LOGIN"Apa kau marah?" Sabrina bertanya sambil menyipitkan matanya, menatap lekat pada pria di hadapannya dengan perasaan waswas. Kael mengangkat sebelah alisnya, mencoba mempertahankan wibawa kepemimpinan O’Shea yang biasa tak tergoyahkan."Kenapa kau tanya begitu?" ia malah balik bertanya dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. "Bukankah barusan kau marah-marah tidak jelas padaku?"Dengan bibir yang sedikit mengerucut, Sabrina menjawab, "Kita ’kan baru baikan. Jadi... aku merasa tidak enak jika harus menolak tawaranmu." Kael menghela napas panjang, sorot matanya melembut. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memberikan senyum yang sangat jarang ia perlihatkan kepada mitra bisnisnya."Hei, tidak masalah kalau kau tidak bisa ikut den
Sabrina terdiam, dadanya bergemuruh hebat hingga terasa menyakitkan. Di detik itu, kesadarannya menghantam keras. Kemarahannya yang meledak-ledak bukan karena ego yang terusik, melainkan ketakutan nyata akan kehilangan pria tua bangka yang paling menyebalkan dalam hidupnya ini.“Sudahlah. Sana pergi!” Kael kembali duduk lalu memalingkan wajahnya, seolah benar-benar akan mengabaikan keberadaan gadis itu. Hingga kemudian...,"Aku peduli, bodoh! Aku tidak ingin kau pergi!" teriak Sabrina akhirnya, mengakui kejujurannya dengan cara yang masih penuh amarah dan sisa tangis. Kael cepat menoleh, kini tidak melepaskan tatapannya sedikit pun dari Sabrina. Ia tetap berge
Setengah jam kemudian, suasana di dalam kamar Ganda terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang baru saja melanda meja makan. Pria itu baru saja merebahkan tubuhnya, berniat memejamkan mata setelah hari yang melelahkan. Namun, getaran dari gawainya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Sebuah pesan masuk dari Gladis.[Rencana kita sepertinya berhasil. Tadi Sabrina bertanya padaku.] Ganda mengulas senyum tipis yang penuh arti. Ia meletakkan kembali ponselnya, menarik selimut, dan akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata, provokasi kecilnya di telepon tadi adalah bagian dari skenario yang jauh lebih besar. Keesokan paginya, Sabrina sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya di kantor. Ia telah mengirimkan seluruh laporan dan daftar tuga
Pesan ketus itu muncul di layar gawai Ganda tepat saat ia baru saja hendak menyuap nasi gorengnya.Kael:[Tanyakan saja padanya, adikmu yang masih sangat muda dan sok bijak itu. Kau 'kan kakaknya!] Ganda langsung meringis, nyaris tersedak. Jawaban itu lebih dari cukup untuk mengonfirmasi dugaannya. Atmosfer ruang makan yang mendadak beku dan semprotan Sabrina tadi bukanlah tanpa alasan. Dua orang keras kepala itu jelas sedang terlibat perang dingin yang cukup hebat. Ganda segera meletakkan sendoknya dan bergegas bangkit, mencoba mengejar Sabrina yang sudah melangkah cepat menuju pintu depan. Ia berniat meminta penjelasan yang lebih manusiawi daripada pesan teks Kael yang tajam. Namun, belum sempat dirinya bersuara, Sabrina sudah memberikan isyarat t
Deru mesin mobil mewah itu membelah jalanan malam dengan kecepatan yang tidak wajar. Di dalam kabin, suasana yang beberapa jam lalu terasa hangat oleh sisa aroma gula kapas kini berubah mencekam. Kael mencengkeram kemudi dengan rahang yang mengeras sempurna, tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak tersentuh. Sabrina duduk mematung di sampingnya. Ia berkali-kali menoleh, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan, namun setiap kali melihat profil wajah Kael yang kaku, kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ada rasa bersalah yang mengganjal, namun di saat yang sama, harga dirinya juga terusik. Setiap kali lampu jalan menyinari kabin, mata Kael menangkap sepasang sandal karakter kucing konyol yang masih mereka kenakan. Alih-alih lucu, itu justru menjadi tamparan bagi eg
Asap tipis mengepul dari panggangan jagung di pinggir jalan, membawa aroma mentega yang gurih dan bumbu pedas manis yang menggugah selera. Di atas kursi plastik biru yang sedikit goyang, Kael kini duduk dengan posisi yang sangat tidak biasa bagi pria sekelasnya. Jas mahalnya tersampir di sandaran kursi, kemeja putihnya yang masih digulung tadi tampak kontras dengan suasana pasar malam yang berdebu. Sabrina tidak bisa berhenti tertawa. Ia memegang jagung bakarnya dengan santai, sementara di sampingnya, Kael menatap tongkol jagung itu seolah sedang menghadapi dokumen audit yang paling rumit. Kael memegang jagung itu dengan ujung jarinya, sangat berhati-hati seolah satu tetes bumbu saja bisa meruntuhkan harga diri yang ia sandang."Pegang yang benar. Jangan kaku begit
Jantung Sabrina berdegup liar, memukul-mukul rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Sosok pria di bawah lampu jalan itu, siluet yang menyalakan rokok dengan kemiringan kepala yang begitu spesifik, terlalu identik dengan han
"Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek
Kael mungkin menganggap ini tidak penting, tetapi Gladis tahu satu hal. Kael tidak pernah membiarkan orang asing tinggal di rumahnya. Jangankan orang asing, kolega bisnis terdekat pun tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki di ruang pribadinya setelah jam kerja. Bagi Kael, rumah adalah
Lorong itu tiba-tiba terasa lebih sempit. Sabrina tidak langsung menjawab. Kalimat barusan masih menggantung di udara, terlalu tajam untuk dianggap bercanda.“Maaf, Bu?” suaranya tetap sopan, tapi nadanya tak la







