Suasana di dalam Presidential Suite The St. Regis terasa begitu mencekam sekaligus panas. Namun begitu mereka kembali dari gedung pertemuan, Keenan tidak membuang waktu. Ia tidak mengizinkan Aruna mandi atau bersiap-siap sebelum ia menuntaskan 'klaim' yang ia janjikan. Aruna kini bersandar lemas di meja rias, napasnya tersengal-sengal. Gaun biru dongkernya sudah teronggok di lantai. Keenan berdiri di antara kedua paha Aruna, tangannya mencengkeram pinggang istrinya dengan posesif. Ia menunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghisap kulit halus itu dengan kuat hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan yang mencolok. "Keenan... Ahh, hentikan... Pelan sedikit, nanti membekas," rintih Aruna sambil meremas rambut hitam Keenan. "Memang itu tujuan ku, Sayang," geram Keenan dengan suara serak. Ia beralih ke sisi leher yang lain, memberikan tanda yang sama. "Aku ingin setiap orang di meja makan nanti, terutama Vincent, melihat
Read more