Keenan mulai menciumi leher Aruna, menghisap kulit halusnya dengan intensitas yang membuat Aruna meremang. Tangan Keenan masuk ke bawah baju rumah sakit yang dikenakan Aruna, mengusap punggungnya yang mulus dengan telapak tangan yang panas. "Ahhh... Keenan..." Aruna mendesah, kepalanya terkulai ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi Keenan. Meskipun dalam kondisi emosional yang kacau, gairah di antara mereka selalu menjadi pelarian paling nyata. Keenan melumat bibir Aruna dengan lapar, seolah-olah sedang menyerap semua keraguan istrinya ke dalam dirinya. Sentuhan-sentuhan itu menjadi bahasa bisu bahwa apapun yang terjadi di masa lalu, Aruna tetap miliknya sekarang. "Kamu hanya milikku, Aruna. Masa lalumu, rahasiamu, bahkan luka-lukamu... Semuanya tanggung jawabku," gumam Keenan di sela ciumannya. Keenan melepaskan ciumannya saat ponselnya bergetar di saku celana. Ia melihat nama Nando di layar. [Y
Read More