Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 22. Jangan Sampai Pusing

Share

Bab 22. Jangan Sampai Pusing

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 21:31:12
Menatap berkas KUA yang bertuliskan nama lengkapnya dan Satria membuat perasaan asing yang tidak nyaman menggerogotinya.

Sheza merasa ditarik ke sebuah lorong yang ia belum paham betul ke mana arah dan tujuannya.

Ia malu. Bukan pada siapa-siapa melainkan pada Satria. Malu karena ia berdiri di sebelah pria itu bukan sebagai perempuan yang dipilih, tapi sebagai perempuan yang diselamatkan.

Malu karena semua ini terjadi terlalu cepat, terlalu rapi, terlalu masuk akal sementara hatinya sendiri ma
juskelapa

Saya berencana membuat grup khusus untuk berbagi visual pasangan She-Sat melalui DM Instaagraam akun @juskelapaofficial selama novel Kamar Kedua on going di GoodNovel. Silakan DM saya "Kak Jus, mau masuk grup She-Sat" Ingat, ya Boeboo tersayang. Grup DM ini hanya untuk para Boeboo yang hati dan pikirannya seluas samudera. Grup itu semata hanya untuk berbagi cerita sesama pembaca juga berbagi visual AI bikinan juskelapa.

| 99+
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (29)
goodnovel comment avatar
Cheng Ciu
bang sat udah mulai tertarik
goodnovel comment avatar
Yanti Aching
satria ini sptnya sdh suka dgn sheza, tapi krn tau Prabu jg suka. satria mengalah. nyatanya satria pernah bilang, kalo Prabu cerita, mau diberikan kapal kargonya utk Prabu..
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
udah bau perempuan ya rumahnya bang sat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak De

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 39. Yang Tidak Diucapkan

    Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.” Ia berhenti sejen

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 43. Sedikit Penantian

    Karena tidak ingin Julian menunggunya, Sheza sudah duduk di foyer ketika suara klakson mobil terdengar. “Aku nggak telat, kan?” tanya Julian dengan senyum yang tidak biasa. Sheza menggeleng. “Nggak, Mas. Makasih udah jemput aku sama Athar.” Ia menggamit lengan Athar dan meminta adiknya naik ke k

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 33. Suara Batin Satria

    Ada malam-malam di mana Satria tak bisa memejamkan matanya. Bisa jadi karena terlalu lelah secara fisik, terlalu bersemangat akan sesuatu, atau beban-beban sebagai seorang pria yang terasa amat banyak dan perlu dikeluarkan. Seperti malam itu. Entah karena dia mulai gelisah akan sesuatu atau entah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 31. Bukan Tempat Pulang

    “Kami ada surat perjanjian khusus, Bu. Bawa surat dari KUA ke Rukun Warga. Kemarin dibantu tim legal perusahaan Mas Prabu. Aku kurang paham gimana tapi Mas Satria yang urus. Katanya karena kondisi khusus, demi keamanan aku dan Dio.” Sheza menghela napas. Setelah sekian lama mondar-mandir ke pengad

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status