Share

CHAPTER 54.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-13 12:00:03

Jay terdiam dengan napas masih tersengal hebat. Dahinya berkerut ragu.

Vanya masih diatasnya menunggu respons Jay yang tak kunjung ada. Napasnya masih belum stabil, tapi aroma Vanya perlahan menguap di udara.

Vanya akhirnya bertanya dengan suara serak. "K-kenapa?"

Dada Jay masih naik turun, tapi akhirnya menjawab dengan suara parau. Sekejap ia mengepal tangannya sebentar, napas tertahan.

“Kita nggak usah lanjutkan observasi yang … konyol ini.”

“Jay? Tapi kan kamu yang setuju—”

“Cukup d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 55.

    Ruangan observasi itu terasa berbeda setelah ronde kedua berakhir. Tidak lagi dipenuhi napas memburu atau ketegangan yang membakar. Kini hanya ada dengung lembut sistem ventilasi, cahaya kuning hangat yang memantul di dinding steril, dan panel monitor kecil di sudut ruangan yang berkedip hijau stabil. Vanya duduk diam di tepi ranjang observasi. Selimut tipis masih menutupi tubuhnya. Napasnya perlahan kembali teratur. Jay duduk di sampingnya. Ia menarik Vanya ke dalam pelukannya, dagunya bertumpu di bahu Vanya. Tangannya mengusap perut Vanya pelan—gerakan refleks, lembut, hampir seperti memastikan bahwa semuanya masih utuh yang sarat karena kekhawatiran. Vanya menatap lurus ke dinding ruang isolasi. Lampu kuning lembut membuat bayangan mereka terlihat menyatu di permukaan kaca satu arah. Panel monitor di sudut masih menyala hijau. Hening yang panjang. Dibenaknya, satu kalimat berulang pelan: ‘Jay benar. Tubuhku bukan bagian dari grafik dokter.’ Ia menarik napas panjang. “Jay,

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 54.

    Jay terdiam dengan napas masih tersengal hebat. Dahinya berkerut ragu. Vanya masih diatasnya menunggu respons Jay yang tak kunjung ada. Napasnya masih belum stabil, tapi aroma Vanya perlahan menguap di udara. Vanya akhirnya bertanya dengan suara serak. "K-kenapa?" Dada Jay masih naik turun, tapi akhirnya menjawab dengan suara parau. Sekejap ia mengepal tangannya sebentar, napas tertahan. “Kita nggak usah lanjutkan observasi yang … konyol ini.” “Jay? Tapi kan kamu yang setuju—” “Cukup dua,” potong Jay lembut, tapi tegas. “Cukup dua, dan kita sudahi. Aku setuju tadi karena berpikir ini satu-satunya cara. Tapi sekarang, aku lihat kamu hampir pingsan.” Vanya mengernyit bingung, mulai protes meski napasnya masih terengah. “Tapi Jay … ini demi stabilitas kondisi tubuhku untuk jangka panjang.” Vanya menggeleng pelan, matanya mulai berair. “A-aku nggak mau membebani kamu lebih jauh lagi. Kamu … juga mau sembuh, kan?” Jay mengangkat kedua tangannya, menahan pinggul Vanya yang masi

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 53.

    Jay menelan ludah, napasnya memburu berat. Tapi wajahnya masih menimbang–nimbang untuk langkah selanjutnya. “Kamu udah nggak bisa tahan?” tanyanya, berbisik rendah. Vanya mengangguk cepat. Napasnya masih tidak stabil, wajahnya memerah padam. “Aku udah nggak nahan, Jay,” ucap Vanya parau. “Aku mohon. Aku … berasa kayak terbakar. Panas ….” Jay meneliti setiap ekspresi wajah Vanya yang terus mendesah kecil di mulutnya. Napas mereka masih bertabrakan oleh hasrat. Jay menghela napas panjang sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sebentar. Tubuhnya bergerak condong ke meja di sisi ranjang dan mengambil kondom medis yang sudah disediakan khusus oleh Dokter Hayes. Jay membuka celananya beserta dalamannya, lalu memasangkan kondom dengan tangan terlatih ke asetnya hingga terpasang rapi. Jay mengangkat wajahnya dan menangkap pemandangan istrinya yang masih menunggu suaminya dengan setia. Napas Vanya masih memburu, tapi ada kilat mata berbinar dengan senyuman manis di wajahnya

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 52.

    Vanya menegang di tempat. Napasnya terhenti sepersekian detik ketika mendengar kata ‘bersedia’ keluar dari mulut Jay.“Jay … kamu yakin?” tanyanya berbisik. Ia menatap suaminya dengan mata membulat, penuh keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan. Jay tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Dokter Hayes, dingin dan tajam.“Pastikan ini murni untuk observasi,” kata Jay pelan, suaranya rendah tapi mengandung ancaman. “Tidak ada agenda lain.”Dokter Hayes mengangguk tanpa ragu. “Murni observasi, Tuan Russell. Tujuan kami adalah menemukan formula injeksi penekan feromon yang lebih maksimal. Bukan hanya untuk kondisi normal, tapi juga di tengah krisis emosi negatif dan stres berat seperti yang sudah dialami Nyonya Russell.”Ia berhenti sejenak, menatap keduanya bergantian melalui kaca helm.“Jika kami bisa memetakan bagaimana feromon Nyonya berinteraksi dengan respons biologis Tuan Russell, kami bisa menyusun senyawa yang menahan lonjakan hormon bahkan saat tubuh berada d

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 51.

    Dokter Hayes melanjutkan, suaranya tetap profesional. “Kalian … bercintalah.” Sunyi terasa berat menyapu ruangan observasi itu. Alis Jay menukik ke atas sedikit terkejut. Napasnya mulai berat. “Apa Anda tak salah dengan observasi terakhir ini?” Dokter Hayes mengangguk singkat, lalu melanjutkan. “Saya perlu meneliti apa yang membuat Anda, Tuan Russell, mampu mencapai klimaks dengan istri Anda. Respons biologis Anda berdua mungkin saling terhubung. Jika kita tidak mengujinya secara langsung, kita hanya akan berspekulasi tanpa bukti ilmiah dan data.” Napas Jay terasa semakin berat. Vanya menatapnya, wajahnya masih memerah, tubuhnya belum sepenuhnya stabil. Hayes melanjutkan dengan tenang, “Tidak ada yang akan mengawasi. Data hanya akan diambil dari sensor hormon dan partikel udara di luar ruangan. Privasi tetap milik kalian.” Napas Vanya masih memburu. Keringat tipis membasahi pelipisnya. Dibenaknya, ucapan Dokter Hayes barusan terus terulang. Observasi terakhir. Melibatkan Ja

  • Dimanja Tuan Mafia: Dia Memberiku Segalanya!   CHAPTER 50.

    Di ujung lorong, sebuah pintu otomatis terbuka perlahan setelah Dokter Hayes menempelkan kartu akses khusus. Di balik kaca tebal itu terlihat ruangan luas dengan dinding transparan berlapis ganda. Di dalamnya terdapat satu kursi observasi, panel monitor besar, serta alat-alat yang tampak lebih seperti laboratorium penelitian daripada ruang periksa biasa. Udara di dalam ruangan itu terlihat terlalu bersih. Dokter Hayes berhenti tepat di depan pintu kedap suara tersebut dan menoleh pada Vanya. "Mulai dari sini, kita akan melihat seberapa kuat tubuh Anda sebenarnya, Nyonya Russell.” Pintu itu terbuka dengan bunyi desis pelan. “Silakan masuk.” Jay berdiri satu langkah di belakang Vanya. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Boston, ia merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Bukan karena feromon, melainkan karena instingnya sendiri. Ruangan itu terasa seperti tempat di mana rahasia tidak lagi bisa disembunyikan. Pintu ruang observasi tertutup rapat dengan bunyi des

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status