Masuk"Maaf, Tuan. Saya tadi mencari udara segar di balkon dan.."
"Udara segar sampai harus menghilang selama tiga puluh menit saat acara inti dimulai?" potong Kael tajam. "Kau di sini sebagai perwakilan resmi, bukan tamu yang bisa seenaknya keluyuran."
Riko yang merasakan ketegangan itu mencoba menengahi dengan suara tenang. "Tenanglah, Pak Kael. Sabrina tadi bersama saya. Dia hanya sedikit pusing karena suasana yang terlalu ramai."
Kael akhirnya menoleh pada Riko, namun hanya
Udara di ruang tengah kediaman O’Shea mendadak membeku, seolah seluruh oksigen telah dihisap keluar oleh kemurkaan yang meledak dalam kesunyian. Kael menyentakkan tangannya dari rahang Sabrina dengan gerakan kasar, seolah-olah kulit halus gadis itu baru saja menyengatnya dengan tegangan listrik ribuan volt yang menjijikkan. Ia mundur dua langkah besar, matanya menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi yang begitu ngeri, seperti baru saja menyentuh bangkai yang membusuk. Tanpa mengalihkan pandangan, Kael mengusapkan telapak tangan itu berkali-kali ke celana kainnya. Sebuah gestur penghinaan yang begitu dalam, merobek martabat Sabrina lebih telak daripada tamparan fisik mana pun."Biarkan dia di sini, Victor. Jangan biarkan dia keluar satu jengkal pun dari gerbang rumah ini," suara Kael terdengar rendah, namun setiap katanya tajam seperti bilah belati yang dihunus. Ia menatap lurus ke arah dinding kosong di belakang Sabrina, menolak memberikan kontak mata
"Aku akan membunuhnya." Suara Kael terdengar begitu tajam, memotong udara dingin di dalam kabin jet pribadi yang sedang membelah angkasa menuju Jakarta. Namun, di balik ketajaman itu, ada getaran serak yang tak bisa disembunyikan. Sebuah retakan kecil dari hati yang baru saja dihantam kenyataan paling pahit. Setelah berkata demikian, Kael membelakangi Victor, menatap kosong ke arah kegelapan di luar jendela pesawat. Victor menunduk takzim, lalu izin pamit undur diri ke bagian belakang kabin. Begitu merasa cukup jauh, ia segera mengangkat gawai yang sejak tadi bergetar di saku jasnya."Apa kami harus menyandera gadis itu? Saat ini posisi kami sudah..""Diamlah!" sahut Victor dengan bisikan yang menekan, memotong laporan anak buahnya di seberang telepon
Lantai granit di bawah kaki Kael terasa sedingin es, namun panas di dadanya tidak bisa diredam oleh sistem pendingin udara canggih di bunker Alpen, Swiss. Di hadapannya, layar-layar raksasa menampilkan peta digital jalur logistik Eropa yang kini dipenuhi tanda silang merah."Sita semua asetnya. Jangan sisakan satu peluru pun keluar dari perbatasan Jerman-Polandia," perintah Kael, suaranya parau namun tajam. "Aku ingin Adrian Pratama merasakan apa artinya kehilangan segalanya dalam semalam." Kael menatap arloji mewah di pergelangan tangannya. Detik yang bergerak terasa seperti detak jantung yang memburu. Firasatnya memburuk seiring dengan semakin dekatnya ia pada kemenangan di Eropa."Tuan, jika Anda pergi sekarang, Anda akan melewatkan pertemuan krusial dengan intelijen Jerman di Berlin," Victor memperingatkan melalui saluran audi
"Aku hanya mau ke kantor, Mas Teguh," ujar Sabrina dengan nada frustrasi. Ia sudah rapi dengan setelan kerjanya, tas kulit tersampir di bahu, namun langkahnya dihadang oleh tubuh tegap Teguh yang berdiri kokoh di depan pintu utama.Teguh tidak bergeming sedikit pun, wajahnya sekaku beton. "Maaf, Mbak Sabrina. Perintah Tuan Kael tidak bisa dibantah. Untuk sementara waktu, Mbak dilarang meninggalkan area rumah."Sabrina menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca karena bingung dan merasa tertekan. "Tapi kenapa?”"Keamanan Anda adalah prioritas utama Tuan saat ini, Mbak. Mohon kerja samanya," tegas Teguh lagi, tanpa memberikan celah sedikit pun.“Tapi, Mas..”"Jangan berteriak di pagi hari, Sabrina. Itu tidak sopan," ucap Gladis datar, matanya menyapu penampilan Sabrina yang sudah rapi.Sabrina menoleh cepat.
Lantai basemen kediaman O’Shea tidak hanya berisi deretan mobil mewah. Di balik dinding kedap suara yang tersamar sebagai rak anggur, terdapat sebuah lift baja yang membawa Kael turun ke unit komando rahasianya. Ruangan itu dingin, dipenuhi pendar biru dari belasan layar monitor yang melacak pergerakan satelit di atas Samudera Atlantik."Status The Valkyrie?" tanya Kael, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. Victor, yang muncul melalui sambungan video terenkripsi di layar utama, segera menggeser sebuah peta digital. "Kapal kargo itu baru saja melewati batas perairan internasional Hamburg, Tuan. Mereka menggunakan kode diplomatik lama milik mendiang ayah Anda, protokol 'Iron Hand' yang seharusnya sudah mati belasan tahun lalu."Kael mengepalkan rahangnya hingga urat lehernya menegang. "Berani-beraninya Adrian menggunaka
"Apalagi di bagian saat pelayan restoran itu terpeleset kulit pisang. Dia jatuh tepat di pangkuan bapak-bapak yang sedang melamar kekasihnya ‘kan?" Sabrina tertawa renyah, tubuhnya masih sedikit terguncang karena sisa geli yang tertinggal di perutnya. Kael tidak menahan senyumnya kali ini. Ia menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di jendela mobil. "Bagian itu konyol. Tapi wajah pria yang membawa cincin itu jauh lebih lucu. Dia terlihat seperti baru saja melihat hantu, bukan melihat pelayan.""Benar! Matanya hampir keluar dari kelopak," sahut Sabrina sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena terlalu banyak tertawa. "Sudah lama saya tidak tertawa sampai sesak napas seperti ini. Terima kasih, Tuan. Ternyata Anda punya selera humor juga."Kael hanya mendengus rendah, namun ta







