Eryas duduk di ruangannya, tubuhnya bersandar pada kursi kerja yang terasa semakin dingin dan keras. Tatapannya tak lepas dari layar ponsel yang masih gelap, seolah menunggu kapan saja sebuah pesan akan masuk. Ketegangan menjalar ke setiap urat sarafnya. Ia menatap refleksi samar wajahnya sendiri di layar, lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jari yang gemetar oleh frustasi."Eira, kenapa kau tiba-tiba ingin mandiri seperti ini, Eira? Ini terlalu cepat untukmu," gumamnya lirih, suara yang tertahan di antara kekhawatiran dan rasa tidak berdaya.---Di rumah, Eira duduk sendirian di sofa ruang tamu yang terasa terlalu luas untuk tubuh mungilnya. Ponsel pemberian Eryas berada di genggamannya, dingin di telapak tangan, seolah menekan jantungnya sendiri. Tatapannya goyah, berpindah dari layar ke lantai, lalu kembali ke layar.'Kak Eryas sudah memberitahu masa lalunya padaku. Sekarang giliranku, kan? Bagaimana sekarang caranya menceritakan ma
Dernière mise à jour : 2026-03-13 Read More