“Ayo katakan!” Itu dikatakan Sabrina sembari memandang Kael dengan tatapan berapi-api penuh emosi yang tertahan. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya masih mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memucat. Di dalam kabin mobil yang mendadak sunyi setelah sentakan rem mendadak di bahu jalan itu, Sabrina menuntut jawaban. Kael tidak langsung membalas dengan bentakan. Menghadapi kobaran amarah dan kecemburuan yang meletup-letup dari kekasihnya, sepasang mata elang pria itu justru melunak. Ada gurat kelelahan yang nyata di sana, berbaur dengan rasa takut yang teramat besar akan kehilangan. Secara perlahan, Kael mengulurkan kedua tangannya. Ia meraih jemari Sabrina, melepaskan cengkeraman erat gadis itu dari setir mobil, lalu menggenggamnya dengan lembut namun penuh penekanan."Aku mau kau melihatku saja. Hanya fokus pada kita berdua. Bukan Rosaleen, bukan juga Daniel," ucap Kael, nadanya berangsur rendah dan teramat dalam.
Baca selengkapnya