"Aku mau membantumu ganti baju. Kamu harus istirahat dengan pakaian yang lebih nyaman," kata Keenan. “Tapi, kenapa kamu juga membuka pakaian?!” Aruna memperhatikan wajah Keenan yang tampak datar. Keenan tidak menjawab, ia hanya mendekat, membantu Aruna duduk di tepi ranjang. Tangan Keenan merayap ke punggung Aruna, mencari ritsleting gaun hamil krem yang dikenakannya. Saat ritsleting itu terbuka, udara dingin kamar menyentuh kulit mulus Aruna, namun sentuhan jemari Keenan yang panas jauh lebih terasa. “Keenan..” “Ssttt.. Jangan bersuara, atau kamu bisa membangunkan si naga..” Keenan menurunkan bagian bahu gaun itu, matanya terpaku pada tanda merah di ceruk leher Aruna yang ia buat tadi pagi di kantor. Gairahnya tersulut kembali. Ia menunduk, mengecup bahu Aruna dengan sangat lembut, lalu beralih ke lehernya. "Keenan... dokter bilang..." suara Aruna melemah, napasnya mulai tidak beraturan. "Aku tahu... aku cuma menciummu, Aruna," bisik Keenan di telinga istrinya. Napas pana
Read more