Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 25. Perdebatan Pertama

Share

Bab 25. Perdebatan Pertama

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-09 22:51:14

Rasanya Sheza sekarang lebih hafal lorong pengadilan dibanding suasana hatinya sendiri. Ia tahu di mana lantai sedikit lebih licin, di mana bangku yang kakinya goyah, di mana suara pendingin ruangan terdengar paling keras. Bahkan langkah para panitera tak lagi asing di telinganya.

Di rumah, Dio mulai sering bertanya setiap kali ia mengenakan pakaian rapi dan membawa map tipis. “Ke pengadilan lagi, Bun?”

Kalau beruntung, Sheza bisa bertemu Dio sepulang dari pengadilan. Kadang ia hanya kebagian
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (32)
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
karya kak njus selalu luar biasa
goodnovel comment avatar
Siti Rofikoh
cerita ini memberi banyak pelajaran...bahasax ringan...tidak muter2..makasi thor
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
apa iyah Prabu sengaja bundir krn ga sanggup nanggung bebanya sendri???? ahhhhh terlaru rumit dipikirkan banyak y kemungkinan.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 156. Dalam Balutan Kehangatan 

    Suara pendingin udara dan kecupan basah mengisi siang di kamar kedua. Desahan dan pekikan Sheza terdengar bergantian, beraturan. Seiring dengan usapan dan gerakan jari yang tahu ke mana menemukan jalannya.Untuk kedua kalinya Sheza mengangkat pinggul dengan pekikan tertahan. Gerakan itu menjadi sebuah penanda bagi Satria untuk bangkit dan kembali membuka paha Sheza perlahan. Memberi ruang pada tubuhnya sendiri untuk masuk lebih dekat.Sheza berbaring dengan kedua tangan di atas kepala. Terlihat berusaha mengatur napas dan kembali menguasai diri setelah dua kali dihantam kenikmatan. Ia kembali mengikuti ke mana Satria membawa tubuhnya. Kali ini ia dibawa bergeser sampai benar-benar berada di tepi ranjang. Kedua kakinya dibuka lebih lebar. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia merasakan bagian maskulin Satria mulai menekannya. Pelan, masuk lebih dalam. Ia meringis, lalu dalam detik yang berjalan sedikit lebih lambat, ia menghela napas lega ketika tubuhnya dipenuhi oleh Satria.Desah keni

  • KAMAR KEDUA   Bab 155. Yang Dibutuhkan Tanpa Kata

    Seumur hidupnya, Satria tidak pernah benar-benar hidup tanpa masalah.Ia sudah terlalu akrab dengan kehilangan. Dengan sesuatu yang diambil darinya sebelum sempat ia pertahankan.Orang tuanya. Perusahaan keluarganya. Nama yang harus ia bangun ulang dari nol. Pernikahan yang tidak bertahan. Dan setelah itu … ketenangan yang selalu datang dengan syarat.Ia terbiasa.Masalah baginya bukan sesuatu yang harus ditakuti. Hanya sesuatu yang harus diselesaikan.Selalu begitu.Hanya saja … dulu, ia selalu sendirian.Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang perlu ia jaga dengan cara berbeda.Sampai Sheza masuk dalam hidupnya.Dan untuk pertama kalinya, Satria merasakan sesuatu yang tidak pernah ia hitung sebelumnya.Bahwa masalah … bisa terasa lebih ringan hanya karena ada seseorang di dekatnya.Bukan karena membantu menyelesaikan.Tapi karena … ada.Dan sekarang yang membuatnya paling berat bukan masalah itu sendiri.Tapi Sheza yang ada di dekatnya, tapi memilih diam.Rumah siang itu terasa terl

  • KAMAR KEDUA   Bab 154. Saat Aku Butuh Kamu

    Satria berdiri menatapnya. Terlihat bahwa pria itu mendengar tiap kalimatnya.Sheza menarik napas kecil.“Aku ngerti Mas sibuk. Aku ngerti Mas lagi banyak pikiran.” Ia berhenti sebentar. “Tapi bukan berarti aku sama anak-anak harus berhenti hidup nunggu Mas terus.”Satria tidak menyela, masih berdiri di tempatnya. Dan Sheza pelan-pelan duduk menegakkan punggungnya.“Aku di rumah, aku nurut. Aku nunggu.” lanjut Sheza. “Tapi waktu aku keluar sebentar … Mas marah. Tanpa jelasin apa-apa. Salahku di mana?”Ia menatap Satria lebih dalam.“Aku ini istri Mas. Bukan orang yang cuma disuruh diam dan ikut tanpa ngerti kenapa.”“Aku tadi harus menjelaskan agak sedikit lebih panjang ke Nadine soal Nayla yang pulang sore.” Satria mengawali kalimatnya dengan tenang. Ia melangkah ke sofa untuk duduk di dekat Sheza. Tapi wanita itu sedikit beringsut.“Mas marah karena harus menjelaskan ke Mama Nayla?” Suara Sheza sangat pelan. “Aku jadi bingung ini soal apa. Soal aku yang keluar tanpa Mas atau soal ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 153. Perselisihan Lagi

    Mereka kembali ke mobil dengan langkah tenang. Arga masuk ke mobil lebih dulu.Satria menyusul ke belakang kemudi dan menyalakan mesin. Mobil mulai bergerak pelan keluar dari komplek.Saat baru melaju beberapa meter, mata Satria menangkap sesuatu ketika menoleh ke kiri.Sebuah mobil yang terasa tidak asing melintas meninggalkan jajaran ruko. Mobil itu terasa familiar.Satria menyipitkan mata.Tangannya refleks sedikit menahan setir.“Ga ….”Arga menoleh.“Lihat itu.” Satria menunjuk dengan isyarat dagunya.Mobil yang dimaksud Satria mulai menjauh. Keluar dari komplek.Satria menekan gas sedikit.“Kayaknya … itu mobil yang kita lihat di CCTV.” Nada suaranya rendah.Arga langsung menatap ke depan.Mencoba menangkap bentuknya.Garis bodinya.Sekilas. Lalu saat plat mobil tidak terlihat, ia menggeleng pelan.“Mirip,” katanya. “Tapi … nggak yakin.”Satria tidak menjawab lagi. Tapi matanya masih mengikuti mobil itu yang semakin jauh.Beberapa detik.Cukup untuk membuatnya ragu atau justru s

  • KAMAR KEDUA   Bab 152. Tanpa Sepengetahuanmu

    Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko tak berpenghuni. Lalu mereka turun dan mulai berjalan. Mengamati nomor bangunan yang tersembunyi atau yang mulai pudar. Mereka berjalan pelan. Dari satu blok ke blok lain.Kalau ada orang yang kebetulan melintas, mereka bertanya.Di bagian ujung salah satu blok, ada pintu ruko yang terbuka. Dua orang pria muda sedang menaikkan kantong semen ke mobil pickup.Arga berhenti untuk bertanya. “Perusahaan ini, Mas, tau?”Dua orang pria muda itu menggeleng. “Belum pernah dengar.”Jawaban yang sama berulang di beberapa tempat. Sampai akhirnya mereka berhenti di bagian belakang salah satu blok.Sebuah gudang yang pintu besinya tertutup rapat. Nomor bangunannya sesuai. Alamatnya cocok. Tapi tetap saja tidak ada tanda apa-apa.Satria berdiri di depan pintu itu beberapa detik. Tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin. Seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.Kosong.Arga melirik ke dalam melalui celah kecil.Gelap. “Ini harusnya

  • KAMAR KEDUA   Bab 151. Yang Mulai Terhubung

    Matahari sudah tinggi tapi Satria masih duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya masih rapi belum tergulung. Pertanda ia belum banyak bergerak sejak tiba di kantor pagi tadi. Meski tampak tenang, dahinya yang mengernyit mengisyaratkan isi pikirannya bergumul di antara tumpukan berkas yang terbuka.Ada satu nama yang sejak tadi tidak bisa lepas dari kepalanya.Alina.Mau beberapa kali pun ia periksa, berkas perjanjian kerja Alina paling aneh di antara semuanya. Sangat berbeda dengan berkas perjanjian kerja Anton dan Prabu.Ia baru saja menutup satu file ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponselnya. “Z” Satria langsung mengangkat.“Zee?”“Mas lagi sibuk?” suara itu lembut, seperti biasa. Tapi selalu berhasil menariknya keluar dari apa pun yang sedang ia pikirkan.Satria menghela napas pelan. “Iya. Kenapa?”“Jadwal kontrol aku udah lewat dua minggu.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat Satria diam beberapa detik.Ia memijat pelipisnya pelan.“Maaf,” ucapnya r

  • KAMAR KEDUA   Bab 98. Tamu Perempuan

    Kalimat pendek yang tidak memberi ruang untuk tawar-menawar dengan cepat disanggupi. Dan di sanalah Satria. Kopi hitamnya belum disentuh ketika matanya menangkap sosok perempuan yang berjalan masuk sendirian. Alina. Rambutnya tergerai rapi, pakaiannya sederhana tapi jelas mahal. Ia tidak memegan

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 97. Masih Terlalu Pagi

    Sheza terbangun saat rumah masih gelap. Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam mas

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 94. Rasa yang Tertahan

    Bagi sebagian orang, ritme hubungan mereka mungkin akan terlihat terlalu cepat. Terlalu berani. Terlalu tergesa-gesa. Seolah semua terjadi tanpa jeda. Namun bagi Satria, justru sebaliknya. Baginya, mereka sudah berjalan sangat jauh … hanya untuk sampai pada satu hal sederhana; duduk berdampingan,

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status