Suasana kediaman Eyang Maya, khususnya di bagian dapur, sangat ramai setelah kedatangan Jingga. Suara alat masak beradu, minyak panas dimasuki sesuatu, hingga terikan Bibi saat melihat gadis itu memecahkan telur hingga cangkangnya ikut trecampur.Entah menjadi berkah atau justru musibah bagi Eyang Maya… cucu menantunya kini menginap di kediamannya. “Loh, Non, ini tadi cekernya belum dicuci, ya?” tanya Bibi ketika Jingga memintanya mencicipi sop ceker buatannya. Jingga yang sedang membaluri tempe dengan tepung menoleh. “Sudah dong, Bi,” jawabnya. “Memangnya kurang bersih, ya?”“Bukan kurang bersih, Non. Tapi masih ada kukunya.” Bibi meringis ke arah Jingga. “Belum dipotong,” lanjutnya. “Loh, kukunya harus dipotong, ya?” Harap maklum, Jingga belajarnya belum sampai di tahap itu. “Aku pikir nanti jadi empuk dan pas dimakan kriuk-kriuk gitu, Bi.” Bibi pun tak mendebat lagi. Kini dia memikirkan bagaimana caranya mengambil kuku-kuku pada ceker yang sudah setengah matang itu. Dia sangat
Read more