Ara berjongkok perlahan, jemarinya terulur mengambil selembar kertas kusut yang tergeletak di lantai, tepat di dekat kaki Eira yang masih berdiri terpaku. Udara di ruangan itu terasa berat, seolah berhenti bergerak. "Apa itu?" suara Aezar memecah keheningan, nada penasaran. Namun, waspada terdengar jelas. Kertas itu sedikit lembap di ujungnya, mungkin karena darah yang sempat menetes dari seseorang sebelumnya. Ara membuka mulut, membaca kalimat yang tertulis dengan huruf besar, kasar, seolah ditulis dengan amarah. "Renaldy adalah peringatan untuk kalian semua. Jika kalian berani buka mulut tentang kami, maka kami tidak akan segan-segan untuk menghabisi kalian detik itu juga. Terutama Eryas dan Dharma." Suara Ara terdengar datar, tapi udara di sekitarnya berubah dingin. Eryas menunduk pelan, menatap surat itu dengan sorot mata yang gelap. Wajahnya kaku, rahangnya menegang. Sementara di sisi lain, Dharma hanya menggertakkan giginya, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya,
Last Updated : 2026-03-17 Read more