Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 28. Boleh Menangis

Share

Bab 28. Boleh Menangis

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-10 23:36:04
Perjalanan pulang ke rumah terasa amat panjang dengan keheningan yang menyesakkan. Sheza melangkah gontai dengan tas, map dan amplop cokelat yang mungkin sudah muak dibawanya ke sana kemari.

Bahkan rumah yang biasanya memang sunyi, malam itu terasa terlalu sunyi. Televisi berbulan-bulan tak menyala. Dio yang biasanya tidur pukul sembilan malam, kini selalu tidur sebelum pukul delapan selama di sana.

Sheza berdiri cukup lama di ruang keluarga. Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (30)
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Msh adakah laki2 seperti Satria...sisain 1 donk ...
goodnovel comment avatar
Nurlelah Nur
Satria sebagai sahabat baik banget
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
mungkin memang dengan masalah ini cara takdir menyatukan mereka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 358. Dua Kabar dalam Satu Hari

    Pak Hendra menurunkan kertas itu perlahan, tangannya gemetar lebih hebat dari sebelumnya.Ia menatap ruangan di sekelilingnya. Foto-foto lama di dinding, lemari besi yang menyimpan rahasia puluhan tahun, kursi tempat ia sering duduk sendirian sejak Ratri dan Raka pergi.Matanya memanas. Untuk pertama kalinya sejak entah kapan terakhir, Hendra Kusuma Wijaya menangis tanpa berusaha menahannya, tanpa peduli ada yang melihat atau tidak.Ia meraih album foto yang tadi ditutupnya buru-buru, membukanya kembali. Halaman itu menunjukkan foto lama. Dua anak laki-laki berdiri di dermaga, tersenyum lebar, salah satunya mengenakan topi terlalu besar untuk kepalanya.Jarinya menyentuh foto itu pelan."Maaf, Salim," gumamnya, suaranya nyaris tidak terdengar di ruangan yang sunyi itu. "Maaf."Ia melipat surat itu kembali dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam amplop, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di samping album foto itu. Dua benda yang menyimpan seluruh hidupnya, diletakkan berdampingan

  • KAMAR KEDUA   Bab 358. Surat untuk Hendra, Sahabatku

    Satria menarik kursi di seberang meja, duduk, memperhatikan pria tua di hadapannya yang tampak semakin kurus sejak terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya yang dulu masih terawat rapi kini dibiarkan tumbuh lebih panjang dari biasanya, beberapa helai jatuh menutupi dahi. Sorot mata gagah dan percaya diri itu hilang entah ke mana."Gimana kabar keluarga, Sat? Istri? Nayla dan anakmu … siapa nama anakmu yang kecil?" tanya Pak Hendra, mencoba terdengar seperti biasa."Kabar keluarga baik-baik semua, Pak. Nayla, Dio, juga Sagara. Semuanya baik. Istri saya juga sangat baik. Sheza sedang menunggu lahiran. Mungkin minggu-minggu ini.""Oh, iya. Anakmu dari Sheza, sudah mau dua." Pak Hendra tersenyum tipis, meski matanya tampak jauh menerawang. "Cepat sekali waktu berjalan."Satria tidak menjawab, hanya mengangguk sopan."Kamu tau," lanjut Pak Hendra, menatap album tertutup di mejanya, "dulu saya juga pengen banyak anak. Tapi Tuhan cuma kasih Ratri." Ia tertawa pelan, suara yang terdengar lebih

  • KAMAR KEDUA   Bab 357. Sebuah Titipan

    Kandungan Sheza sudah memasuki bulan kesembilan, dan malam itu ia belum juga bisa tidur. Kontraksi palsu datang dan pergi sejak sore, membuatnya gelisah berpindah posisi berkali-kali di atas ranjang. Kapan saja bisa terjadi, kata dokter kandungannya minggu lalu."Sini, Mas," katanya, membalikkan tubuh miring, menarik ujung kaus Satria. "Punggungnya pegel banget. Oles minyak telon dong."Satria meraih botol kecil dari laci nakas, menuangkan sedikit ke telapak tangannya, lalu mulai mengusapkannya perlahan di punggung Sheza yang sudah lama tidak merasakan posisi tidur nyaman."Rania jadi pulang minggu ini?" tanya Satria, melanjutkan obrolan yang sempat terhenti."Harusnya. Tapi aku tahan dia." Sheza mengerang pelan ketika Satria menekan satu titik yang terasa paling pegal. "Minimal tunggu aku lahiran dulu, Mas. Untungnya dia mau.""Oh, iya. Roman kemarin chat, lho." Satria terkekeh, mengusap area pinggang istrinya. "Makasih katanya, karena kamu nahan Rania.""Roman jadi mau nganterin? Em

  • KAMAR KEDUA   Bab 356. Secangkir Kopi Larut Malam

    Pukul sepuluh malam, restoran mulai sepi. Nadine berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan dan wajah yang sudah memutuskan sesuatu.“Pak Damar … makasih buat makan malam yang sangat menyenangkan buat kami, terutama buat Nayla.” Tangannya menyentuh bahu Nayla yang berdiri tegak di depannya.“Saya juga senang sekali. Semuanya sesuai dengan yang saya harapkan. Terutama ada bintang tamu yang pinter ini.” Damar menyodorkan kepalan tangannya. Nayla menyambutnya dengan mengadu kepalan tangan mereka. “Saya antar, ya.”"Kamj pulang berdua aja, Pak Damar. Seperti datang tadi. Aman,” kata Nadine dengan nada optimisnya seperti biasa."Saya tidak meragukan keamanannya," jawab Damar. "Saya meragukan jalanan Jakarta jam segini.""Sudah puluhan tahun saya nyetir sendiri jam segini.""Kalau begitu, begini saja." Damar mengulurkan tangan, setengah bercanda. "Saya yang bawa mobil Ibu. Ibu dan Nayla duduk manis. Nanti saya pulang naik taksi dari rumah Bu Nadine.”Nadine langsung menggeleng. "Da

  • KAMAR KEDUA   Bab 355. Makan Malam Sempurna (2)

    Ruang privat restoran itu didominasi warna krem lembut dengan pencahayaan temaram yang hangat. Satu meja bundar diatur di tengah ruangan, taplaknya putih bersih, tiga set alat makan tersusun rapi. Sebuah vas kecil berisi bunga segar diletakkan di tengah meja, bukan berlebihan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa lebih istimewa dari makan malam biasa.Damar sudah berdiri menunggu ketika pintu ruangan itu terbuka. Ia mengenakan kemeja biru dongker, lengan tergulung rapi sampai siku, jauh dari penampilan kasualnya yang biasa terlihat berantakan di kantor konsultan kecilnya."Bu Nadine." Ia tersenyum, lalu menoleh ke sosok mungil yang berdiri di samping Nadine, matanya langsung berbinar. "Dan ini pasti Nayla."Nayla mengangguk, sedikit malu-malu, tapi matanya penuh rasa ingin tahu memandangi pria di depannya dari atas ke bawah."Halo, Nayla. Saya Damar," katanya, berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Nayla, mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang akhirnya bisa ketemu kamu la

  • KAMAR KEDUA   Bab 354. Makan Malam Sempurna (1)

    Begitu pembicaraan dengan Nayla selesai, Nadine segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Damar.Nadine:Nayla udah siap. Kami berdua udah siap.Balasan pesan itu tidak butuh waktu lama.Damar:Oke. Biar saya yang atur. Saya mau bikin makan malam paling menyenangkan buat Nayla.Nadine membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit gugup membayangkan pertemuan itu benar-benar akan terjadi.**********Dua minggu kemudian, di Jalan Pine II No. 8, suara ketukan palu kecil memantul pelan di dinding bengkel kerja Satria.Siang itu ia sedang berkutat dengan sebuah lempengan emas kuning yang tipis dan memanjang, menempa bagian tepinya dengan hati-hati di atas landasan baja. Kacamata pembesarnya terpasang di hidung, dan beberapa alat ukir tersusun rapi di sampingnya—sketsa desain yang baru setengah jadi tergeletak di sudut meja kerja.Langkah kecil terdengar dari arah pintu. Satria menghentikan ketukannya, menoleh."Nay?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status