Share

CHAPTER 51.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 13:50:59
Dokter Hayes melanjutkan, suaranya tetap profesional.

“Kalian … bercintalah.”

Sunyi terasa berat menyapu ruangan observasi itu.

Alis Jay menukik ke atas sedikit terkejut. Napasnya mulai berat. “Apa Anda tak salah dengan observasi terakhir ini?”

Dokter Hayes mengangguk singkat, lalu melanjutkan.

“Saya perlu meneliti apa yang membuat Anda, Tuan Russell, mampu mencapai klimaks dengan istri Anda. Respons biologis Anda berdua mungkin saling terhubung. Jika kita tidak mengujinya secara langsung
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 53.

    Jay menelan ludah, napasnya memburu berat. Tapi wajahnya masih menimbang–nimbang untuk langkah selanjutnya. “Kamu udah nggak bisa tahan?” tanyanya, berbisik rendah. Vanya mengangguk cepat. Napasnya masih tidak stabil, wajahnya memerah padam. “Aku udah nggak nahan, Jay,” ucap Vanya parau. “Aku mohon. Aku … berasa kayak terbakar. Panas ….” Jay meneliti setiap ekspresi wajah Vanya yang terus mendesah kecil di mulutnya. Napas mereka masih bertabrakan oleh hasrat. Jay menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sebentar. Tubuhnya bergerak condong ke meja di sisi ranjang dan mengambil kondom medis yang sudah disediakan khusus oleh Dokter Hayes. Jay membuka celananya beserta dalamannya, lalu memasangkan kondom dengan tangan terlatih ke asetnya hingga terpasang rapi. Jay mengangkat wajahnya dan menangkap pemandangan istrinya yang masih menunggu suaminya dengan setia. Napas Vanya masih memburu, tapi ada kilat mata berbinar dengan senyuman manis di wajahnya

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 52.

    Vanya menegang di tempat. Napasnya terhenti sepersekian detik ketika mendengar kata ‘bersedia’ keluar dari mulut Jay.“Jay … kamu yakin?” tanyanya berbisik. Ia menatap suaminya dengan mata membulat, penuh keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Dokter Hayes, dingin dan tajam.“Pastikan ini murni untuk observasi,” kata Jay pelan, suaranya rendah tapi mengandung ancaman. “Tidak ada agenda lain.”Dokter Hayes mengangguk tanpa ragu. “Murni observasi, Tuan Russell. Tujuan kami adalah menemukan formula injeksi penekan feromon yang lebih maksimal. Bukan hanya untuk kondisi normal, tapi juga di tengah krisis emosi negatif dan stres berat seperti yang sudah dialami Nyonya Russell.”Ia berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian melalui kaca helm.“Jika kami bisa memetakan bagaimana feromon Nyonya berinteraksi dengan respons biologis Tuan Russell, kami bisa menyusun senyawa yang menahan lonjakan hormon bahkan saat tubuh berada d

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 51.

    Dokter Hayes melanjutkan, suaranya tetap profesional. “Kalian … bercintalah.” Sunyi terasa berat menyapu ruangan observasi itu. Alis Jay menukik ke atas sedikit terkejut. Napasnya mulai berat. “Apa Anda tak salah dengan observasi terakhir ini?” Dokter Hayes mengangguk singkat, lalu melanjutkan. “Saya perlu meneliti apa yang membuat Anda, Tuan Russell, mampu mencapai klimaks dengan istri Anda. Respons biologis Anda berdua mungkin saling terhubung. Jika kita tidak mengujinya secara langsung, kita hanya akan berspekulasi tanpa bukti ilmiah dan data.” Napas Jay terasa semakin berat. Vanya menatapnya, wajahnya masih memerah, tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Hayes melanjutkan dengan tenang, “Tidak ada yang akan mengawasi. Data hanya akan diambil dari sensor hormon dan partikel udara di luar ruangan. Privasi tetap milik kalian.” Napas Vanya masih memburu. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Dibenaknya, ucapan Dokter Hayes barusan terus terulang. Observasi terakhir. Melibatkan Ja

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 50.

    Di ujung lorong, sebuah pintu otomatis terbuka perlahan setelah Dokter Hayes menempelkan kartu akses khusus. Di balik kaca tebal itu terlihat ruangan luas dengan dinding transparan berlapis ganda. Di dalamnya terdapat satu kursi observasi, panel monitor besar, serta alat-alat yang tampak lebih seperti laboratorium penelitian daripada ruang periksa biasa. Udara di dalam ruangan itu terlihat terlalu bersih. Dokter Hayes berhenti tepat di depan pintu kedap suara tersebut dan menoleh pada Vanya. "Mulai dari sini, kita akan melihat seberapa kuat tubuh Anda sebenarnya, Nyonya Russell.” Pintu itu terbuka dengan bunyi desis pelan. “Silakan masuk.” Jay berdiri satu langkah di belakang Vanya. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Boston, ia merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Bukan karena feromon, melainkan karena instingnya sendiri. Ruangan itu terasa seperti tempat di mana rahasia tidak lagi bisa disembunyikan. Pintu ruang observasi tertutup rapat dengan bunyi des

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 49.

    Jay berhenti di ambang pintu kamar tidur utama suite. Tubuhnya membeku seketika. Vanya berdiri di depan cermin besar, punggungnya menghadap pintu. Ia sedang mengenakan lingerie linen tipis berwarna krem yang hampir transparan, potongannya sederhana tapi sangat minim. Bagian atas hanya menutupi dada dengan tali tipis yang melintang di punggung, sementara bagian bawah berupa G-string yang nyaris tak menutupi apa-apa. Kain linen itu menempel lembut di kulitnya, memperlihatkan lekuk pinggang dan garis punggung yang halus. Vanya baru menyadari kehadiran Jay. Ia menoleh cepat, matanya membelalak. “Ah!” jerit kecilnya langsung pecah. Ia buru-buru berlari kecil ke balik ranjang, menarik selimut putih tebal dan membungkus tubuhnya rapat-rapat sampai hanya kepala yang kelihatan. Wajahnya memerah hebat, mata membulat panik. “Jay! Jangan masuk dulu!” Jay tetap berdiri di tempatnya. Matanya masih tertuju ke arah Vanya, tapi ekspresinya datar seperti biasa. Hanya alisnya yang sedikit terangka

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 48.

    Jay berdiri di depan jendela suite, tangan masih memegang ponsel. Matanya menatap kota Boston yang mulai menyala lampu-lampu malam, tapi pikirannya tidak di sana. Pesan Helena tadi masih terpampang di layar mengenai Bianca Moretti muncul dan menghadang Helena, tepat setelah kepergiannya dan Vanya. Di benaknya, ini bukan kebetulan. Ia menekan tombol panggil. Ponsel berdering dua kali sebelum Helena mengangkat. “Jay,” suara Helena langsung terdengar lelah tapi tegas. “Kamu baca pesan saya?” Jay tidak buang waktu. “Sudah aktifkan pengalihan jaringan?” Helena menghela napas pendek. “Aktif. Semua komunikasi kita sekarang lewat jalur tertutup.” “Berapa lama aman?” “Beberapa menit. Lebih lama dari itu, resikonya naik.” Jay mengangguk sendiri meski Helena tidak bisa melihat. “Bagus. Ceritakan dari awal.” Helena menghela napas di seberang. “Semalam jam 23:45 saya keluar dari shift di basement. Empat pria menghadang di depan mobil. Dua langsung menyerang saya, dua lagi menjaga dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status