Eryas perlahan melepaskan kedua tangan Eira yang masih ia genggam. Gerakannya tenang. Namun, terasa berat, seolah tidak ingin kehilangan kontak dengan kulit lembut itu. Ia lalu meraih kembali mangkuk sup yang mulai mendingin di atas meja, uapnya masih mengepul samar di udara, meninggalkan aroma kaldu yang menenangkan. Dengan gerakan hati-hati, ia menyuapkan sendok ke bibir Eira. Tatapannya teduh, tapi ada sesuatu di balik ketenangan itu. Semacam kesabaran yang terjalin dengan rasa khawatir. “Habiskan dulu makananmu! Setelah selesai, kita akan mencari paket A untukmu.” Mendengar kalimat itu, Eira spontan menatapnya dengan mata sedikit membulat. “Sekolah?” tanyanya, nada suaranya terdengar terkejut, seolah tak percaya. “Bukankah kita sudah sepakat untuk punya anak dulu sebelum aku tidak bisa punya anak? Sekolah bisa nanti!” rengek Eira, suaranya melunak di akhir, seperti anak kecil yang takut keinginannya ditolak. Eryas hanya terkekeh pelan. Nada tawanya rendah, dalam, nyaris sepe
최신 업데이트 : 2026-03-17 더 보기