“Bagaimana, Saksi?” tanya penghulu. Para saksi menjawab serempak, “SAH!” Seluruh tamu yang hadir di ballroom pun mengucap, “Alhamdulillah.” Sagara, yang baru saja resmi menjadikan Jingga sebagai istrinya, menunduk sejenak. Dia menyeka air mata yang lolos tanpa permisi. Katanya gak suka Jingga? Lalu kenapa sampai menangis? Mungkinkah itu hanya bagian dari perannya sebagai pengantin pria? Atau memang diam-diam dia sudah menyimpan rasa pada istrinya, hanya saja terlalu gengsi untuk mengaku? Jawabannya… hanya Tuhan dan Sagara yang tahu. Pengantin wanita akhirnya keluar dari kamar. Jingga kini berjalan memasuki ballroom, melewati lorong indah yang dipenuhi bunga peony segar. Semuanya terlihat begitu cantik—nyaris seperti adegan dalam dongeng. Kayla menggandeng sahabatnya. Langkahnya tampak anggun, di bawah pengawasan tatapan tajam Bundanya. “Mereka lihatin kamu, Kay,” gumam Jingga. Dia merasa kurang percaya diri karena semua pasang mata tertuju ke arahnya. “Eggaklah, J
続きを読む