Setelah dinyatakan hamil, Jingga diperlakukan seperti anak kecil oleh Sagara. Apa pun yang hendak dia lakukan selalu dilarang, dengan alasan takut membahayakan baby twins yang bahkan masih sebesar kecambah.Setiap langkahnya diawasi. Berdiri terlalu cepat, ditegur. Jalan agak jauh, langsung dicegah. Bahkan sekedar mengambil air minum sendiri pun, Sagara sudah lebih dulu melakukannya.Pokoknya Jingga sudah jengah dengan sikap overprotektif suaminya.Tapi… percuma saja dia protes berkali-kali, karena Sagara sama sekali tidak mau peduli.“Sayang, mau ke mana?”Jingga memutar bola mata, lalu kembali mengangkat sebelah kakinya. “Mau ngecek lantainya dingin apa enggak,” jawabnya kesal.Sementara Sagara mengangkat sebelah alisnya. “Dingin?”Di kamar yang luas, mewah, dan cozy itu, lantainya dilapisi karpet tebal, termasuk di bawah ranjang. Jadi, alasan Jingga jelas terdengar tidak masuk akal.Jingga langsung tersadar. Lalu berdehem. “Em, maksudnya—” ucapnya, mulai mencari alasan lain. “Aku m
Read more