"Huwaa!" Eira tiba-tiba menangis keras, tangisannya pecah seperti bendungan yang jebol. Dia memeluk tubuh Eryas dengan erat, begitu erat hingga pria itu bisa merasakan betapa tubuh mungil Eira bergetar hebat dalam pelukannya. Air mata membanjiri wajahnya, membasahi baju Eryas, seolah menumpahkan seluruh rasa takut dan putus asa yang selama ini ia tahan.Eryas terdiam sesaat, tidak menyangka akan melihat Eira rapuh seperti ini. Namun di balik senyumnya yang tipis, ada gurat duka yang tersembunyi. "Eira, ada apa, ini? Kenapa menangis seperti itu?" tanyanya pelan, mencoba menenangkan. Sudut bibirnya sedikit naik, mencoba mencairkan suasana. "Apa kau menangis karena tidak ingin membunuhku? Kau sudah jatuh cinta padaku, ya?""Iya! Aku tidak mau! Aku tidak mau!" jerit Eira, memeluk Eryas semakin erat, seolah takut pria itu akan menghilang seketika. Kepalanya menempel di dada Eryas, tangisnya berubah menjadi isakan yang dalam dan mengguncang tubuh. "Kalau kau mati, siapa
Terakhir Diperbarui : 2026-02-15 Baca selengkapnya