Suasana di dalam vila privat itu benar-benar sunyi, hanya menyisakan suara embusan angin malam Zurich yang sesekali menghantam dinding kaca besar. Nando, seperti biasa, sudah menjalankan tugasnya dengan sempurna. Seluruh staf hotel ditarik mundur, lampu-lampu di sekitar dermaga dimatikan kecuali beberapa titik remang-remang di ruang tengah yang memberikan nuansa oranye keemasan. Keenan masih memeluk Aruna di atas sofa velvet panjang tersebut. Namun, pelukan itu bukan lagi sekadar pelukan haru. Gairah yang sempat tertahan selama rapat MediCore, ditambah kabar kehamilan Aruna yang tak terduga, membuat hormon Keenan bergejolak hebat. Bagi Keenan, kabar ini adalah bentuk kemenangan mutlak atas egonya, terutama di depan Adrian. "Kamu benar-benar luar biasa, Sayang," bisik Keenan, suaranya kini serak dan berat. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya hanya untuk menatap wajah Aruna. "Kapan kamu mengetahuinya? Kenapa baru bilang sekarang?" Aruna mengusap rahang Keenan yang kokoh, merasakan tek
Read More