbincang singkat lalu pergi.Tidak ada yang aneh.Satria tidak berkedip.Lalu … frame berikutnya.Seorang satpam. Seragamnya rapi dengan topi terpasang. Tidak ada yang mencolok. Ia berjalan dari arah yang tidak terlihat kamera sebelumnya. Bukan dari pintu depan. Dan bukan dari lift yang biasa digunakan tamu.

  • KAMAR KEDUA   Bab 159. Titik Muak

    “…Mau ikut jadi pembunuh buat balesin dendam Prabu?”Kalimat Arga menggantung di udara seperti sesuatu yang terlalu tajam untuk langsung dijawab.Satria tidak langsung membuka mulut.Tatapannya masih lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Ada jeda … bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi seperti sedang memilih mana yang masih boleh diucapkan, dan mana yang sebaiknya tetap tinggal di dalam kepalanya.Sejurus kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar, matanya langsung mencari.“Siapa yang membawa pasien atas nama Alina?”Arga refleks melangkah maju. “Kami, Dok.” Satria mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara.“Silakan masuk sebentar. Saya perlu keterangan tambahan.”Pertanyaan Arga barusan terpotong begitu saja. Berganti dengan rasa penasaran soal apa yang terjadi pada Alina. Ruangan yang mereka masuki sangat dingin. Saat masuk ke sana mereka sudah tidak melihat Alina. Hanya bau antiseptik dan beberapa berkas yang sudah terbuka di atas meja. Satria dan Arga mene

  • KAMAR KEDUA   Bab 158. Cara Balas Dendam

    Arga yang melangkah masuk lebih dulu ke unit Alina, langsung menoleh ke atas. Suara pendingin udara yang kasar dan butuh perawatan menampakkan unit itu memang jarang ditempati. Saat melewati pintu, tangan Arga sudah terangkat menahan langkah yang di belakangnya. Saat tiba di depan pintu kamar yang terbuka, ia memandang Satria yang berdiri di belakangnya.“Memang ada. Bersuara. Minta keamanan telepon polisi,” pinta Arga setengah berbisik.Satria mengangguk dan memberikan perintah sesuai permintaan Arga. Setelahnya, ia tahu bahwa apa yang dilihat sahabatnya di kamar Alina bukan sesuatu yang biasa.“Sepertinya baru, Sat. Pelan-pelan aja. Aku nggak mau kita malah bikin dia takut.” Setelah mengatakan itu, ia berjalan pelan mendekati ranjang tempat Alina menelungkup. Punggungnya banyak bekas kuku dan memar karena pukulan.Satria yang sekilas saja sudah paham apa yang baru saja terjadi pada Alina, menarik selimut dari bagian bawah ranjang dan menutupi tubuh wanita itu.“Mbak Alina …,” panggi

  • KAMAR KEDUA   Bab 157. Hampir di Ujung Jalan

    “Mas Satria baru pulang?” tanya Sheza dengan suara mengantuk. Ia tertawa kecil mendekap kepala Satria. “Udah makan?” Saat ia menunduk yang tak tampak dari sisinya hanyalah kepala Satria yang kini berada di dadanya. Matanya terpejam menikmati keinginan Satria siang itu sambil menunggu jawaban.Cukup lama Satria berada di dadanya. Mengisap pelan puncak payudaranya seakan memang berharap bahwa ASI untuk bayi mereka sudah keluar.“Ada sedikit, Zee,” ucap Satria saat akhirnya pria itu kembali mendongak.Sheza tertawa dan memencet hidung Satria yang tinggi. “Belum ada. Malah beberapa hari lahiran baru bisa lancar. Nanti aku minum suplemen biar ASI-nya nya banyak.”“Aku bakal bikin kamu happy biar ASI-nya lancar.” Satria kembali mengecup puncak payudara Sheza dengan satu tangan memilin puting satunya.Gerakan Satria terlihat tenang. Atau lebih tepatnya, ia baru saja mendapat ketenangan itu beberapa saat yang lalu saat kehangatan Sheza menyentuh lidahnya.“Mas Satria lagi mikirin apa?” tanya

  • KAMAR KEDUA   Bab 156. Dalam Balutan Kehangatan 

    Suara pendingin udara dan kecupan basah mengisi siang di kamar kedua. Desahan dan pekikan Sheza terdengar bergantian, beraturan. Seiring dengan usapan dan gerakan jari yang tahu ke mana menemukan jalannya.Untuk kedua kalinya Sheza mengangkat pinggul dengan pekikan tertahan. Gerakan itu menjadi sebuah penanda bagi Satria untuk bangkit dan kembali membuka paha Sheza perlahan. Memberi ruang pada tubuhnya sendiri untuk masuk lebih dekat.Sheza berbaring dengan kedua tangan di atas kepala. Terlihat berusaha mengatur napas dan kembali menguasai diri setelah dua kali dihantam kenikmatan. Ia kembali mengikuti ke mana Satria membawa tubuhnya. Kali ini ia dibawa bergeser sampai benar-benar berada di tepi ranjang. Kedua kakinya dibuka lebih lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasakan bagian maskulin Satria mulai menekannya. Pelan, masuk lebih dalam. Ia meringis, lalu dalam detik yang berjalan sedikit lebih lambat, ia menghela napas lega ketika tubuhnya dipenuhi oleh Satria.Desah kenik

  • KAMAR KEDUA   Bab 77. Pria Dingin Itu

    Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 73. Yang Datang Membawa Tagihan

    Satria tiba lebih dulu. Jam di dashboard mobilnya menunjukkan pukul 06.58 ketika ia memarkirkan kendaraan di depan kafe yang masih setengah mengantuk. Kafe itu bukan tempat yang mencolok. Tidak populer di media sosial, tidak ramai, tidak murah dan justru itu para eksekutif sering memilih tempat i

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status