"Ada apa, Dharma?" tanya Helios pelan, suaranya serupa bisikan ular yang berbahaya. Tatapan matanya menusuk, seakan ingin menelanjangi isi hati lawan bicaranya. "Bukankah kau bilang ingin berterima kasih atas semua kebaikan yang telah saya berikan?"Pria itu, Dharma muda, menggenggam erat tangannya sendiri. Tubuhnya tampak tegang, seolah sedang berjuang menahan sesuatu yang berat. "Itu benar," jawabnya lirih, penuh keraguan. "Tapi ini salah."Helios terdiam sesaat, matanya menyipit penuh ancaman. Namun, suara langkah kakinya kemudian menjauh, hingga bayangan sosok hitam itu lenyap dari pandangan.Dalam hening yang menyisakan ketegangan, Eryas akhirnya memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya. Tubuhnya bergetar hebat. Setiap langkah bagai siksaan baru. Bajunya lusuh, penuh bercak darah yang sebagian telah mengering, sebagian lain masih menetes segar, membasahi lantai dengan jejak mengerikan. Luka-luka terbuka menghiasi kedua lengannya, kulitnya
Terakhir Diperbarui : 2026-03-06 Baca selengkapnya