LOGINSeumur hidupnya, Satria tidak pernah benar-benar hidup tanpa masalah.Ia sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Dengan sesuatu yang diambil darinya sebelum sempat ia pertahankan.Orang tuanya. Perusahaan keluarganya. Nama yang harus ia bangun ulang dari nol. Pernikahan yang tidak bertahan. Dan setelah itu … ketenangan yang selalu datang dengan syarat.Ia terbiasa.Masalah baginya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Hanya sesuatu yang harus diselesaikan.Selalu begitu.Hanya saja … dulu, ia selalu sendirian.Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang perlu ia jaga dengan cara berbeda.Sampai Sheza masuk dalam hidupnya.Dan untuk pertama kalinya, Satria merasakan sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya.Bahwa masalah … bisa terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang di dekatnya.Bukan karena membantu menyelesaikan.Tapi karena … ada.Dan sekarang yang membuatnya paling berat bukan masalah itu sendiri.Tapi Sheza yang ada di dekatnya, tapi memilih diam.Rumah siang itu terasa terl
Satria berdiri menatapnya. Terlihat bahwa pria itu mendengar tiap kalimatnya.Sheza menarik napas kecil.“Aku ngerti Mas sibuk. Aku ngerti Mas lagi banyak pikiran.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku sama anak-anak harus berhenti hidup nunggu Mas terus.”Satria tidak menyela, masih berdiri di tempatnya. Dan Sheza pelan-pelan duduk menegakkan punggungnya.“Aku di rumah, aku nurut. Aku nunggu.” lanjut Sheza. “Tapi waktu aku keluar sebentar … Mas marah. Tanpa jelasin apa-apa. Salahku di mana?”Ia menatap Satria lebih dalam.“Aku ini istri Mas. Bukan orang yang cuma disuruh diam dan ikut tanpa ngerti kenapa.”“Aku tadi harus menjelaskan agak sedikit lebih panjang ke Nadine soal Nayla yang pulang sore.” Satria mengawali kalimatnya dengan tenang. Ia melangkah ke sofa untuk duduk di dekat Sheza. Tapi wanita itu sedikit beringsut.“Mas marah karena harus menjelaskan ke Mama Nayla?” Suara Sheza sangat pelan. “Aku jadi bingung ini soal apa. Soal aku yang keluar tanpa Mas atau soal ak
Mereka kembali ke mobil dengan langkah tenang. Arga masuk ke mobil lebih dulu.Satria menyusul ke belakang kemudi dan menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari komplek.Saat baru melaju beberapa meter, mata Satria menangkap sesuatu ketika menoleh ke kiri.Sebuah mobil yang terasa tidak asing melintas meninggalkan jajaran ruko. Mobil itu terasa familiar.Satria menyipitkan mata.Tangannya refleks sedikit menahan setir.“Ga ….”Arga menoleh.“Lihat itu.” Satria menunjuk dengan isyarat dagunya.Mobil yang dimaksud Satria mulai menjauh. Keluar dari komplek.Satria menekan gas sedikit.“Kayaknya … itu mobil yang kita lihat di CCTV.” Nada suaranya rendah.Arga langsung menatap ke depan.Mencoba menangkap bentuknya.Garis bodinya.Sekilas. Lalu saat plat mobil tidak terlihat, ia menggeleng pelan.“Mirip,” katanya. “Tapi … nggak yakin.”Satria tidak menjawab lagi. Tapi matanya masih mengikuti mobil itu yang semakin jauh.Beberapa detik.Cukup untuk membuatnya ragu atau justru s
Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko tak berpenghuni. Lalu mereka turun dan mulai berjalan. Mengamati nomor bangunan yang tersembunyi atau yang mulai pudar. Mereka berjalan pelan. Dari satu blok ke blok lain.Kalau ada orang yang kebetulan melintas, mereka bertanya.Di bagian ujung salah satu blok, ada pintu ruko yang terbuka. Dua orang pria muda sedang menaikkan kantong semen ke mobil pickup.Arga berhenti untuk bertanya. “Perusahaan ini, Mas, tau?”Dua orang pria muda itu menggeleng. “Belum pernah dengar.”Jawaban yang sama berulang di beberapa tempat. Sampai akhirnya mereka berhenti di bagian belakang salah satu blok.Sebuah gudang yang pintu besinya tertutup rapat. Nomor bangunannya sesuai. Alamatnya cocok. Tapi tetap saja tidak ada tanda apa-apa.Satria berdiri di depan pintu itu beberapa detik. Tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin. Seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.Kosong.Arga melirik ke dalam melalui celah kecil.Gelap. “Ini harusnya
Matahari sudah tinggi tapi Satria masih duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya masih rapi belum tergulung. Pertanda ia belum banyak bergerak sejak tiba di kantor pagi tadi. Meski tampak tenang, dahinya yang mengernyit mengisyaratkan isi pikirannya bergumul di antara tumpukan berkas yang terbuka.Ada satu nama yang sejak tadi tidak bisa lepas dari kepalanya.Alina.Mau beberapa kali pun ia periksa, berkas perjanjian kerja Alina paling aneh di antara semuanya. Sangat berbeda dengan berkas perjanjian kerja Anton dan Prabu.Ia baru saja menutup satu file ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponselnya. “Z” Satria langsung mengangkat.“Zee?”“Mas lagi sibuk?” suara itu lembut, seperti biasa. Tapi selalu berhasil menariknya keluar dari apa pun yang sedang ia pikirkan.Satria menghela napas pelan. “Iya. Kenapa?”“Jadwal kontrol aku udah lewat dua minggu.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat Satria diam beberapa detik.Ia memijat pelipisnya pelan.“Maaf,” ucapnya r
“Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia menunduk, memeluknya lebih erat.“Aku juga mau baring di sini sama kamu, Zee,” gumamnya rendah.“Tapi belum bisa.”Ia mengusap punggung Sheza pelan.“Aku pengen hidup kita tenang. Bangun pagi tanpa mikirin apa-apa … cuma nunggu bayi ini lahir.”Ia kembali mengecup kepala Sheza.“Sampai itu bisa terjadi … aku harus beresin dulu semuanya.”Sheza lalu membuka matanya yang tadi terpejam dan pelan-pelan duduk bersandar dibantu oleh Satria. Satu tangannya menahan selimut menutupi dada.“Aku mau melakuk
Kalimat pendek yang tidak memberi ruang untuk tawar-menawar dengan cepat disanggupi. Dan di sanalah Satria. Kopi hitamnya belum disentuh ketika matanya menangkap sosok perempuan yang berjalan masuk sendirian. Alina. Rambutnya tergerai rapi, pakaiannya sederhana tapi jelas mahal. Ia tidak memegan
“Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny
Sheza terbangun saat rumah masih gelap. Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam mas
Bagi sebagian orang, ritme hubungan mereka mungkin akan terlihat terlalu cepat. Terlalu berani. Terlalu tergesa-gesa. Seolah semua terjadi tanpa jeda. Namun bagi Satria, justru sebaliknya. Baginya, mereka sudah berjalan sangat jauh … hanya untuk sampai pada satu hal sederhana; duduk berdampingan,







