“Sssttt.. Diam Aruna.. Cium aku, tubuhku membutuhkanmu..” Hasrat yang sempat membeku akibat ego kini mulai mencair. Aruna membalas ciuman itu dengan penuh kerinduan, membiarkan lidah mereka bertautan dalam irama yang emosional. Keenan mengerang pelan, bukan karena sakit di bahunya, tapi karena gairah yang meledak-ledak saat merasakan balasan dari Aruna. Ia menarik pinggang Aruna dengan tangan yang tidak terinfus, mencoba merapatkan tubuh mereka meskipun terhalang pagar ranjang. "Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu, Aruna. Kamu boleh marah padaku, boleh menghukummu tapi jangan menjauh dan menghindari ku.." bisik Keenan di sela ciuman mereka. Aruna mendesah pelan, tangannya meremas rambut Keenan. "Jangan pernah lagi meragukan ku... Berjanjilah." "Aku berjanji, sayang. Aku akan mengurungmu di sampingku selamanya, tapi kali ini dengan cinta, bukan dengan kemarahan," balas Keenan dengan tatapan elang yang mu
Read more